Category: filsafat



Diawali dengan pengenalan Plato sekitar abad ke 3 sebelum masehi pada konsepsi dunia idealnya yang selama ini dapatlah kita pahami sebagai salah satu konsepsi paling dasar dari upaya eksplanasi sebuah unsur transenden adi kodrati yang kelak peradaban selanjutnya definisikan dalam terminologi Tuhan[1]. Pada rangkaian tradisi filsafat barat selanjutnya pun menaruh perhatian yang begitu besar dalam kaitannya dengan terminologi dalam filsafat ketuhanan, yang mana menemukan kejayaannya pada abad pertengahan. Bahkan akibat terpusatnya pada konsepsi ketuhanan yang terlampau marak dan juga karena otoritas gereja yang begitu kuat saat itu filsafat bukan saja “hanya” terlampau fokus dalam terminologi Tuhan bahkan filsaat seakan-akan telah menjadi hamba bagi teologi, “ancila theologia[2]. Sampai pada era itu terminologi Tuhan masih mengalun dalam harmonisasi pemikiran yang dalam tendensi mengafirmasi keberadannya.

Akan tetapi, rasa ingin tahu manusia yang begitu besar telah membawa perubahan yang begitu signifikan dalam ranah filsafat ketuhanan. Filsafat ketuhanan yang sampai awal abad pertengahan menjalankan fungsi sebagai uapaya rasional logis yang mencoba menjelaskan Tuhan kemudian mengalami transformasi seiring dengan gerak roda peradaban, hentakan tersebut diawali dengan menyeruaknya konsep heliosentris yang diperkenalkan di sekitar abad 16 oleh Copernicus yang menyatakan bahwa pusat dari tata surya bukanlah bumi sebagaimana dikatakan dalam alkitab[3] melainkan matahari. Hal tersebut telah memberikan suatu gebrakan besar yang tak terelakan dalam tradisi teologis theistik saat itu, tafsir ketat tekstual akan kitab studi terkhusus kitab perjanjian lama yang menyatakan bumi sebagai pusat  semessta seakan menemui ajalnya.

Kejayaan kerangka pikir positivistis logis yang menjadi sebuah narasi besar di sekitar penghujung era modern pun terus memberi tantangan bagi kaum teistik untuk kembali merekonstruksi posisinya, dalam artian filsafat ketuhanan pada akhirnya bukan hanya menjadi sebuah benteng pertahanan bagi teisme namun juga sekaligus senjata ampuh bagi atheisme untuk menyerang tradisi besar teologis ataupun theisme secara umum. Sebut saja Karl Marx yang sekalipun baru berbicara dalam tatanan anti agama yang dianggapnya sebagai candu masyarakat, Freud yang dengan pendekatan psikoanalisanya menyatakan Tuhan sebagai ilusi hasil represi alam bawah sadar ataupun Daniel C. Dennet yang cukup dikenal sebagai tokoh atheisme kontemporer. Akan tetapi dalam pembahasan ini penulis tidak akan memberikan uraian terhdap ketiga tokoh atheisme tersebut, dalam pembahasan ini akan kita batasi dengan manjadikan Richard Dawkins sebagai bahasan utama karena penulis menganggap Dawkins selain berangkat dari pendekatan yang lebih pop juga penulis anggap dapat mencerminkan runutan atheisme yang hendak diperkenalkan dalam pembahasan ini.

Sehingga pada akhirnya apa yang menjadi pembahasan kali ini akan dibatasi dalam ranah memahami apa yang dijadikan konsepsi ateisme dari seorang kelahiran Nairobi, Kenya yang bernama Richard Darwkins  dimana kritik sebagai tujuan akhirnya sehingga terlebih dahulu pembahasan akan menerangkan apa pandangan Dawkins terkait filsafat ketuhanan, apa yang menjadi pendasaran bagi pandangannya tersebut dan terakhir pembahasan akan diakhiri dengan kritik akan konstruksi akan pemikirannya.

Kerangka dasar

Menyelaraskan Atheisme dan seorang Richard Dawkins bukanlah suatu hal yang aneh, Dawkins sendiri melalui karya-karyanya memang dengan secara gamblang memperkenalkan konsepsi atheisme. Pada rangkaian awalnya atheisme diperkenalkan Dawkins merupakan respon dari serangkaian kejadian yang membuktikan bahwa agama kerap kali malah menjelma  sebagai fundamen absolutnya bagi kejadian yang merusak ataupun melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Ditambah lagi menurutnya agama terkhusus agama-agama besar semisal agama semitis telah memberikan perlakuan yang tidak adil dalam kehidupan bermasyarakat. Uraian pada bab ini merupakan suatu pembahasan yang mencoba memperkenalkan sekaligus menarik pembedaan antara atheisme yang selama ini kenal dan atheisme yang sesungguhnya dijunjung Dawkins.

Lebih jauh, Richard Dawkins melalui buku-buku karangannya yakni; The Selfish Gene (1976), The Extended Phenotype (1982), River Out of Eden (1995) , Climbing Mount Improbable(1996), Unweaving the Rainbow (1998), A Devil’s Chaplain (2003), The Ancestor’s Tale(2004) , The God Delusion (2006) , The Greatest Show on Earth (2009) sekalipun berbicara tentang berbagai varian berbeda namun secara umum keseluruhannya memperkenalkan atheisme sebagai sebuah kepercayaan, bukan lagi sebuah ketidak percayaan. Bahwa memang atheisme beranjak dengan pada awalnya menegasikan eksistensi Tuhan menurut Richard Dawkins cukup menjadi batu pijakan awal, tidak lebih. Dalam artian bahwa atheisme menurutnya juga merupakan perjuangan emansipatoris dimana atheisme tidaklah hanya bergerak dalam ranah religiusitas namun juga masuk ke dalam ranah sosio politik yang praktis tidak lagi hanya sekedar wacana dalam ranah perdebatan konseptual.

Ilustrasi 1

Ilustrasi di atas merupakan salah satu contoh yang menunjukan bagaimana atheisme dalam opini umum yang kurang lebih menjadi keluhan yang dilontarkan Dawkins dimana atheis sebagai terminologi telah dilekatakan oleh anekdot keseharian, antara lain kaum atheis yang dianggap memiliki kebebasan yang terlalu berlebih sehingga pada akhirnya melupakan tuhan; kaum atheis yang selama ini dianggap jatuh pada dekadensi moral, dll. Menanggapi anekdot yang beredar dalam masyarakat tersebut dawkins menjawabnya dengan menyatakan bahwa tidak ada bukti akan hal tersebut malah sebagaimana dijabarkan dalam data yang didapat Dawkins[4].

Sekalikpun Dawkins menolak beberapa aspek pada ilustrasi 1 di atas untuk dilekatkan pada atheisme , namun tidak berarti ilustrasi tersebut salah secara keseluruhan. Ada beberapa hal yang penulis pikir sesuai dengan pandangan yang diperkenalkan Richad Dawkins yakni bahwa penekanan atheisme yang dijunjung Dawkins memang sejatinya berasal dari konsekuensi logis dalam ilmu alam, dan terkhusus teori evolusi yang diperkenalkan Darwin di sekitar abad 19. Sehingga ungkapan yang menyatakan individu pada ilustrasi di atas merupakan keturunan dari monyet dengan segala cirinya (dalam ilustrasi di atas hanya disebutkan salah satu cirinya) sekalipun mungkin memang ditujukan sebagai ejekan namun bagi Dawkins hal tersebut merupakan tata keniscayaan yang tidak terelakan.

