Membicarakan pendidikan tentunya bukan merupakan sesuatu yang asing, kata pendidikan telah mampu membuat kita memasuki sekolah sebagai upaya menjadi terdidik, kata pendidikan juga telah mampu membuat strata; antara yang terdidik sebagai strata atas sedangkan tidak terdidik menjadi strata bawah. Berangkat dari implikasi yang mungkin diiciptakan, pertanyaan selanjunya adalah apa itu pendidikan yang dengan kehadirannya bisa menjadi alasan yang membuat kita bergerak dalam tata keniscayaan yang termuat di dalamnya. Kata pendidikan secara harafiah berasal dari kata dasar “didik”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga terbitan Balai Pustaka mengartikan pendidikan sebagai perbuatan (hal, cara, dsb) mendidik; pengetahuan tentang mendidik[1]. Definisi yang ditawarkan oleh KBBI  memang kurang mencukupi, pasalnya pembahasan dalam filsafat pendidikan tidak akan berhenti sebatas pengertian harafiah karena pengertian harafiah yang selama ini dimengerti masyarakat mengartikan pendidikan cenderung hanya pada arti sempit saja yakni sebagai proses belajar mengajar di dalam lingkungan sekolah. Sedangkan dalam “Philosophy of Education”  menyatakan pendidikan tidak hanya sebagaimana yang ada di sekolah, melainkan juga dalam arti luasnya yakni segala proses kedirian manusia yang selalu dalam kemenjadian (becoming-ness), juga sebagai proses pembebasan. Bahwa ternyata dalam pembahasan kali ini penulis memfokuskan analisis terhadap pendidikan dalam arti sempit adalah konsekuendi dari kerangka pikir yang penulis pergunakan yaitu behaviorisme, yang kurang lebih sangat signifikan keberadaannya pada pendidikan dalam arti sempit, sekalipun begitu bukan sama sekali berarti bahwa pendekatan behaviouristis tidak dapat digunakan dalam pendidikan dalam arti luas. Jadi, pendidikan selalu berada dalam tendensi yang menghantar pada muara yang ingin meningkatkan derajat kemanusiaan dari manusia, seperti yang tertuang dalam kalimat berikut:

The unexamined life is not worth living for a human being”[2]

Kalimat yang dikumandangkan Sokrates tersebut menekankan dua hal penting yang akhirnya menjadi pendasaran dalam perjalanan sejarah filsafat sampai hari ini; penekanan pertama yang dapat ditarik dari kalimat tersebut adalah bahwa manusia memilki peranan penting dalam apa yang disebutnya dalam rangkai univers (mikrokosmos maupun makrokosmos) dan yang kedua, berangkat sebagai runutan penekanan pertama adalah sejatinya kehidupan manusia hanya dan akan berarti apabila manusia menjunjungnya sebagai serangkaian uji yang dalam tata keniscayaan membawa kebaikan yang lebih setiap uji. Inilah pendidikan dalam ranah filosofis, yang walaupun “hanya” menjadi minor dalam topik filosofis namun  implikasinya sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia dalam konteks human being. Jadi jelaslah pendidikan adalah sebuah proses menjadi, dimana manusia digiring ke tingkat yang lebih tinggi kemanusiannya. Juga dalam semangat yang sama yang dijunjung socrates, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan yakni Ujian Nasional sebagai pamungkas dari runutan teknologi yang dijunjungnya,sadar tidak sadar. Lalu yang menjadi persoalan apakah Ujian Nasional yang perhelatannya selalu menjadi ranah yang mengundang perdebatan selaras dengan tujuan awal pendidikan , inilah yang akan menjadi pembahasan kali ini. Penulis akan mencoba menelaah dan menalar keberadaan Ujian dengan pendekatan behaviouristik sebagai sarana analisisnya.

