Tag Archive: subkultur


Manusia dan Budaya


Kebudayaan adalah system makna yang terkandung dalam berbagai hasil karya manusia.“ Manusia adalah hewan yang belum terbentuk ” (Nietzsche). Manusia harus mempunyai kemampuan untuk membangun sendiri dunianya karena manusia ialah mahkluk cultural, bukan mahkluk natural yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan (alam) secara naluriah.

Alam tidak dapat memenuhi kebutuhan manusia yang kompleks. Maka, manusia perlu bekerja untuk menghumanisasikan alam. Maksudnya, membuat alam menjadi bagian dari kehidupan manusia dengan mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna. “ kerja memungkinkan manusia mendapatkan kepemilikan ” (Thomas Aquinas). “ kerja menunjukkan adanya distansi antara subjek spiritual dan objek material “ (Hegel). “ kerja dapat menjadi destruktif terhadap kebebasan manusia “ (Marx). Walaupun kerja dapat mebebaskan manusia, kerja juga dapat mengalienasi manusia dengan berbagai cara : aspek perasaan beban yang mendominasi, system pekerjaan itu sendiri, depersonalisasi dalam system kerja kolektif. Manusia bekerja untuk menguniversalkan manusia dan membantu manusia menemukan kesosialannya.

Relasi manusia dan alam merupakan relasi yang diperantarakan sejak teknologi ditemukan. Maka, terjadilah peralihan system kerja.

MANUSIA-PRODUKSI
MANUSIA-MESIN
MANUSIA-PRODUKSI

Hubungan antara manusia memberi makna dalam realitas ekonomis dilihat dalam berbagai aspek :

  • Pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Juga mengandung nilai etis karena tidak hanya dibatasi dalam hitungan fisik.
  • Esensi perwujudan manusia sebagai subyek. System ekonomi itu menentukan tersedia atau tidaknya lapangan kerja.
  • Persaudaraan dalam komunitas manusia. System ekonomi dapat menghambat ataupun menumbuhkan.
  • Kekuasaan. Penguasaan system-sistem ekonomi dapat menjadi kunci kekuasaan aspek lain.

Aspek – aspek kebudayaan :

  • Hubungan kebudayaan dan manusia à manusia mengikuti pola budaya yang ada dalam konteks sosiokultural, bukan oleh aspek biologis.
  • Kebudayaan itu sendiri dihasilkan, didukung, dan di teruskan oleh manusia
  • Kebudayaan merupakan kesepakatan bersama untuk digunakan sebagai norma dalam hidup, jadi kebudayaan digunakan sebagai kerangka pembentuk yang mengorganisir kehidupan.
  • Pengaruh kebudayaan dapat atau tidak disadari.
  • Kebudayaan memberikan unsur penting dalam realitas : pandangan hidup, alam pikiranà mempolakan pikiran dan mempengaruhi tindakan.

Pandangan hidup ialah sebagai penata konseptualisasi dalam berbagai struktur. Serta aplikasinya.

  • Struktur social, ekonomi, politik, pendidikan à pola sosila, organisasi.
  • Struktur linguistic à tutur bahasa
  • Struktur kepercayaan à penerapan nilai – nila religi
  • Struktur teknologi à penerapan kemahiran teknologi

Fungsi pandangan hidup :

  • Penjelasan mengenai suatu realitas
  • Evaluasional
  • Penguatan psikologis
  • Integrasi

Kebudayaan sebagai objek dari subjek tentu menghasilkan anekaragam budaya lain.Terdapat pula dominasi serta konfrontasi. Dapat dibedakan lapis budaya yang saling berinteraksi :

  • Teknologi
  • Etos
  • Inti

UNSUR – UNSUR KEBUDAYAAN

Kebudayaan sebagai penciptaan dan perkembangan nilai yang meliputi segala yang ada dalam fisik, personal dan social, disempurnakan untuk realiasasi tenaga manusia dalam masyarakat. Sehingga, kebudayaan bersifat dinamis, bukan statis. Karena dalam aplikasinya, manusia melanjutkan usaha membudaya dengan lebih sempurna.