Tentu saja kepercayaan tersebut bukanlah aksi intuitif yang sifatnya spekulasi belaka, mengingat pendasaran Dawkins berangkat dari pribadinya yang seorang akademisi zoologi yang tentu saja akrab dengan biologi secara umum. Tentang bagaimana derivasi dari runut pemikiran Darwin terkait hal tersebut dan tentunya atheisme akan dibahas pada uraian di bab-bab selanjutnya.

Dalil Pengingkaran Eksistensi Tuhan

Sebelum berangkat lebih jauh untuk dapat menalar atheisme Dawkins secara utuh, bab ini akan mencoba memperkenalkan dalil-dalil dari seorang Richard Dawkins dalam bukunya yang berjudul “God Delusion” dimana ia mencoba mengungkapkan argumennya dalam dua jalan yang berbeda sekalipun memang pararel. Jalan pertama argumen Dawknis berangkat dengan menegasikan terlebih dahulu segala rangkaian argumen yang menuju pengafirmasian keberadaan eksistensi Tuhan , sedangkan jalan yang kedua langsung menyerang sebagai argumen yang menjelaskan mengapa hampir pasti eksistemsi Tuhan tidak ada.[5]

Bahwa memang terminologi naturalistik, evolusi, seleksi alam dan  lain-lain akan banyak disebutkan, akan tetapi memang belum akan dibahas secara mendalam di bab ini dengan alasan bab ini memang merupakan pengenalan dan pembahasan serta analisi baru akan kita bahas dalam bab”merunut derivasi nalar Dawkins.”

Adapun argumen yang berangkat dengan menegasikan terlebih dahulu segala rangkaian argumen yang menuju pengafirmasian keberadaan eksistensi Tuhan, yang saya sebut sebagai jalan pertama adalah sebgai berikut[6] :

  • Argumen “The Ultimate Boeing 747”

Argumen ini sesungguhnya berangkat dari rangkaian teminologi yang diperkenalkan oleh seorang astronom berkebangsaan Inggris bernama Fred Hoyle. Dimana Daekins melengkapai pernyataan Hoyle yang sering dipinjam kaum kresionisme yakni bahwa probabilitas kehidupan di bumi lebih kecil daripada kemungkinan badai menyapu potongan-potongan besi dan merangkai sebuah boeing 747 yang ditanggapi Dawkins dengan menyatakan bahwa hal tersebut (argumen Hoyle) justru haruslah dipandang sebagai argume yang menegaskan ketiadaan eksistensi Tuhan. Hal tersebut disebabkan oleh karena menerima keberadaan Tuhansama sulitnya dengan menerima keberadaan badai yang mampu merangkai Boeing 747.

  • § Natural Selection as a Consciousness-Raiser

Dalam argumen ini Dawkins mencoba menjelaskan mengapa eksistensi Tuhan tidak dimungkinkan dengan berangkat dari keberadaan alam semesta beserta isinya yang sebenarnya dapat dijelaskan dengan sangat baik oleh teori evolusi yang diperkenalkan oleh Charles Darwin yang menekankan kosepsi seleksi alam. Menurut Dawkins Seleksi alam juga merupakan variabel kompleks namun tunggal juga mengangkat/membangkitkan kesadaran individu manusia.

  • § irreducible complexity atau “kompleksitas takterkurangi”

Seperti halnya argumen “boeing 747”, argumen ini juga dipinjam Dawkins dari pemikir lain, kali ini Dawkins meminjamnya dari pengarang “Darwin’s Black Box” yang terbit di tahun 1996 yaitu Michael Behe. Dimana argumen ini menyatakan bahwa ada beberapa bagian dari sistem organisme biologis yang terlalu sederhana untuk dapat berevolusi namun juga terlalu kompleks untuk dapat bermutasi. Akan tetapi dengan mudah Dawkins menyanggahnya dengan mengatakan bahwa tidak ada hal yang lolos dari konsepsi evolusi, sehingga pengegrtian yang ditawarkan oleh Michael Behe juga tidak valid menurut Dawkins. Sebagai contoh adalag permasalahan organ mata pada manusia.

  • § The Worship of Gaps

Atau dalam terjemahan bebas berarti penyembahan akan kekosongan. Sesuai namnya argumen ini amenyatakan bahwa apabila ada sebuauh kekosongan yang  dianggap belum mampu dijelaskan oleh a\ilmu pengetahuan terkhusus ilmu alam. Sebenarnya argumen ini lebih ditujukan kepada kaum creationism yang  dituding Dawkins terlalu berspekulasi dan  menyembah kekosongan perihal proses penciptaan alam  dengan menyatakan Tuhan sebagai penciptanya. Kekosongan ini, menurut Dawkins telah dibuktikan sifatnya hanya sementara dan penyembahan akan kekosongan ini malah akan semakin membuktikan bahwa penyembahan yang dilakukan mengada-ada.

  • § The Anthropic Principle : Planetary Version dan Cosmological Version

Dalam Argumen ini Dawkins menekankan bahwa sejatinya prinsip antropi (Anthropic Principle) yang menyatakan bahwa  awal kehidupan dari semesta terjadi dengan dukungan konstanta fisika serta kimia dalam kaloborasi bukan  karena diciptakan Tuhan namun karena mekanisme alam. Jadi sebenarya argumen ini juga tidak jauh berbeda  dengan  argumen sebelumnya (The Worship of Gaps) yang menyerang ranah yang sama yakni perihal hal-hal yang  belum dapat dijelaskan science namun dijadikan wilayah dalam rangka  menyembah Tuhan.

Adapun argumen yang masuk dalam kategorisasi jalan kedua adalah serangkaian penolakan akan konsepsi : 5 jalan pembuktian Tuhan menurut Thomas Aquinas . kedua, argumen dari  keindahan (The argument from beauty ) ; argumen dari pengalaman spiritual pribadi (Theargument from personal’experience’); Argumen dari kitab suci (The argument from scripture) ; argumen  Pascal’s Wager; argumen Bayesian. Yang menurut Dawkins terlalu spekulatif dan pada akhirnya mengada-ada[7]. Namun yang jelas bahwa pada akhirnya uraian ini menunjukan bahwa Dawkins dalam upayanya membuktikan ketiadaan eksistensi Tuhan  juga merunut dari konsepsi panjang yang membangunnya baru kemudian merubuhkannya.

Merunut Derivasi Nalar Dawkins

Melihat uraian dalam pembahasan pada bab sebelumnya soal rangkaian argumen Dawkins, ia mempunyai kerangka penalaran tersendiri yang menjadikan segenap argumen-argumen tersebut terkesan mempunyai satu runut. Menjadi pembahasan dalam bab ini adalah bagaimana dan darimana derivasi nalar Dawkins dalam mengeluarkan serangkaian argumen yang ada sehingga kaitan dengan perunutan yang mengacu pada pertanyaan validitas dalam penalaran pemikiran Dawkins juga tidak dapat dihindarkan.

Seperti yang sudah terlihat dan bahkan sudah di singgung dalam uraian awal, Dawkins memang mendasari segala rangkaian penalarannya dalam basis terminologi naturalistik mengingat Dawkins dalam nalarnya cukup menjunjung teori evolusi dari Darwin.Sekalipuin dalam banyak kesempatan banyak kita temui Dawkins memakai teori evolusi dalam penekanannya, namun hal tersebut belumlah mampu menerangkan apa itu sesungguhnya naturalisme dan darimana derivasi validitasnya? Naturalisme sebenarnya merupakan sebuah kerangka pikir yang hanya percaya bahwa apapu itu “bersifat nyata dan merupakan sesuatu yang terdapat dalam ruang dan waktu tertentu[8]” . Jadi jelaslah pula soal permasalahan validitas dari nalar Darwin yang hadir dalam nuansa deterministik khas naturalisme, dalam artian bahwa derministik atau kausalitas yang ditekankan Dawkins membatasi pada mekanisme ke-alam-an yang tentunya terikat konsepsi spasiotemporal.