Tawaran Behaviorisme: Teknologi dalam Pendidikan

Sekalipun mungkin definisi pendidikan dapat diterima secara universal, namun sama sekali berarti bahwa permasalahan terkait pendidikan sebagai proses menjadi akan memiliki acuan tuunggal. Sebaliknya, pertanyaan lanjutan yang muncul mengenai bagaimana proses menjadi (pendidikan) dapat dijalankan dengan baik menjadi pembahasan utama dalam filsafat pendidikan, bukan lagi pendidikan sebagai narasi deskriptif. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, penulis akan menggunakan behaviourisme sebagai pisau analisis. Sebelumnya haruslah apa yang dimaksud dengan behaviourisme. Behaviourisme, seperti yang tertempel pada namannya menitik beratkan segi sikap dan perilakunya (behave) dalam memandang manusia, berangkat dari pemahaman tersebut behaviorisme meyakini bahwa segala perilaku ataupun kelakuan manusia seluruhnya adalah soal determinasi, manusia sebagai salah satu organisme akan berkelakuan ataupun bertindak sebagai respon dari apa yang masukan dari lingkungan sekitarnya, tindakan ataupun respon dari stimulus yang berasal dari luar dirinya, lingkungan sekitarnya itu adalah keluarannya. Secara singkat, behaviourisme menekankan pada; stimulus-respons, pengkondisian, reward/punishment sebagai kerangka utama dalam pendidikan[3]. Pendasaran B.F Skinner berawal dari percobaan yang dilakukan Ivan Petrovitish Pavlov dengan anjing sebagai medianya, secara singkat eksperimen dari Pavlov dibagi dalam tiga tahapan yakni :

  • Unconditional stimulus, dimana dalam tahap ini anjing diberi makan tanpa ada stimulus lanjutan, anjing diberi makan seperti pada umumnya.
  • Conditional stimulus, pada tahapan ini Pavlov sebelum menyediakan makanan bagi sang anjing membunyikan bel terlebih dahulu, dan dilanjutkan sebagai pembiasaan. Jadi, sebelum anjing tersebut diberi makan selalu dibunyikan bel sebagai stimulusnya.Disini anjing telah mulai dikondisikan, dibiasakan bahwa setiap bel berbunyi pasti ada makanan.
  • Conditioning stimulus, dimana Pavlov bereksperimen dengan membunyikan bel sebagai stimulusnya tanpa memberikan makanan pada anjing tersebut, dan ternyata dengan stimulus bel telah mampu membuat enzim-enzim pencernaan sang anjing mengalir sekalipun tanpa ada makanan.

Yang hendak disampaikan dalam percobaan yang dilakukan Pavlov adalah bahwa ternyata refleks terkondisi dapat dimanipulasi, sehingga didapatlah kesimpulan bahwa refleks-refleks juga dapat dilatih, dikondisikan, dikembangkan secara buatan, dengan kata lain ada proses belajar disini dengan menyertakan pengkondisian.

Berangkat dari pemahaman tersebut B.F Skinner menyatakan bahwa manusia pun serupa,semua organisme pun pasti begitu. Konsekuensi lanjutan terkait dengan pembahasan kali ini yakni pendidikan adalah pendidikan sebagai proses, sebagai pembelajaran bukan lagi menitik beratkan pada aspek kognitif yang terkandung dalam diri manusia, melainkan manusai haruslah dipahami sebagai organisme yang memiliki respon instingtual namun tidak lebih adalah tabularasa yang layaknya kertas putih bersih adalah kekosongan dalam internal kediriannya, sehingga aspek mental dalam kedirian individu sudah tidak relevan lagi keberadaannya kalau ingin mencapai pendidikan yang baik. Pendidikan yang baik hanya dapat dicapai apabila ada teknologi yang mampu mengatur dan mengarahkannya, dimana pendidikan tersebut dalam titik berat haruslah berangkat dari observasi terhadap stimulus-respon yang  objektif dan terukur dengan baik sehingga akan didapat stimulus yang dapat menghasilkan respons yang tepat dan sesuai dengan apa yang hendak dicapai pendidikan, jadi bukan permasalahan kognitif apalagi kecendrungan manusia dalam keotonomannya, inilah teknologi yang ditawarkan kerangka behavioristik B.F Skinner untuk dapat juga diaplikasikan pada manusia sebagai proses pendidikannya.

