Tag Archive: kapitalisme


kolonisasi


Pada tahun 1947 seorang mantan insinyur AL USA bernama William Levitt mulai membangun kawasan suburban yang pada kemudian hari menjadi kawasan paling terkenal di USA. Ia menciptakan sebuah fenomena yang dampaknya tak terlupakan bagi warga Amerika utara : rumah petak suburban. Rumah petak Levitttown ini dibangun secara massal dan seragam dengan maksud keuntungan produksi yang maksimal dan dapat diproduksi dengan kecepatan yang luar biasa. Pada masa itu, pembangun hanya mampu membangun lima rumah per tahun, namun Levitt mampu membangun tiga puluh rumah per hari dengan harga yang tak terkalahkan. Metode Levitt ini kemudian langsung ditiru oleh para developer seantero Amerika Utara.

Lewis Mumford, seorang kritikus masyarakat menggambarkan daerah suburban ala Levittown sebagai rumah seragam yang tanpa bisa dibedakan, berbaris kaku pada jarak yang seragam, di jalan yang seragam, ditinggali oleh orang – orang dari kelas yang sama dengan penghasilan yang sama, serta kelompok usia yang sama. Mumford tentu saja naik pitam. Tidak hanya rumah, bahkan ketika model bisnis waralaba menjadi sangat populer, satu demi satu area kehidupan tampaknya menjadi korban kecenderungan homogenisasi kapitalisme. Hingga lima puluh tahun kemudianpun kecemasan ini menjadi semakin akut. Dengan berkembangnya globalisasi, banyak orang takut bahwa keseragaman budaya yang telah mengharu biru di AS akan menyebar ke seluruh dunia dan menghapus budaya non barat karena menyerap semua orang ke dalam jaringan tak pandang bulu dari kapitalisme konsumen yang menggila. Lalu, akan timbul pertanyaan. Benarkah kapitalisme mengandung kecenderungan homogenisasi?

Perumahan suburban model Levittown ini tentunya ini berdampak besar pada imajinasi populer sampai sampai banyak diskusi kritis mengenai masalah urban yang sama sekali terputus dari realitas suburban modern. Bahkan ketika perumahan Levittown ini berganti strategi dalam penjualan, masyarakat urban tidak langsung tahu. Perubahan strategi penjualan rumah Levittown ini berupa “opsi – opsi” yang pada akhirnya dapat dikatakan sebagai pemesanan rumah berdasarkan keinginan konsumen itu sendiri namun tetap dengan sistem produksi yang massal. Dampak teknik konstruksi yang fleksibel ini berkembang sedemikian rupa sampai orang tak lagi membutuhkan keseragaman untuk mencapai penghematan dana yang didapat dari teknik produksi massal. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa homogenitas yang dikait kaitkan dengan sistem produksi massal bukanlah ciri intristik “masyarakat massa” melainkan hanyalah tahap dalam perkembangan daya produksi. Jika teori ini benar, kapitalisme yang membutuhkan keseragaman konsumen demi penciptaan hasrat homogen guna mengatur surplus barang yang identik seerta diproduksi secara massal, namun pada kasus ini produksi massal tidak lagi mensyaratkan produksi barang yang identik, maka sudah tidak ada lagi alasan untuk menganggap bahwa kapitalisme membutuhkan keseragaman.

Advertisements

Entah Karl Marx  menyadarinya atau tidak, sampai tulisan ini dibuat, jauh hari setelah kematiannya di tahun 1883,  lebih dari satu abad yang lalu. Pemikirannya masih terus mempengaruhi seluruh penjuru dunia. Tanpa seorang Karl Marx tidak mungkin ada serangkaian revolusi yang akhirnya menyebabkan perpecahan antar utara dan selatan[1], tidak mungkin ada revolusi Lenin di Uni Soviet pada tahun 1917 yang menggulingkan sang Tsar yang agung menurut narasi feodalistis  tidak mungkin ada  ;  singkatnya kapitalisme yang dianggap Karl Marx sebagai musuh bagi peradaban secara umum belum dapat dikalahkan,classless society sebagai cita-cita sekaligus tujuan akhir pemikiran Marx sampai hari ini belum dapat terwujud. Sebaliknya Kapitalisme yang jadi musuh malah langgeng  bahkan malah semakin besar karena kapitalis jadilah classless society yang diidamkan Marx sebagai utopia.