Merunut lebih jauh ke belakang sesungguhnya naturalisme tidak lain merupakan hasil dari derivasi epistemogis materialisme dalam penekanan empiria juga keketatan berpikir khas positivisme logis. Sehingga realitas yang sebenarnya dalam kerangka nalar Darwin selalu berkutat dalam kerangka penangkapan indrawi juga haruslah dapat diuji kembali dalam pengulangan verivikasi dalam kemeruangan dan kewaktuan yang lain.

Berangkat dari pemahaman derivasi akan nalar Dawkins dapat dimengerti bahwa naturalisme yang dijunjungnya selama ini merupakan pengetahuan dalam upaya memahami kejadian-kejadian dalam relasional kausalitas. Realitas lain yang di luar prinsip-prinsip yang telah dijelaskan bagi Dawkins merupakan oposisi dari realitas sebenarnya, begitupun konsepsi perihal tentang Tuhan dimana Richard Dawkins menyebutnya sebagai delusi. Disebut sebagai delusi tidak lain karena menurutnya peradaban dalam nuansa keagamaan terkshusus afirmasi terhadap Tuhan telah membawa manusia pada kepercayaan yang irasional dalam artian tanpa pendasaran ilmiah[9] sehingga Tuhan tidaklah lebih dari delusi belaka yang sebenarnya malah menjauhkan peradaban manusia dari kenyataan/ realitas sebenarnya.

Menentang kreasionisme dengan konsepsi evolusionisme

Terkait dengan konsepsi awal semeta, sebagai konsekuensi logis dari derivasi penalarannya mencoba menjelaskan kemengadaan semesta melalui kerangka pikir evolusionisme. Mungkin secara singkat pembahasan tentang evolusionisme telah diperkenalkan sebelumnya dalam bab dalil pengingkaran eksistensi Tuhan, namun dalam bab ini penulis akan mencoba lebih mendalami problematika yang terkait di dalamnya yang tentu saja masih menggunakan perspektif Dawkins sebagai sudut pandang utamanya.

Pada dasarnya argumen evolusionisme berpendirian bahwa alam semesra terjadi akibat mekanisme kausalitas yang melibatkan variabel unsur kimia juga fisika dalam mekanismenya. Alam bukan diciptakan melainkan terciptakan, tidak ada “grand design” sebagaimana yang dipercaya kaum kreasionisme sehingga tidak diperlukan Tuhan dalam terciptanya alam semesta karena semesta tidak lain adalah ketidaksengajaan yang mengaktualisasi posibilitas yang ada. Artinya alam dengan segala keteraturannya merupakan mekanisme yang ‘tidak disengaja’ yang mana hal tersebut dapat dijelaskan melalui science.

Dalam bukunya The God Delusion (2006) Dawkins dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang yang percaya pada kerangka kreasionisme tidak lebih dari sekumpulan orang yang tidak berani, malas dan juga tidak rasional karena tidak berusaha menjelaskan alam sebagaimana fenomena kausalitas yang dapat dijelaskan oleh science namun malah mempostulatkan kehadiran Tuhan sebagai pencipta yang dinilainya tanpa pendasaran yang cukup kuat. Dawkins menganggap bahwa hal tersebut adalah upaya mencari jalan keluar yang singkat dari hal-hal yang belum dapat dijelaskan oleh alam, lebih jauh menurutnya data-data serta pengetahuan yang ada sekarang sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menyimpulkan bahwa evolusionisme adalah benar dan telah berjalan dalam semesta.

Meme dan  gen

Bahwa memang kerangka atheisme Dawkins telah dengan susah payah menjabarkan bagaimana semesta terbentuk dalam upaya penolakan keberadaan Tuhan sebagai sang pencipta, namun hal tersebut belum sama sekali belum dapat sama sekali menegasikan keberadaan Tuhan sebagai sebuah konsepsi yang senantiasa beredar dalam peradaban manusia. Singkatnya Dawkins sekalipun mencerca Tuhan sebagai delusi belum dapat menjawab argumen yang menyatakan  bahwa ‘apabila memang Tuhan tidak ada, lalu kenapa konsepsinya bisa mengada di tengah-tengah manusia’.

Konsepsi evolusi yang selama ini memang menyediakan berbagai perangkat dalam kaitannya dengan hal ini, tidak dapat dipergunakannya apaila hanya dijawab dengan menggunakan konsepsi gen. Dimana dalam bukunya the selfish gene, gen dalam eksplanasi Dawkins menyatahan The genes too control the behaviour of their survival machines, not directly with their fingers on puppet strings, but indirectly like thecomputer programmer. All they can do is to set it up beforehand; thenthe survival machine is on its own, and the genes can only sit passively  inside[10].  sebagai unsur terkecil dalam mekanisme evolusi makhluk hidup. Gen menjalankan keegoisannya dengan mempertahankan dirinya, mempertahankan diri gen dalam bentuk mereplika dirinya konsekuensinya menarik bahwa replika tersebut juga menurunkan sifat-sifat bawaan yang hereditoris. Sehingga apabila menggunakan konsepsi gen untuk menjawab maka Dawkins akan terjebak pada kesimpulan bahwa Tuhan adalah memang ada dan diturunkan oleh gen sebagai bukti ilmiahnya.

Akan tetapi Dawkins tetap bersikukuh menolak eksistensi keberadaan Tuhan sehingga satu-satunya jalan untuk menolak hal tersebut dan tetap konsisten dengan teori evolusi yang selama ini dijunjungnya adalah dengan merumuskan konsepsi tentang meme. Dimana meme berbeda dengan gen, meme memang masih dalam fungsi replikator dalam runut evolusi akan tetapi meme terikat dalam fungsi kultural bukan lagi hanya biologis seperti halnya gen.

Apa yang hendak disampaikan oleh Dawkins dengan memunculkan konsepsi meme memang masih dalam kaitannya denga menjawab problematika konsepsi Tuhan yang bisa ada  dalam peradaban dan tidak mampu dijawab dengan konsepsi gen. Dengan keberadaan meme Dawkins mencoba menjawabnya, yakni konsepsi Tuhan memang mengada dalam peradaban akan tetapi hal tersebut bukanlah suatau kemungkinan mutlak realitas namun tidak lebih dari penyimpangan kultural yang bisa bertahan karena dijembatani oleh meme.

Kesimpulan

Merunut pambahasan ini dari awal jelas dapat kita simpulkan bahwa Dawkins memang memberikan sumbangsih yang besar dalam tradisi pemikiran filsafat Islam dimana ia dengan gigih mempertahankan nalar atheismenya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jelas pula bahwa nalarnya akan memunculkan konsekuensi-implikasi yang berlaku dalam ranah teoritis juga praksis. Namun dalam pembahasan ini akan difokuskan pada implikasi konseptual belaka karena penulis menganggap belum punya sukup data yang dapat menyokong analisis implikasi prakstis.

Adapaun implikasi dalam nalar Atheisme Dawkins yang paling signifikan adalah Richard Dawkins dengan segala penekanan dalam upaya eksplanasinya memang banyak menggunakan science sebagai fondasi dasarnya, dan hal itu tidak lain kembali menempatkan science sebagai oposisi agama. Science versi Dawkins menganggap bahwa agama merupakan musuh uatamanya karena memiliki kebernaran yang saling bertentangan.

Agama dan science pun kembali masuk dalam tahapan konflik dalam konsepsi relasional akannya sebagaimana dijelaskan Ian Barbou dalam bukunya juru bicara Tuhan yang menyatakan bahawa teori evolusi bertentangan dengan keyakinan beragama[11] padahal tidak selamanya agama dan science selalu bertentangan dan berada dalam konflik. Melihat dalam perkembangannya  sebagaimana diterangkan Ian Barbour agama dan science sebenarnya dapat berintegrasi demi kebaikan peradaban manusia.