Ujian Nasional: Sebuah pamungkas teknologi dalam Pendidikan

Ujian Nasional merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan di bawah tanggung jawab Departemen Pendidikan Nasional, yang mana menjadi penentu kelulusan seorang siswa setelah melewati masa studinya kurang lebih 3 tahun[4]. Setiap siswa yang lulus dari ujian nasional baru dapat dikatakan lulus dari serangkaian masa studinya dan mendapat tanda kelulusan yang berupa ijasah dari Departemen Pendidikan nasional. Artinya, keberadaan ujian nasional masih diharapkan dapat menjadi pamungkas bagi rangkaian teknologi mutakhir yang telah diselenggarakan selama tiga tahun. Sekalipun keberadaan Ujian Nasional sebagai agenda tahunan bagi Indonesia, namun tetap saja menuai kritik yang tiada habisnya. Namun dalam pembahasan kali ini penulis tidak akan membahas segala perdebatan tersebut melainkan menghadirkan wacana Ujian Nasional sebatas upaya memperkenalkannya sebagai salah satu rangkaian akhir dari runut teknologi yang mana mencoba mengatur segala prilaku siswa terkait.

Seperti halnya teknologi elektronik yang mempunya sistemasi yang kompleks namun selalu bergerak dalam tata keniscayaan, teknologi dalam pendidikan juga serupa. Dalam artian ini, pendidikan juga membutuhkan perangkat dan sistemasi yang layak sehingga pada akhirnya dapat mencapai tujuan akhirnya. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya bahwa ternyata keutamaan dari teknologi dalam pendidikan memang dalam cakupan stimulus-respons, namun dalam tuntuan behaviouristik yang cenderung positivis dan empirik dibutuhkan suatu dalam wujud yang konkret, nyata. Artinya dalam rangka pencapaian tujuan akhir mrnurut pendekatan behaviouristik dibutuhkan sistemasi yang mampu menghasilkan data dalam wujud yang empirik dan terukur dalam upaya menganalisa agar dapat dikawal guna mencapai tujuan akhirnya. Sehingga keberadaan ujian nasional dalam kerangka behaviouristik adalah mutlak adanya, karena ujian nasional adalah momentum guna mencapai data-data sekaligus menjalankan fungi lainnya.  Adalah Ujian Nasional yang penulis pikir mencukupi kriteria tersebut, namun haruslah juga dipahami bahwa Ujian Nasional merupakan hanya merupakan salah satu bagiannya saja, dengan kata lain Ujian Nasional mengandung sifat parsial bukan mencakup semua tubuh dari teknologi yang kita bicarakan karena seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa ujian nasional merupakan runut pamungkas atau puncaknya saja.

Sebelum berangkat lebih jauh, haruslah dimengerti bahwa teknologi yang penulis bicarakan merupakan serangkaian tekhnik yang diharapkan mampu menghasilkan satu respon dari siswa yang dianggap baik, dalam acuan pendidikan faktual di Indonesia hal ini berarti menciptakan siswa yang bisa bertahan (survive) dalam setelah kelulusan, dalam artian ini adalah siswa yang memiliki kompetensi dasar dari permintaan dunia kerja, sistem dari teknologi yang dimaksud disini adalah kurikulum dalam pendidikan itu sendiri. Selain itu harus dimengerti pula bahwa ujian nasional juga menjalankan fungsi sebagai sistemasi yang mampu menghasilkan statistik betapa besar kementakan suatu kelakuan[5]. Jadi, ujian nasional kurang lebih memang berfungsi untuk menghasilkan data yang kemudian dari data tersebut dapat dianalisis apakah sistemasi yang terkandung dalam teknologi pendidikan selama kurang lebih tiga tahun masa studi siswa sudah tepat atau malah tidak berhasil. Berangkat dari pemahaman tersebut wajar saja ujian nasional hanya mencakup mata pelajaran tertentu tanpa menyertakan mata pelajaran lain yang karena memang paham behaviouristik yang selama ini dianut mengharuskannya mencapai suatu yang terukur dan konkret sehingga mental ataupun afeksi siswa sudah tidak relevan lagi di dalamnya.