Sekalipun pemikiran Karl Marx pada akhirnya dianggap masih belum dapat mampu lepas dari ranah utopia ke ranah praksis, pemikiran Marx masih terus diperbincangkan dalam upaya pembaharuan artinya jelas, konsepsi kapitalime sebagai musuh besar penderitaan kaum buruh maupun tentang ramalan kehancurannya, class society sebagai jalan keluar  masih diminati masih relevan dengan tuntutan adab yang selalu bergerak, seperti materialisme dialektis dalam kesejarahan yang dijunjungnya. Dalam pembahasan kali ini penulis membatasi analisis pada teori Karl Marx serta tawaran Antanio Gramscy dalam upaya pencarian kegagalan setelah serangkaian kegagalan Marxisme awal dan tentu berbagai kekurangan di dalamnya.

Serangkaian pemikiran Karl Marx dimulai dengan materialisme dialektisnya yang juga memperhatikan penyejarahan, di sini titik berangkat Marx dapat dipahami secara singkat bahwa sebenarnya society tidak lepas dari tahapan-tahapan penyejarahan yang terus berkembang dan berdialektis khas Hegelian; dimulai barbar society sebagai thesa, capitalism society[2] (anti-thesa), dan pada akhirnya cllassless society sebagai sintesis antar keduanya. Melalui pemahaman ini, arah pemikiran Marx jelas, yaitu bahwa setelah melewati tahap barbarian, society akan berjibaku di tahap capitalism society dimana kaum buruh/proletariat dibuat dengan sukarela menerima dan melanggengkan keinginan para pemilik modal, yang dapat muncul menurut Marx karena adanya kepemilikan pribadi celakanya kaum buruh tidak menyadarinya karena ada kesadaran palsu yang melekat padanya. Kesadaran palsu dilanggengkan kaum pemilik modal melalui ideologi yang bergema di ranah superstucture dalam masyarakat, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada basis struktur masyarakat yaitu ekonomi. Adapun yang dimaksud sebagai suprasructure adalah institusi agama,pendidikan,media massa dan sebagainya[3]. Classless society akan dapat tercapai disaat kapitalisme menemui kehancurannya sendiri dan pada akhirnya kaum buruh akan menyadari bahwa selama ini mereka berada pada tatanan kesadaran yang palsu, false conciousness. Disini dapat disimpulkan bahwa ternyata ideologi menurut Marx telah salah membaca realitas akibatnya, hal ini dimungkinkan karena ideologi merupakan badian dari superstructure dan pada akhirnya ideologi membuat kesadaran tereduksi.Jelas juga “kejahatan” kapitalisme yang dimaksud oleh Marx, yaitu di saat kaum buruh yang menerima dengan sukacita segala realitas yang ada dan akhirnya terasing dengan kerja yang seharusnya menjadi wujud aktualisasi diri manusia[4] karena ia terasing dengan komoditas yang ia ciptakan.

Sekilas memang pemikiran sekaligus ramalan Karl Marx soal munculnya classless society beriringan dengan kehancuran kapitalisme seakan cukup rigit, bahkan sempurna. Namun perihal kegagalan revolusi yang mendasarkan pada konsepsi Marx terkait  tidak lagi dapat dipungkiri. Bahwa mungkin ada kesalahan akan prakteknya ataupun bahkan penafsirannya pada pembahasan kali ini terpaksa penulis singkirkan, hal tersebut tidak lain karena tanpa kesalahan di level praktispun banyak pemikir yang merasa ada kekurangan mendasar pada konsepsi Marx dan dalam peembahsan kali ini penulis mencoba memaparkan apa saja kekurangan dari konsepsi Marx atas dasar kerangka pikir Antonio Gramscy.