Kritik

Nalar  atheisme Dawkins sekalipun terlihat cukup menyakinkan namun jelas juga mempunyai berbagai kekurangan . Salah satu kekurangan yang paling menonjol adalah saat ia menyatakan bahwa percaya kepada Tuhan sebagai sesuatu yang spekulatif, padahal dalam pengingkaran akan Tuhan pun Dawkins masih terjebak dalam tuduhannya sendiri itu.Dalam artian bahwa pada akhirnya banyak hal yang belum mampu dijelaskan ilmu pengetahuan secara mutlak. Sehingga memilih tidak percaya sebagai atheisme pada akhirnya malah mereduksi posibilitas lain yang sebenarnya masih beredar.

Kritisi lain yang dapat kita lakukan terhadap pemikiran nalar atheisme Dawkins adalah soal derivasi epistemologisnya yang masih begitu terpaku pada positivisme yang tidak mampu menampakan dan menjembatani realitas-realitas yang tidak terukur. Kesadaran manusia pun direduksi dengan pendasaran yang seperti itu, dimana kesadaran manusia hanya dilihan paradigma evolusionistik sebagai sebuah jaringan kedirian yang dibuat dari gerak-gerak tidak sadar molekul juga semprotan elektrokimiawi dalam otak.

Daftar Pustaka

Dawkins, Richard. 2006. The God Delusion.New South Walws: Bantam Press.

Dawkins, Richard. 2002. The Selfish Genes. Oxford University Press

Honderich, Ted (ed.).1990. The Oxford Companion to Philosophy.New York:oxford University press.


[1] Dalam acuannya pada filsafat barat yang tanpa bermaksud mereduksi tradisi pemikiran filsafat timur namun dalam kaitannya dalam pembahasan ini memang lebih relevan dalam tendensi fildafat barat.

[2] Cambridge companion hlm 21

[3] Kitab suci kaum nasrani, karena pada saat itu agama kristen merupakan agama yang paling dominan.

[4] Lihat Richard Dawkins, God Delusion hlm 22

[5] Kedua jalan ini diuraikan Dawkins sebagai dua bab terpisah dalam bukunya The God Delusion. Dimana jalan pertama adalah ekstrak dari bab kedua yang berjudul “Arguments for God’s existence” dan jalan kedua tidak lain adalah bab ketiga yang berjudul”Why there almost certainly is no God”

[6]Lihat Richard Dawkins, God Delusion(Bantam Press:2006) hlm

[7] Akibat keterbatasan ruang pembahasan, maka proposisi “spekulatif dan pada akhirnya mengada-ada” dianggap penulis sebagai kesimpulan umum akan semua rangkaian argumen dalam kategorisasi jalan kedua. Untuk lebih jelas lihat Richard Dawkin, God Delusion (Bantam Press:2006) hlm 75-105

[8] Lois Katsoff,pengantar filsafat hlm 208

[9] Harus diingat terminologi ilmiah dalam pemahaman Dawkins dibatasi dalam kerangka positistik dalam penekanan empiris,verivikasi juga reliable dan sudah pasti mereduksi kemungkinan lain di luar itu.

[10] Richard Dawkins,Selfish gene.s hlm 52

 



Sebagai agama maupun runut kebudayaan Islam memiliki sejarah serta tradisi  panjang yang begitu apik tersusun sebagai preseden kehadirannya dalam kekinian. Kekinian dan presedennya jelas berbeda soal ranah ataupun asupannya, namun apa yang menyatukan keduanya dalam Islam adalah kesakralan. Juga dengan kesakralan, Islam sebagai budaya ataupun sebagai agama menjadi inheren satu sama lain. Kesakralan memang tidak lebih dari sebuah terminologi yang menunjuk suatu yang tidak dapat diperjelas dengan verifikasi empirikal, akan tetapi bermakana besar gaung kehadirannya sehinga pada akhirnya kesakralan hanya soal posisi,posisi dan kehadiran makna bagi peradaban Islam.

Berangkat dari sinilah Arkoun mengagungkan Islam sekaligus mengkritiknya, bukan Islam yang hakiki yang hendak dikritik Arkoun tetapi peradaban Islam yang telah tertinggal jauh dari kejayaan peradaban akibat penempatan (positioning) kesakralan yang dinilainya sudah tidak tepat lagi dalam artian kebudayaan dan tradisi pemikiran Islam yang berjaya di sekitar abad pertengahan perlahan kehilangan tempat sebagai kebudayaan dan tradisi pemikiran yang bisa dibilang mempunyai andil besar dalam kehidupan dunia, terminologi sakral telah menjadi dalil paten yang menyebabkan ketertutupan dan penyelewengan terhadapnya. Hal tersebut merupakan alasan sekaligus tujuan dalam pembahasan ini, diharapkan dengan mengerti pemikiran arkoun secara mendalam dengan korelasi dengan kekinian   maka jelas mengapa pembahasan ini dianggap penting oleh penulis.

Untuk dapat mengembalikannya kepada jalan yang tepat perlu perumusan komprehensif, metodelogi Arkoun terkhusus metodologi penafsiran/hermeneutikanya menjadi pedoman utama dalam upaya tersebut. Sehingga runut dalam pembahasan ini akan dibagi dalam beberapa bab, dimana dalam bab-bab awal akan lebih menekankan dalam upaya mengerti pemikiran Arkoun, barukemudian pada bab-bab akhir akan diberikan analisis daripadanya.

Konsepsi Muhammed Arkoun Tentang Konotasi Nalar Islam

Pemikiran Muhammed Arkoun memang relatif terpusat permasalahan hermeneutika, dimana serangkaian usahanya adalah guna menunjukan bahwa Al-Quran bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja sebagai makna tekstualitas apa adanya. Tentu saja Arkoun sepakat bahwa Al-Quran adalah memiliki ke sakralan, namun ia jaga bahwa jangan sampai terminologi kesakralan tersebut mengharuskan pemaknaan akan Al-Quran menjadi tetutup pada satu narasi besar yang sarat relasi kuasa,ideologis,dll sehingga karena pemahaman yang menyeluruh hanya dapat dicapai apabila dilakukan penelusuran Historis-antropologis,linguistik-semiotika, dan tentunya teologis religius kritis. Jelaslah reposisi kesakralan harus diakukan dalam upaya mendapatkan pemahaman yang utuh sehingga problematika tentang apa yang menjadi bahasan ini akan tertuang dalam bab-bab berikut dan diawali dengan bab pertama yang berusaha memperkenalkan bagaimana kesakralan serta implikasinya.

 

Membicarakan Arkoun tanpa menyinggung tentang konsepsi kritiknya akan nalar Islam (Critique of Islamic Reason) penulis pikir adalah suatu ketidakmungkinan karena bisa dibilang kritik akan nalar Islam merupakan proyek dasar dari pemikirannya yang lain, begitupun dalam kaitannya dalam pembahasan ini tidak mungkin dapat mencapai pemahaman yang komprehensif tanpa terlebih dahulu menjadikan krik nalar Islam khas Arkoun sebagai premis yang menjadi fondasi bagi upayanya me-reposisi kesakralan. Mohammed Arkoun memang memiliki latar belakang yang cukup menarik, ia dilahirkan di Taorint-Mimoun yaitu sebuah kota Aljazair dan kemudian menempuh karirnya sebagai akademisi dengan belajar dan berkarya di Perancis terkhusus di salah satu Universitas ternama di Perancis, Universitas Sarbonne. Akan tetapi yang jauh lebih menarik adalah ia merupakan orang pertama yang mampu dan berani mendeskripsikan sekaligus mengkritik nalar Islam yang selama ini terkesan tak tersentuh. Dimana nalar Islam lebih merupakan “way of thingking” sehingga menekankan ketiadaan jarak dengan sang subjek sendirinya apabila pengamatan atau observasi yang dilakukan tidak terlebih dahulu menjaga jarak akannya.