  • Kebudayaan subjektif. Terdapat dalam perkembangan kebenaran, kebajikan dan keindahan. Diaplikasikan dalam : kesehatan jasmani, keceerdasan budi, ketrampilan.
  • Kebudayaan objektif. Disebut juga hasil kebudayaan. Disistematiskan menurut beberapa prinsip pembagian :
    • Ilmu pengetahuan à perkembangan ilmu pengetahuan harus mengikuti dinamika moral dan kebijaksanaan.
    • Teknologi à penciptaannya harus dijiwai kasih sayang yang universal, aplikasinya digunakan untuk memanfaatkan alam guna memenuhi kebutuhan manusia.
    • Kesosialan à dibedakan secara konseptual : statis dan dinamis
    • Ekonomi à primer, sekunder, tersier.
    • Kesenian à nilai rasa keindahan.
    • Agama à merupakan jawab manusia kepada panggilan tuhan di dalam alam dan rahmat.
Advertisements

Sorotan akan pengusungan budaya ternyata tidak hanya menampakan budaya tersebut menjadi  budaya tandingan, sebagai sub-budaya yang menelusuri celah dari budaya massa dan pada akhirnya menjadi entitas baru yang hanya menandingi tetapi lebih daripada itu juga menjadi kritik akan budaya mapan. Dalam bahasan kali ini penekanan terutama berangkat dari kesadaran akan ancaman teknologi yang akhirnya menimbulkan tema budaya tandingan yang “anti” terhadap teknolog, konon kesadaran akan ancaman teknologi sudah dapat ditangkap dari mitologi Yunani Promotheus .

Memang awalnya perkembanagn teknologi di sekitar renaissance eropa antara lain yang tercermin dalam pemikiran Francis Bacon dan Rene Descartes menempatkannya di tempat yang agung, sebagai alat untuk mempertinggi kesejahteraan manusia dan pada akhirnya manusia bisa mnejadi “tuan dan empunya alam”. Pandangan tersebut tidak lama berkumandang, memilih momen perang dunia masyarakat akhirnya masuk ke tahap kritis dalam melihat teknologi tidak lagi meluli sejalan dan kongruen dengan kesejahteraan manusia, denghan kebebasan dan kemudahan yang dijanjikan , namun  terutama selepas perang dunia I dan II dalam penghayatan pengalaman manusia telah mapu menempatkan pandangan bahwa teknologi malah merupakan ancaman maupun membatasi kebebasan manusia sebagai penggantinya. Lebih lanjut,seorang  sosiolog Prancis bernama Jacques Ellul bahkan menyatakan bahwa teknik telah mampu mengintegrasikan mesin dan nilai-nilainya kedalam masyarakat dan akhirnya melahirkan apa yang ia sebut sebagai “mesin-manusia”. Berangkat  dari situ, Ellul akhirnya menyimpulkan bahwa; semua kemajuam teknologi ada harganya, teknologi baru menimbulkan lebih bnanyak masalah daripada memecahkannya, teknologi tidak dapat dipisahkan dari kemanfaatannya, semua teknologi punya hokum dampak yang belum terprediksi.  Pada kesimpulannya adalah teknologi secara sistematis memperlemah kebebasan, harga diri, dan otonomi manusia dengan  cara membatasi konsepsi kita mengenai pikiran dan rasionalitas, artinya; masyarakat diperbudak teknologi.

Teknokrasi; masyarakat yang berupaya mencapai kemajuan sosial melaui sains, penemuan dan penciptaan. Teknopoli: masyarakat yang telah menjadikan teknokrasi sebagai ideology serba dominan, sehingga alternative lain sdampai-sampai tak terpikirkan. Hal tersebut diutarakan neil Postman dalam bukunya : Technopoly: The Surrender of Culture to Technology (New York:Knopf,1992)

Pada akhirnya, ternyata permasalahan kemajuan teknologi tidak hanya mengancam secara konseptual, namun juga secara nyata, lewat dan atasnama teknologi telah terjadi ancaman kerusakan ekologi manusia, sebuah gerak yang mengantar manusia menghancurkan planet ini. Jalan keluarnya sangatlah jelas, yaitu pengulasngan terus menerus mitologi budaya tanding  sebagai kritik masyarakat massa dalam selubung ekologisnya.