Antonio Gramscy, dalam kritiknya akan konsepsi Marx yang telah dibahas di atas, memulainya dengan menjabarkan bahwa Marx telah salah menganalisa  letak sebenarnya dari ideologi. Ideologi menurut Marx sesungguhnya merupakan false conciousness (kesadaran palsu) yang sesungguhnya serat kepentingan, dalam hal ini adalah kepentingan kaum pemilik modal. Lebih jauh menurut Karl Marx, ideologi terletak di suprastructure walaupun ideologi sebenarnya merunut deteminasi dari basic structure. Menurut Gramscy letak sesungguhnya dari ideologi yang telah menyebabkan kesadaran palsu bukanlah merupakan gagasan apalagi determinasi dari basis ekonomi melainkan menyangkut tuturan kata,sikap dalam ranah keseharian, Gramscy membawa ideology pada practical things bukan lagi pada tatanan konseptual. Inilah kritik pertama Gramscy terhadap Marx, namun kritik pertama ini punya implikasi lanjutan, sebagai konsekuensi logisnya dan akan mendasari kritik-kritik selanjutnya. Yang selanjutnya dikritik oleh Antonio Gramscy adalah tidak ada lagi kesadaran partikular, kesadaran kelas. Alasan Gramscy adalah ideologi yang katakanlah membentuk kesadaran (palsu) berada pada practical things, yang kemudian menunjuk popular conciousness .Popular conciousness mengindikasikan bahwa kesadaran yang ada di sini adalah kesadaran populer, artinya milik semua orang tanpa memandang kelas. Jadi jelaslah mengapa Gramscy dapat mengatakan bahwa tidak ada kesadaran kelas.Pertanyaan selanjutnya adalah, kalau ruang ideologi hanyalah pada ruang popular conciousness lalu bagaimana ideologi mampu menjerat ruang-ruang lainnya sehingga kapitalisme bisa berjalan sebagai totalitalitas kemasyarakatan (society). Menjawab pertanyaan itu, Antonio Gramscy menawarkan konsepsi hegemoni sebagai jawabannya. Menurutnya ideologi dapat melanggengkan cengkramannya dengan bantuan hegemoni yang menurutnya bisa berupa hegemoni sebagai coercive apparatus (polisi, tentara, dll)[5] namun tujuan tetap sama yaitu dengan jalan memenangkan sekaligus menguasai konsepsi (ideas) melalui persetujuan. Menurutnya letak hegemoni berada dalam ranah civil society, bukan pada political ataupun economics. Keberadaan hegemoni[6] mengindikasikan keberadaan otoritas yang mneciptakannya sekaligus menggunakanya. Menurut Gramscy, hegemoni yang bekerja di semua aspek ini mempostulatkan penciptanya sekaligus pengaturnya.hegemoni terinternalisasikan dalam diri individu sehingga keberadaan The ruling authority[7] dapatlah dilacak. Namun harus dipahami bahwa sekalipun Gramscy memperkenalkan dua macam hegemoni, ia cenderung menitikberatkannya pada hegemoni yang bergerak pada dan sebagai bermacam-macam institusi dari civil society bukan sebagai coercive apparatus. Seperti apa yagn tercermin dalam kutipan ini : “What we can do, for the moment, is to fix two major superstructural ‘levels’: the one that can be called ‘civil society’, that is the ensemble of organisms commonly called ‘private’, and that of ‘political society’, or ‘the state’. These two levels correspond on the one hand to the function of ‘hegemony’ which the dominant group exercises throughout society and on the other hand to that of ‘directed domination’ or command exercised through the state and ‘juridical government’.”[8]

Perbedaan antara Karl Marx dan Antonio Gramscy yang lain adalah mengenai jalan menuju tujuan mereka yang sama yakni runtuhnya kapitalisme dan kemunculan classless society sebagai gantinya. Menurut Marx, seperti yang telah diuraikan pada bagian awal pembahasan ini, revolusi dalam upaya mencapai tujuan akan menunngu runtuhnya kapitalisme akibat sitemasi kapitalisme itu sendiri[9] baru proletariat mampu menyadari kalau selama ini mereka terjebak dalam false consiousness yang sama sekali tidak berkorespondensi dengan realitas material kemudian melalui revolusi itu classless society barulah dapat terbentuk. Sebaliknya, Gramscy berpendapat bahwa revolusi yang diidamkan dapat tercapai  tidak hanya dengan satu jalan, karena sekalipun ideologi telah dilangggengkan dengan hegemoni dari kepentingan kaum pemilik modal sejatinya masih terdapat rongga. Rongga tersebut tidak lain adalah ruang dimana organic intelectual dapat mengisinya,yang kemudian dapat memimpin perlawanan. Disinilah pentingnya  peran partai politik[10] menurut Gramscy yakni mengisi celah sempit tersebut dan mempersiapkan organic intelectual yang diharapkan menjadi penyadar bagi proletariat dan memahami sekaligus menemukan kesadaraan kelas sesunggunya ataupun kepentingan ekonomi mereka. Sehingga pada akhirnya organic intelectual kaum buruh akibat telah memiliki kesadaran yang sesungguhnya dan mampu mengidentifikasi hegemoni yang menjerat mereka selama ini, berangkat dari situ kaum buruh sesuai dengan terminologi yang diperkenalkan Antonio Gramscy terlebih dulu dipersiapkan sebelum pada akhirnya bermanoevre pada perang sesungguhnya, revolusi. Jadi, menurut Gramscy upaya mewujudkan revolusi yang diidamkan tidak berhenti samapai menunggu kegagalan kapitalisme,melainkan haruslah ada tindakan aktif yang pada akhirnya secara tidak langsung akan menetapkan kapan revolusi berlangsung berdasar pada kesiapan kaum buruh bukan lagi ditentukan oleh blunder kaum kaiptalis. Ideologi jelas bukanlah satu-satunya cara.