Terkait dengan dunia barat sebagai tradisi pemikiran ataupun kehadirannya secara fisik Arkoun berpendapat kalau hal tersebut dapat dijadikan nilai positif. Dalam artian bahwa bangunan nalar Islam serta tradisi kebudayaan dan pemikiran Islam bukanlah oposisi biner dari tradisi pemikiran dunia barat yang harus berada dalam permusuhan dan rasa kecurigaan satu sama lain. Sebaliknya terkhusus dari sudut pandang

Adapun apa yang disebut oleh Muhammed Arkoun sebagai nalar Islam adalah semacam kerangka pikir yang secara gamblang terlihat relatif sama dimiliki oleh narasi besar dalam kehidupan Islam,baik itu dalam kebudayaan ataupun terkhusus dalam tradisi pemikiran Islam.Dimana menurutnya,” Nalar keagaman bertindak berdasarkan perasaan langsung yang memaksakan bahwa Tuhan, Yang Esa,Yang Hidup lagi Baik,berbicara,menghadirkan diri dan membuat diri-Nya hidup dalam ayat-ayat itu.[1]” Mohammed Arkoun mampu merumuskan hal tersebut setelah mengamati kehidupan Islam kontemporer yang sekiranya ia anggap tidak lagi mampu berjalan sesuai dengan tuntutan peradaban, dimana menurutnya “Salah satu sifat yang tetap dari nalar keagaman adalah bahwa nalar itu berusaha untuk membangn koherensi-koherensi praktis di dalam suatu kungkungan-kungkungan teologis tanpa mempertanyakan praduga-praduga …” [2] dan Arkoun menganggap bahwa hal tersebut bukan merupakan problematika yang menyeruak dari luar akan tetapi sesungguhnya berasal dari dalam tubuh lingkungan Islam sendiri. Sehingga jelaslah nalar Islam merupakan tantangan terbesar bagi peradaban Islam kontemporer ini karena menyebabkan kebekuan berpikir serta pemahaman yang sempit, hal tersebutlah yang dituding Arkoun sehingga menciptakan paradoks gerakan perdaban yang tidak beradab lagi; kehadiran terorisme misalnya juga hal-hal lain yang dinilai tidak sesuai nilai-nilai universal manusia modern seakan-akan mendapatkan legitimasi dari kesakralan Al-Quran sebagai landasan utamanya.

 

Pada ranah inilah Mohammed Arkoun menekankan pentingnya runutan penalaran ulang akannya sehingga nalar yang tadinya tertutup dan rawan diselewengkan mendapat pemahaman kesakralannya kembali yang sesuai secara tekstual sekaligus tekstualitasnya dengan menggunakan metodologis yang disediakan hermeneutika. Akan tetapi hal tersebut bukan sama sekali mengarahkan pada perntentangan antara nalar keagamaan dengan nalar ilmiah karena menurutnya tujuan dari pembedahan dan kritiknya semestinya tidak dilakukan dengan “objektifitas semu yang memberikan pada masing-masing nalar itu wilayah wewenang,peran-peran, dan jalan spesifik[3]”, Jelas  bahwa kerangka pikir ini cukup terpengaruh pada pemikiran Derrida dengan konsepsi dekonstruksi, namun pembahasan tentang sejauh mana pengaruh Derrida dalam pemikiran Mohammed Arkoun akan disampaikan pada bab-bab selanjutnya.

 

Runutan Perkembangan Posisi Kesakaralan

Jelas bahwa terminologi keaakralan selalu dan hanya mengacu pada Tuhan sebagai refrensial mutlaknya, kesakralan seperti halnya kuasa menurut Muhammed Arkoun juga melalui proses distibutif sebelum sampai pada kekinian. Namun, berbeda dengan wacana kuasa[4] distribusi kesakralan tidak bersandar pada sistemasi yang muncul dari legitimasi secara politis dalam relasi transsaksional, sebaliknya kesakralan didapat dari Tuhan dan dalam hal ini adalah wahyu Tuhan sebagai satu-satunya sumber mengingat Nabi Mohammad adalah nabi terakhir yang punya relasional khusus diwarnai dengan hubungan relasional satu arah,yakni dari Tuhan ke umatnya yang memungkinkan menangkap distribusi kesakralan langsung dari Tuhan,oleh sebab  itu kini umat Islam haruslah bertumpu pada Al-Quran serta Hadis untuk menemukannya dan tidak ada jalan lain   selain memaknainya dengan baik.

Akan tetapi dalam konsepsi wahyupun Arkoun membaginya secara hirarkis yakni yang pertama diisi Al-Quran sebagai induk kitab atau Umm al-Kitab yang merupakan kitab dari langit(langsung dari Tuhan) sehingga bersifat abadi yang sama artinya tidak terikat konsepsi ruang dan waktu serta memiliki kebenaran yang tertinggi di dalamnya. Jadi apabila kirta mencari posisi mutlak kesakralan sebelum terdistribusi disinilah tempatnya, terharuskan adanya distribusi karena pada tingkat ini wahyu menurut Mohammed Arkoun karena kesempurnaannya tidak mampu digapai manusia dan tetap melekat pada Tuhan. Sedangkan yang kedua adalah penampakan wahyu yang dalam kesejarahan, dan yang terakhir adalah wahyu yang sudah tertulis dalam mushaf dengan huruf sebagai simbolisasi yang berada di dalamnya.

Apa yang dapat dipahami dalam susunan hirarkis tersebut adalah bahwa kesakralan yang utuh sejatinya bersemayam dalam wahyu yang pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Akan tetapi dalam perkembangannya kesakralan seakan tidak mampu melawan ruang dan waktu, sepeninggal nabi Muhammad saw naskah yang ditingaalkannya menempatkan para sahabatnya pada tangku kesakralan berikutnya namun begitu seiring berjalannya waktu hadis telah “mengalami perubahan dari karakter  lokal dan tradisionalnya menjadi kumpulan doktrin yang baku dan logosentris.”[5].

Hadits yang tadinya berangkat dari rumusan dialogis dengan hanya memandang kesakralan dalam relasional Allah dan nabi telah bergeser, inilah awal dari pergeseran-pergeseran yang terus berlanjut seterusnya. Kesakralan bergeser dari yang konseptual menjadi terlalu praksis, dalma artian bahwa sebelumnya kesakralan mutlak hanya terletak pada wilayah relasional Allah dan nabi saat wahyu diturunkan, kemudiaan pada ranah wacana yang bersifat dialogis anatara nabi juga sahabatya dan pada akhirnya kesakralan jatuh pada tatanan hukum positivistik dimana yang dilihat bukan lagi korelasi dengan wahyu namun sebatas koresponden tekstual yang sebenarnya hanya mempostulatkan keberadaan kesakralan yang membuat hukum menjadi tidak terbantahkan tanpa memberi ruang bagi  telaah akan korelasi antarnya.

Lebih jauh dalam upaya melihat posisi runutan kesakralan sepeti yang telah diuraikan secara singkat sebelumnya, Arkoun dengan jelas membagi secara hirarkis dalam relasinya dengan periodisasi  sejarah Al- quran yang terbagi dalam tiga tatanan dalam penekanannya masing-masing. Yang pertama adalah saat wahyu pertama kali diturunkan oleh Allah kepada nabi muhammad saw, yang menarik adalah pewahyuan ini disampaikan tanpa bahasa manusia melainkan secara apriori transendental.