Selain itu keberadaan ujian nasional juga mempertegas adanya enforcement yakni secara harafiah kurang lebih diterjemahkan sebagai penguat, yang mana terdapat penguat yakni penguat positif (reward) dan penguat negatif (punishment). Tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan Tyodor Dostyevski pada “Crime and Punishment” bahwa sejatinya peran punishment ataupun enforcement dalam hal ini baik enforcement yang positiv ataupun enforcement yang negativ adalah bukan sekedar menghukum, akan tetapi mempertegas mana yang dianggap menyimpang dari tujuan dan mana yang sesuai. Berangkar dari situ, individu pada akhirnya akan tahu ataupun sekedar terbiasa dengan tujuan yang selama ini hendak dijunjung. Selama masa studi siswa yang kurang lebih tiga tahun tentu sudah akrab dengan konsepsi ini, siswa yang mendapat nilai bagus akan mendapat penghargaan berupa pujian ataupun piala dalam bentuk nyatanya, sedangkan siswa yang dianggap memberi respons tidak sesuai (dalam artian ini mendapat nilai jelek ataupun tidak sesuai dengan sistemasi yang sudah ada ) akan diberi hukuman berupa teguran lisan ataupun tidak naik kelas., dalam konteks ujian nasional siswa yang dianggap merespon secara tepat pasti akan mendapat nilai bagus dan lulus, respons yang dibicarakan disini adalah rajin belajar, mendengar apa yang disampaikan pendidik, sebaliknya siswa yang memiliki respon malas belajar sekalipun kreatif akan diluruskan kembali ke tujuan awal dengan “punishment” (hukuman). Jelas bahwa ternyata tidak terelakan bahwa sesungguhnya ujian nasional juga tetap menjadi suatu eksperimen belaka, data yang dihasilkan ujian nasional akan membberi informasi bagi “pengontrol” yang dalam hal ini adalah pembuat kurikulum untuk menjawab pertanyaan apakah kurikulum yang dipakai selama ini sudah mumpuni atau malah gagal. Jadi sebenarnya apa yang hendak dicapai dari teknologi pendidikan disini adalah upaya dari manusia yang ingin kelakuannya dikontrol dalam hal ini melalui pendidikan agar kelakuan manusia yang sebenarnya “hanyalah” sekedar respon tidak lagi dihasilkan oleh faktor lingkungan acak atas nama kebebasan, namun apa yang akan menstimulus respon siswa dicoba dirancang sedemikian rupa agar rasional, tidak lagi secara acak.

Konsekuensi Pemdidikan dalam kerangka Behaviouristik

Pendidikan tipe behaviouristik dengan segala kecendrungannya telah membawa beberapa implikasi lanjutan yang tidak dapat terhindari. Implikasi tersebut yang telah disinggung pula secara singkat dalam pembahasan sebelumnya antara lain adalah; karena sistemasi pendidikan yang sedemikian rupa ketat telah mengabaikan aspek kedirian dan kecendrungan pribadi telah membuat siswa kehilangan kreatifitasnya dan bahkan aspek kritis dari siswa telah hilang begitu saja. Proses belajar mengajar yang dimungkinkan pun menjadi proses yang satu arah, yakni dari pengajar yang “penuh” kepada siswa yang dianggap kosong, artinya jelas pengalaman kedirian siswa dan tendensi pribadi dari siswa tidak diperhitungkan sejauh tidak ada relevansinya dengan kurikulum.

Lebih jauh, manusia otonom yang selama ini kita kenal dalam perjuangan kaum eksistensialisme pun telah dinegasikan dengan sendirinya, hal tersebut dikarenakan aktualisasi diri hanya dapat dilakukan melalui jalan yang seragam. Siswa yang baik hanya ada satu jenis, yakni siswa yang mengikuti sistem dengan baik, dalam kaitannya dengan pembahasan ini sama artinya dengan mempostulatkan ujian nasional sebgai indikator keberhasilan seorang siswa selepas ujian nasional ataupun sistemsi pendidiakan tersebut sudah sempurna ataupun malah tidak mengakomodir beberapa aspek dalam kemanusiaan. Pada akhirnya kebebasan tiap individu pun telah lenyap, karena opsi untuk mengaktualisasi kebebasan individu telah ditutup atas nama tujuan yang belum tentu disepakati tiap individu, akan tetapi tiap individu haruslah mengikutinya, apabila tidak ia akan diberi negative enforcement.Kurang lebih tercermin dari apa yang dikatakan Jean-Jacques Rousseau dalam Emile, Book I[6]: “Everything is good as it leaves the hands of the Author of things;