Apa yang membuat Antonio Gramscy begitu berbeda dengan konsepsi awal Marx adalah, Gramscy menwarkan terminologi dalam pemikirannya yang lebih dalam tendensi kedekatan akan aspek kultural yang juga menekankan aspek moral dan intellectual tidak melulu lagi layaknya Karl Marx yang terlalu menekankan aspek ekonomi sebagai keutamaan pemikirannya. Gramscy menolak determinisme ekonomi yang mekanistis. Namun sekalipun pemikiran Gramscy dalam upaya penyempurnaan terhadap apa yang dianggapnya “kurang” dari konsepsi Marx, apa yang ditawarkannya sebagai jalan keluar ternyata masih mengandung berbagai kelemahan terkusus permasalahan intelectual organic yang dipersiapkan lewat rongga dari heggemoni kaum pemiklik modal oleh partai komunis, di rongga itu diharapkan partai komunis mampu mempersiapkan, namun sejauh mana Partai Komunis memberikan didikan yang “benar-benar benar”. Karena bukankah dengan penggantungan harapan pada partai komunis seperti yang diutarakan Gramscy sama artinya mempercayai bahwa Partai komunis layaknya Dewa yang mampu memutus dengan kesempurnaan, paling tidak mana yang baik dan mana yang buruk bagi masyrakat. Tidak hanya sampai disitu, ada keraguan bagaimana partai komunis mampu lepas dari jebakan akan hegemoni yang dikritiknya,hegemoni yang sarat kepentingan satu pihak dan “memaksa” pihak lain.

Berangkat dari apa yang telah dijabarkan sepanjang pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ternyata Marx dan Gramscy sepakat soal menempatkan ideologi dan kapitalisme sebagai tantangan utama menuju revolusi, bahwa kemudian Gramscy mmenambahkan tema hegemoni tetap dalam kesamaan dengan pemikiran Marx. Namun, perbedaan antar keduanya layaknya dua kutub berbeda, yang harus digarisbawahi adalah ternyata perbedaan yang sebenarnya berangkat dari kesamaan keduanya bisa muncul karena penafsiran yang berbeda,  setidaknya ada satu kesamaan yang pada akhirnya tidak tercerna menjadi perbedaan, yakni menolak akan keberadaan sesuatu dalam nilai mutlak dan pada akhirnya mengesampingkan keberadaan sang lain, yang kemudian hari kita dapati menjadi cirikhas era posmodern.


[1] Memang acuan geografis, namun tidak sebatas itu melainkan juga karena perbedaan ideologi antarnya.

 

[2] Dalam artian society yang realitaasnya diisi kesadaran palsu , kesadaran yang dibentuk kapitalist

[3] Santoso, Listiyono. Dkk. 2007, Epistemologi kiri,Jogjakarta:Ar-Ruzz Media. Hlm26

[4] Hal ini sejalan dengan pandangan Marx terhadap realitas, bahwa realitas sesungguhnya hanya terdiri soal material belaka, Matterialisme sebagai junjungan ontologis pemikirannya.

[5] Routledge Ensclopedia of philosophy. Hlm 3227

[6] Hegemoni dalam penekannya mengidentikan kata ini sebagai kata kerja, sehingga penggunaan kata hegemoni disini tidak mungkin dalam tendensi pasif.

[7] Dalam hal ini adalah kaum pemilik modal.

[8]

[9] Yaitu di saat kapitalisme menggiring penggantian tenaga buruh dengan mesin sehingga buruh dirumahkan, tidak mendapat gaji akan kehilangan daya belinya. Sehingga pada akhirnya akan membuat surplus supply yang dasyhat namun demmand yang minimalis.

[10] Partai politik disini mengacu pada partai sosialis dan partai komunis Italia, Gramscy telah mencoba jalan ini dengan terlibat langsung, bergabung dengan partai sosialis di awal perjalanan politiknya maupun partai komunis Italia dimana ia akhirnya menjabat sebagai Sekjen partai tersebut sebelum dipenjara oleh rezim facis pimpinan Musolini.