Kedua, merupakan tahapan yang telah terjadi kodifikasi terhadap wahyu Tuhan, dari yang tersimpan secara apriori trasnsendental dalam bahasa sakral terberengus agar manusia dapat mengertinya dengan diubah menjadi ungkapan dalam bahasa arab. Selanjutnya yang ketiga adalah saat tradisi ortodoksi mulai merasuki dengan tatanan ideologis yang berlaku demi kepentingan penguasa.

 

 

 

 

Tingkat pertama

Sekitar tahun 610 – 632 masehi

 

Disebut juga prophetic discourse, dimana wahyu dalam konsepsi tanzil atau turun yakni pemberian wahyu yang turun langsung dari Tuhan kepada nabi tanpa kata, tanpa bahasa

Tingkat kedua

Sekitar tahun 632-936 masehi

Disebut juga tahapan (closed official corpus) karena ketertutupan akan hal-hal baru di luar otoritas yang ada. Pada tahapan inilah terjadi upaya koleksi dan penetapan mushaf sehingga kemudian jatuhlah apa yang terberi (wahyu) dalam bahasa manusia, kontekstualisasi dalam bahasa dan juga tulisan arab dan pada akhirnya menjadi suatu produk budaya. Segala kemungkinan dalam peradaban saat itu menjadi suatu nilai probabiltas yang tidak dapat terelakan akibatnya, munculah juga historisitas.

Sehingga begitupun kesakralan sebagai konsekuensinya sudah mulai tidak dalam bentuk absolut sebagaimana dalam tahapan yang pertama.

Tingkatan ketiga

Sekitar tahun 936 masehi

Tahapan ini berlangsung dalam masa ortodoksi dimana dalam perkemangannya Al-Quran serta turunan lain oleh wahyu dijadikan juga sebagai pelestari rezim tertentu.

Tabel 1.1

 

 

Konsekuensi Posisi Kesakralan:

“yang terpikirkan, yang tak dipikirkan, yang tidak terpikirkan”

Terminologi kesakaralan jelas bukan saja memberikan konsekuensi ataupaun peranan yang hanya nampak sebatas ranah konseptual teoritis, namun juga merasuk ke dalam kesehariaan yang praktis kontekstual setidaknya itulah yang ditekankan Arkoun. Hal tersebut dapat menurut Arkoun merupakan gerak kausalitas yang tidak dapat terhindari, yang juga menghubungkan terminologi kesakaralan sebagai peranannya di ranah konseptual ataupun dalam ranah praksis.

Nalar Islam selama ini menurut Arkoun telah menempatkan kesakaralan pada tempat yang tidak semestinya sehingga pada akhirnya sebagai penghubung antara kesakaralan dalam konteks teoritis dan kesakaralan sebagai terminologi dalam tatanan praksis menghasilkan apa yang disebut Muhammed Arkoun sebagai yang terpikirkan, yang tak dipikirkan, dan yang terakhir yang tidak terpikirkan. Penekanan dalam tiga kategorisasi Mohammed Arkoun tersebut jelas sangat terpengaruh penekanan penanda dan pertanda (signifier dan signified) yang diperkenalkan oleh tokoh linguistik Ferdinand De Sausure.

Hubungan antara konsepsi khas kaum strukturalis dan kesakralan sesungguhnya dapat terlihat dengan jelas dengan kehadiran nalar islam yang menjadi penekanan dalam kritik yang dilontarkan panjang lebar oleh Muhammad Arkoun, dimana bahasa telah menjadi sarana sekaligus bukti daro kodifikasi Al-Quran, wahyu yang tadinya lekat dengan kesakaralan mutlak mengalami dekadensi dengan kemenyatuannya pada bahasa manusia. Arkoun mencoba menjelaskan secara komprehensif permasalahan yang tersebut dengan memberikan gambaran di bawah ini.

 

 

 

Bagan relasi antar bahasa, kenyataan atau realitas, persepsi dan wacana menurut Arkoun.[6]hal 55

 

Apa yang dapat disimpulkan dari bagan di atas adalah bahwa keberadaan bahasa merupakan perekat sekaligus pemisah akan realitas, wacana, dan persepsi. Merekatkan karena dengan bahasa kita setidaknya bisa mendekati wacana dan realitas yang ada, dimana bahasa merupakan representasi dari persepsi akannya. Memisahkan karena dengn bahasa maka manusia akan terpetakan dalam suatu persepsi tertentu atau mungkin bisasa disebut sebagai sudut pandang dalam menanggapi realitas ataupun wacana yang beredar di sekitar subjek.

 

Begitupun terkait dengan posisi kesakralan dimana terlebih dahulu kesakralan apabila telah melebur ke dalam bahasa akan juga terjebak di dalam paradigma terentu sehingga nilai kesakralan tidaklah lagi dalam tatanan absolut. dan dalam kaitannya dengan pembahasan ini maka akan terikat pada bahasa arab, dimana seperi yan gkita ketahui tradisi agama Islam sangatlah kental dengan kebudayaan arab di dalamnya dan begitupun sebaliknya. Dimana konsekuensinya adalah memetakan relasi sekitar realitas,persepsi, bahasa, dan wacana ke dalam 3 kategori yaitu:

 

  • yang terpikirkan

Seperti namanya, dalam kategori ini terdiri dari hal-hal[7] yang senantiasa dapat dan yang diinginkan untuk dilihat dan dipikirkandalam kesehariaan. Dalam artian bahwa ada kemengarahan terhadap hal-hal ini. Kurang lebih hal yang terpikirkan ini merupakan konsekuensi dari nalr Islam yang kita bicarakan pada uaraian awal. Dimana hal tersebut dimungkinkan akibat

  • yang tak dipikirkan

Merupakan kategorisasi dari hal-hal yang sebenarnya dapat kita persepsikan, entah dalam artian secara empirik ataupun secara konseptual namun akibat keberadaan keangka pikir yang sedemikian rupa telah terbentuk sehingga pada akhirnya kesadaran indivisu menolak untuk memikirkannya.

  • yang tidak terpikirkan

hal yang tercakup dalam kategorisasi inilah yang sesungguhnya menjadi penekanan utama dalam bab ini dimana Arkoun menempatkan kritiknya dengan landasannya pada hal-hal yang menjadi bagian dari yang tidak terpikirkan. Singkatnya Arkoun menyatakan bahwa dengan adanya keberadaan hal yang tidak terpikirkan menjadi bukti bahwa kesakralan telah menempati posisi dalma ranah yang keliru, ditambah lagi dengan adanya hal-hal yang terlongkap dalam suatu runutan nalar maka akan mengakibatkan penyimpangan seperti yang terjadi dalam peradaban Islam juga dengan adanya hal yang tidak terpikirkan sama artinya dengan mereduksi kemungkinan lain dan pada akhirnya merupakan kerugian dalam peradaban Islam.

 

Pemecahan masalah; kebutuhan akan dekonstruksi lanjutan

Dari serangkaian pembahasan yang telah kita lalui sebelumnya dapat dipahami bahwa penempatan kesakralan yang salah menjadi suatu problematika tersendiri dalam pemikiran Mohammed Arkoun dalam memandang tradisi Islam. Dalam kaitannya dengan upaya pemecehan problem tersebut jelas mereposisi kesakralan merupakan satu hal yang mutlak mengingat problem kesakralan sebagaimana yang dijelaskan dalam bab sebelumnya berada dalam penekanan bahasa,realitas,persepsi,wacana sehingga reposisi dimungkinkan keberadannya.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut Muhammed Arkoun menyodorkan konsepsi dekonstruksi[8] khas Derrida yang tentunya memang merupakan bagian penting dalam tradisi pemikiran filsafat barat. Terkait dengan terminologi barat yang biasanya mempunyai muatan dalam konotasi yang negatif dalam tradisi Islam, Arkoun berpendapat bahwa dekonstruksi sekalipun memang berasal dari barat namun juga sesuai dengan permasalahan yang ada dalam likngkungan Islam sehingga demi kemajuan haruslah juga mengenal apa yang dapat ditawarkan peradaban barat sekaligus juga mempelajarinya. Selain dekonstruksi hal lain yang menurut Arkoun bisa didapat dari peradaban barat adalah perihal historisitas.