everything degenerates in the hands of man”. Semua kebaikan hanya terpusat berasal dari sang pembuat kurikulums sebagai pengontrol laku pendidikan dalam keseharian, namun di saat tangan individu mencoba menggugatnya maka seakan-akan hal tersebut malah terkesan menjadi kemunduran. Apa yang hendak ditegaskan adalah bahwa individu telah kehilangan akses terhadap apa yang diinginkannya, semua hanya terpaku pada kurikulum yang ada.

Kesimpulan

Apa yang dapat disimpulkan dari pembahasan di atas adalah pendidikan dalam kerangka behaviouristik tidak relevan lagi membicarakan konsepsi terkait mental manusia. Menurutnya pendidikan harus bergerak sebagai sebuah teknologi yang mampu mengatur dan mengarahkan perilaku manusia menuju kebaikan, kebaikan disini berarti apa yang mampu membuat manusia survive menghadapi dunia kerja selepas pendidikan, mempertahankan hidupnya. Dengan kata lain manusia haruslah dipandang tidak lagi sebagai manusai otonom, jangan lagi membicarkan kehendak manusia karena hal tersebut hanya akan membawa manusia pada kekosongan belaka, tidak ada jawaban yang dapat dicapai apabila pendidikan berkutat disitu padahal tugaas analisis ilmiah adalah menjelaskan bagaiman kelakuan seseorang sebagai sistem fisik dengan kondisi perkembangan manusia dan dengan kondisi-kondisi kehidupan individu masing-masing.

Namun ada kelemahan dari sistemasi pendidikan dalam kerangka behaviouristik juga tentunya ujian nasional sebagai tahapan akhirnya yakni pengontrol, pembuat kurikulum pada akhirnya akan menjadi patokan utama dalam menentukan mana indikator dan mana komponen yang tepat demi kebaikan bersama sebagai tujuan akhir tidak terkontrol, dalam artian kita akan kesulitan untuk menemukan bagaimana cara untuk mengontrol si “pengontrol”. Konsekuensinya si pengontrol dalam hal ini adalah pembuat sistemasi pendidikan haruslah sempurna, karena apabila tidak ia akan menggiring semua unsur dalam pendidikan ke jurang kehancuran ataupun dapat memanfaatkannya dengan kepentingan tertentu dan kritis yang selama ini menjadi pengoreksinya telah diluluhlantahkan sehingga tiada yang bisa bergerak apabila terjadi penyelewengan.

Pada akhirnya yang harus dipahami adalah sistemasi pendidikan yang menjadikan ujian nasional sebagai ujian nasional sebagai ujung tombkanya hanya akan berhasil apabila ujian nasional maupun ranah pendidikan dijalankan seperti seharusnya, adanya kebocoran soal, guru yang bisa disogok akibat rendahnya upah luput dari analisa behaviorisme, keadaan faktual ini membawa kesan utopis dari cita-cita pendidikan behaviouristik. Jadi penalaran yang penulis coba lakukan sejauh pembahasan kali ini ternyata membawa kesimpulan bahwa dengan segala resiko dan kelemahannya sistemsi pendidikan behaviouristik belum dapat dijamin prasyarat awalnya bagi dimensi pendidikan bangsa ini.


[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga. hal 291

[2] Dalam Plato, Apology 38A

[3] Disampaikan M. Fuad Abdilah dalam ceramahnya sebagai rangkaian sesi perkuliahan mata kuliah filsafat pendidikan pada 10 Maret 2010

[4] Sekalipun Ujian Nasional juga diselenggarakan pada jenjang Sekolah dasar, Sekolah Menengah Pertama, juga Sekolah Menengah atas, karena keterbatasan ruang dari pembahasan ini maka penulis hanya akan memfokuskan Ujian Nasional dalam konteks di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)

[5] Frans Magnis Suseno, 20 Tokoh Etika abad ke 20 hlm 132

[6] Jean-Jacques Rousseau, Émile, Book I, trans. A.Bloom New York: Basic Books, hlm. 37, 1979.