Tag Archive: Buddhisme



Meditasi

Meditasi mungkin didefinisikan sebagai memikirkan terus menerus atas sesuatu atau tentang sesuatu. Sedikit banyak, oleh karena itu siapapun yang memikirkan terus menerus atas sesuatu mungkin dapat dikatakan terlibat dengan suatu meditasi. Jika kita ingin menjadi sesuatu, kita harus meditasi terhadap keinginan tersebut dan tidak ada yang lainnya lagi. Oleh karena itu jika tujuan kita adalah mencapai kenyataan atau menginginkan hasil yang dicapai menjadi satu dengan yang Paling Besar, maka obyek dari meditasi haruslah yang Paling Besar tersebut dan tidak ada lainnya lagi.

Meditasi adalah suatu proses. Ini adalah suatu proses dimana kita menjalankannya guna mencapai sebuah tujuan yang ingin dicapai, yaitu suatu tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya atau sudah dikodratkan. Meditasi adalah sebuah pelatihan yang menggunakan pikiran untuk tujuan mengatur pikiran dengan usaha kita. Meditasi adalah aktivitas yang paling penting, kalau kita intin membuat disiplin diri kita sendiri. Karena pada awalnya hal ini akan memungkinkan terjadinya disiplin mental, kemudian hal ini akan memungkinkan terjadinya disiplin fisik, mengatur kehidupan kita, memberi ketentraman di dalamnya, menghasilkan disiplin mental yang lebih besar dan lebih besar, menghasilkan dukungan terhadap dirimu sendiri, semacam perputaran yang menopang diri kita untuk membuat tujuan kita dapat dicapai. Oleh karena itu tanpa sedikit kedisiplinan tujuan tidak dapat dicapai. Jadi suatu tujuan memungkinkan untuk dicapai selama kita mempunyai kedisiplinan di dalam diri kita.

Jika tidak ada disiplin mental, disiplin fisik tidak dapat terjadi. Itulah mengapa kita meditasi. Untuk memperoleh pengaturan terhadap pikiran, membuatnya menjadi disiplin, membuatnya memungkinkan bagi kita untuk menggunakan pikiran kemanapun kita memilihnya, menggunakan pikiran, tidak menggunakan pikiran, menggunakan pikiran – dengan demikian mencapai 100 % kekuatan pikiran.

Membaca kemudian berpikir secara mendalam termasuk meditasi

Karena :

  • membaca kemudian memikirkan terus menerus atas sesuatu atau tentang sesuatu sama halnya dengan ketika melakukan meditasi.
  • Meditasi adalah suatu proses. Membaca kemudian berpikir secara mendalam juga termasuk sebuah proses.
  • Meditasi adalah sebuah pelatihan yang menggunakan pikiran untuk tujuan mengatur pikiran dengan usaha kita. Ketika kita membaca, kemudian kita berpikir secara mendalam mengenai hal tersebut, kita menggunakan pikiran kita dan berusaha mengatur pikiran kita untuk mengerti dan memahami serta terkadang mengkritik apa yang kita baca tersebut.
  • Membaca kemudian berpikir secara mendalam juga termasuk dalam kekuatan pikiran. Sama seperti ketika bermeditasi.

Maka, pantaslah jika dikatakan membaca kemudian berpikir secara mendalam termasuk dalam meditasi. Karena, meditasi bukan berarti hanya diam dan memerhatikan nafas, yoga, dll. Tapi, meditasi juga termasuk dalam kegiatan kegiatan positif lain yang menggunakan fokus pikiran dan hati.  Karena dalam bermeditasi, dapat digunakan berbagai objek untuk mendukung kegiatan  bermeditasi.

Advertisements

Percaya berarti mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata.

Yakin berati tahu atau mengerti dengan sungguh – sungguh.

Percaya merupakan pondasi dari iman. Percaya memiliki fatalisme, karena berpijak semata – mata kepada sedikit nalar dan didominasi oleh latar emosionil, hubungan, ikatan tertentu, dll. Sering disebut juga sebagai “blind faith”. Contoh kasus profokasi beberapa tahun lalu sempat marak: menggerakkan massa & kemudian bertindak anarkis. Dasarnya cuma percaya; bisa karena yang memprovokasi adalah pemimpin yang dikagumi, sanak famili yang mengajak, atau akatan organisasi keagamaan yang dianut. Artinya, percaya ataupun tidak percaya, bisa timbul tanpa didahului pembuktian. Abang ruang lingkup makna “percaya”.

Yakin, memiliki nilai kukuh, jauh lebih mantap daripada percaya. Ada fase analisa dan pembuktian yang mendahului hingga bisa timbul suatu derajat keyakinan. Pembuktian itu sendiri memiliki beberapa metode: analisa logis, perenungan/kontemplasi pd diri sendiri, penghubungan pengalaman, & “test-drive” langsung.

Ehipassiko – datang, lihat, dan buktikan, Ven.Dr. W. Rahula, “What the Buddhis Taught” Buddhadhamma adalah selalu merupakan pertanyaan tentang pengetahuan dan pembuktian; bukan tentang kepercayaan. Ajaran Buddha memenuhi syarat sebagai Ehipassiko, mengundang Anda untuk datang, dan membuktikan, bukannya datang dan percaya. Berkaitan dengan ini berarti prinsip Buddhis bukan ‘Datang dan Percayalah’ akan tetapi ‘Datang dan Buktikanlah atau mari buktikan’. Dari pernyataan di atas jelaslah bahwa ajaran Buddha berkecenderungan beranjak dari pengetahuan atau ilmiah dan bukan berdasarkan kepercayaan yang membuta. Sesungguhnya keyakinan seseorang menjadi kuat apabila sesuatu yang menjadi dasar pengetahuan mereka karena telah membuktikan kebenaran tersebut secara akurat ketimbang hanya percaya pada apa yang tertulis kendatipun itu berasal dari kitab suci yang diyakini.

Maka kita harus yakin dan bukan percaya. Karena yakin berarti sudah berada pada level yang lebih berpondasi kuat dibanding jika kita hanya percaya. Ajaran Budha harus diyakini bukan dipercaya karena dengan meyakini sesuatu berarti kita juga telah percaya dan juga telah menelaah sesuatu tersebut dengan baik tidak sekedar menerima sesuatu tersebut secara apa adanya.