Upaya dekonstruksi dalam upaya mereposisi kesakralan dalam kekakuan nalar Islam menurut Arkoun bukan untuk menghilangkan kesakralan yang melekat dalam Tuhan secara mutlak melainkan lebih kepada turunan wahyu dan tekstualitas yang ada dalam tradisi nalar Islam yang seakan-akan memiliki muatan mutlak. Padahal haruslah dipahami seperti yang telah dijelaskan dalam bab-bab sebelumnya bahwa muatan kesakralan terus tereduksi ketika semakin menjauh dari nilai universal dengan memunculkan bangunan wacana qurani sendiri memantulkan konfigurasi kekuatan-kekuatan sosio-politis yang ada….[9] , kesakralan yang tidak dipahami pada tempatnya akan menjadikan kesakralan menjadi milik manusia bukan lagi milik Tuhan sebagaimana mestinya, sehingga jelaslah apa yang hendak disampaikan Arkoun dengan mengkritik nalar Islam ataupun telaah kritis pada Al-Quran dan lain-lain bukan upaya penghilangan kesakralan namun lebih kepada upaya mereposisi kesakralan.

Adapun runutan dekonstruksi secara metodologis dalam upaya reposisi kesakralan dibagi  Arkoun dalam dua tahapan besar yakni linguistik kritis dimana dilakukanlah pembacaan teks data-data linguistik termasuk di dalamnya tanda-tanda bahasa yang terkandung di dalamnya dengan cermat. Tahap kedua adalah dengan eksplorasi historisitasnya dengan tujuan dapat menemukan petanda terakhir di dalamnya dengan kode-kode linguistik, keagamaan, kultural, juga eksplorasi antropologis dengan pembongkaran akan simbol dan tanda yang ada di dalamnya.

 

Refleksi Kritis

Sekilas kerangka pikir yang disediakan oleh Mohammed Arkoun memang merupakan kerangka baru bagi tradisi pemikiran Islam, dimana titik tolaknya adalah kritik terhadap nalar Islam. Dalam pembahasan ini sebagaimana telah dijelaskan uraian di atas, dapat ditemukan bahwa Muhammed Arkoun memberikan runutan dalam membahas tradisi pemikiran Islam secara komprehensif. Dekonstruksi yang dipinjamnya pun telah mengisyaratkan bahwa Muhammed Arkoun sekalipun meminjam kerangka pikir barat tetap menyesuaikannya dengan kondisi kekinian Islam, dimana dekonstruksi yang telah dimidifikasi tetap mempertahankan kesakralan sekalipun memang mereposisi konsepsi kesakaralan tersebut sehingga pada akhirnya dekonstruksi tidak benar-benar menghancurkan tanpa memberikan pengantinya, sebaliknya dalam kerangka yang diajukan Arkoun memberikan ruang untuk merekonstruksi apa  yang dihancurkan.

Selain revolusioner apa yang diuraikan oleh Arkoun menjadi sungguh menarik karena dia mampu menjadikan lingkungan Islam yang ia uraikan dan kaji tidak hanya sebatas sebagai objek beradasar kerangka pemikiran barat, Melainkan juga sebagai subjek yang mampu memasukan dan memperkaya rangkaian variabel yang ada. Adapun hal yang mungkin menjadi kekurangan dalan pemikiran Arkoun adalah terminologi yang dipakai oleh Arkoun terkhusus dalam kajian praksis menggunakan ungkapan bahasa Arab cukup membuat penulis kesulitan karena latar belakang penulis yang kurang akrab dengan ungkapan maupun kebudayaan arab sehingga diperluka usaha lebih dalam pembahasan ini.

Selepas hal-hal tersebut, pemikiran Arkoun sesungguhnya merupakan sumbangan yang sangat berharga yang dapat menciptakan pembaharuan bagi nalar Islam yang selama ini dikritiknya, reposisi kesakralan yang ditawarkannya apabila dipahami secara utuh akan membawa kemajuan bagi tradisi pemikiran Islam.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Arkoun, Mohammed. 1997.Berbagai Pembacaan Al-Quran,penerjemah Machasin.Jakarta: Indonesian-Netherland Corporation in Islamic Studies (INIS)

Putro, Suardi. 1998. Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas. Jakarta: Paramadina
Santoso, dkk.2009. Epistemologi kiri.Yogyakarta:Ar-ruzz media.

Rohmah, Siti. Dekonstruksi: Suatu Telaah Mengenai Pemikiran Mohammed Arkoun. Tesis: Universitas Indonesia

Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy.New York:oxford University press,1995

 

 


[1] Muhammed Arkoun 1997.Berbagai Pembacaan Al-Quran, (Jakarta:INIS) hlm 17

[2] Ibid. Hlm 16

[3] Ibid. hlm 16

[4] Kuasa yang dimaksud disini adalah kuasa dalam artian kuasa duniawi dengan tujuan prmbahasan ini mendpat distingsi yang tegas bahwa, dengan tanpa bermaksud mereduksi kuasa Tuhan.

[5] Santoso, dkk.2009. Epistemologi kiri.(Yogyakarta:Ar-ruzz media). hlm 205

[6] Diambil dari Hlm55

[7] Kata hal disini mengacu pada korelasi antara realitas, wacana, dan persepsi dan bahasa sehingga akhirnya menghasilkan kompilasi kesadaran dalam suatu individu.

[8] Dekonstruksi yang diajukan oleh Muhammed Arkoun sedikit berbeda dengan dekonstruksi Derrida dimana Dekonstruksi yang dimaksudkan Arkoun masih meberi ruang bagi kehadiran penanda final dalam kesakralan teks, sedangkan Derrida menolak gagasan kehadiran metafisik.

[9]Muhammed Arkoun, ibid. hlm20

 


Sebagai sebuah entitas berkedirian, setiap individu jelas memiliki keunikan dan kebebasannya. Namun, keunikan yang dimilikinya serta merta juga, layaknya koin, memiliki sisi lain yang menyatu dalam kediriannya sekaligus mempostulatkan keberadaan sisi lainnya sang entitas berkedirian, yakni sebagai zoon polticon. Jadi pada dasarnya individu adalah keutuhan dari dualisme dalam dirinya, artinya setiap individu tak mampu menghindar dari keberadaan orang lain. Individu pada akhirnya mau tidak mau harus masuk dan berkompromi dengan individu lainnya dalam wacana sosial, menimbulkan dialektis paradoksional dalam artian individu yang juga mau tidak mau menerima tema sosial akan membutuhkan seperangkat pemahaman yang mampu berbincang dalam paradoks berkediriannya; subjek yang bebas sekaligus membaurkan sebagai bagian kecil dari masyarakat, yang dibatasi orang lain dalam kehidupan sosial. Filsafat sosial bergerak di ranah ini, mencoba menjadi perangkat atau tools menuju pemahaman yang mampu memberikan deskripsi sekaligus eksplanasi yang tidak mampu dicapai disiplin ilmu yang lain dalam permasalahan ini akibat keterbatasan sudut pandang yang dimungkinkan sebagai objek formal disiplin tersebut, Filsafat Sosial memberikan tools yang dibutuhkan itu, sehingga memungkinkan kita untuk dapat melihat permasalahan secara utuh dan mendalam.
Dalam pembahasan ini penulis mencoba menggunakan kerangka Filsafat Sosial dalam upaya menimbang kembali konsepsi kontrak sosial yang ditawarkan J.J. Rouseau kepada tiap individu tentang bagaimana ia harus menyikapi keberadaannya di tengah-tengah masyarakat sosial dengan individu-individu lainnya yang dapat menimbulkan kebaikan dan keuntungan bagi individu sekaligus ancaman dari kehadiran individu lain dalam kehidupannya,. Apa yang ditawarkan J.J. Rouseau dalam bukunya; The Social Contract, adalah dengan individu melakukan kontrak sosial. Penulis dalam pembahasan kali ini akan mencoba untuk menganalisa apakah kontrak sosial dapat mampu menjadi jawaban akan berbagai masalah yang telah diuraikan sebelumnya dan bagaimana filsafat sosial memandang kontrak sosial dalam pemahaman filosofisnya.

Penawaran J.J. Rouseau: Konsepsi Kontrak Sosial
Sekalipun secara umum kontrak sosial dapat kita mengerti sebagai persetujuan bersama oleh para individu dalam masyarakat, kemudian menciptakan tidak hanya sistem pola keteraturan namun juga sistem kekuasaan guna menjaminnya artinya juga menciptakan sistem politik berangkat dari sistem sosial. Akan tetapi pengertian tersebut belum cukup untuk menggambarkan apa yang sebenarnya hendak ditawarkan J.J. Rouseau kepada kita.
Rouseau mengawali konsepsinya dengan menalarkan bahwa sesungguhnya dialektis paradoksional individu yang harus berbincang dan menerima orang lain terbagi dalam beberap tahapan yang dimulai dengan individu yang hidup harmonis, damai, dan bebas dari segala dominasi dalam menyikapi keberadaan orang lain, inilah tahap pertama yaitu tahap primitif. Kemudian pembentukan keluarga-keluarga sebagai inti masyarakat , berangkat dari situ melalui perkembangan metalurgi dan pertanian membuat perbedaan yang didapat dari kaya dan miskin. Akibatnya, muncul ketimpangan yang membuat individu yang masuk pada golongan kaya dapat mendominsi orang miskin . Ketimpangan ini lebih jauh juga akan menyebabkan konflik yang akan menciptakan kekacauan sosial, kemudian akan berimplikasi lebih jauh kepada tiap individu yang kembali ke pemasalahan awalnya, bahwa pada akhirnya individu dalam kebingungan bagaimana meletakan kediriannya di tengah-tengah masyarakat.
Berangkat dari penalaran tersebut, untuk menyelesaikan permasalahan tersebut , tiap indvidu akan tergerak mendapatkan kehidupan sosial dengan cara bertransaksi dengan individu yang lain, inilah kontrak sosial yang dimaksud Rouseau, tujuannya jelas ketertiban sosial yang nantinya dapat dihuni oleh sang individu sehingga ia tidak lagi berada dalam tatanan yang mempermasalahakan bagaimana ia harus menjadi (sebagai makhluk sosial sekaligus individual). Rouseau kurang lebih mendeskripsikan kontrak soaial lahir dari situasi transaksional yang dimana “… tidak ada mansia yang secara kodrati berkuas atas bawahannya dan kekuayan tidak menciptakan hak …” , jadi situasi transaksional di sini mempsotulatkan bahwa tiap individu berangkat dari kekuatan menawar atau bargain power yang seimbang, karena apabila dilakukan dalam bargain power yang tidak seimbang akan mengakibatkan dominasi dan kemudian dominasi memicu konlik. Jelas apabila kondisi transaksional dalam bargain power yang seimbang tidak dapat dipenuhi, maka jelas kontrak sosial yang dikumandangkan Rouseau tidak mungkin tercapai.

Mengeliminir perbudakaan
Dari penalaran tentang konsepsi yang ditawarkan Rouseau mengindikasikan bahwa sejatinya kehadiran kontrak sosial merupakan subtitusi dari kehadiran sukarela para individu yang bertransaksi dalam keadaan seimbang kemudian memunculkan konvensi sebagai akhirnya. Jelas menurut Rouseau, “… konvensilah yang menjadi landasan atas semua otoritas yang ada di antara manusia” . Jadi kontrak sosial adalah konvensi yang sesungguhnya membangun otoritas guna mencapai keadaan tertib sosial, otoritas disini tidak memakai hubungan hirarkis atas bawah dengan para orang yang menyepakati ke dalam kontrak ini. Otoritas yang dimaksud disini dapat diidentikan sebagai suatu pemerintahan. Akibat otoritas tersebut sesungguhnya ada hanya karena mendapat legitimasi dari masyarakat sekaligus juga karena harus mendapat legitimasi baru otoritas ini valid maka untuk dapat melakukan apapun harus mendapat legitimasi dari masyarakat, dia tidak bisa gerak bebas, jadi pada akhirnya dengan logika kontrak sosial Rouseau perbudakaantelah tereliminasi dari kemungkinan yang dapat berangkat dari kontrak sosial, yang ada adalah masyarakat yang berdaulat.

“General Will” atau Kehendak Umum
Sesungguhnya kehendak umum atau general will adalah pokok utama yang Rouseau kemukan sebagai jalan keluar, namun kedepannya sekaligus juga menjadi celah kegagalan dalam kemapanan teori kontrak sosialnya dalam kerangka filsafat sosial. Kehendak umum, seperti namanya adalah wujud kesatuan yang umum dari segala ragam kehendak per-individual yang didapat dengan menarik benang merah padanya, sehingga relatif tidak akan perbedaan mendasar di dalamnya, yang ada hanya kesamaan yang mendasar kurang lebih seperti “… kehendak tunggal yang berkaitan dengan keamanan dan kesejahteraan bersama” . Lebih jauh, kehendak umum juga memungkinkan warga masyarakat tidak menyerahkan dirinya kepada kewenangan orang lain, melainkan kepada pemerintahan yang berdasar hukum juga perundang-undanannya. Oleh karena pembentuk peraturan dan perundanagan adalah rakyat sendiri , sebagai perwujudan dari kehendak umum.
Jadi, cukup jelaslah mengapa “kehendak umum” telah menjadi bagian terpenting dalam kontrak sosial versi Rouseou tidak lain adalah karena kehendak umum memungkinkan sebuah konsensus yang diharapkan Rouseau dan bahkan mampu menjadi pertanyaan utama tentang bagaimana individu menempatkan diri dalam masyarakat, dan apabila sudah masuk ke dalam masyarakat akankah ia kehilangan dirinya; dengan kehendak umum jelas setiap individu tidak mungkin akan kehilangan dirinya sendiri karena dalam otoritas yang menjadi payungnya sesunggguhnya adalah pengkristalan kehendak hakikiki kedirian. Lebih jauh Rouseau menegaskan bahwa agar kehendak umum tetap terjaga keutuhannya, maka dalam proses pembuatan undang-undang yang fundamental, tidak boleh ada yang diwakili. Pendelegasian hanya dapat dimungkinkan apabila menyangkut pelaksanaan peraturan tersebut. Memang pada akhirnya pengadaan khendak umum sama artinya dengan mempercayai bahwa setiap orang akan mampu mengetahui dan sadar apa yang sesungguhnya menjadi kehendak umum, jalan keluarnya menurut Roseau agar tiap orang mempunyai kesadaran dan sikap-sikap dan perilaku umum sejalan, maka Roseau menyatakan bahwaharuslah ada agama politik atau civil religion untuk mengisi ruang kosong tersebut, namun dalam ranah privat setiap orang tetap dimungkinkan untuk memilki agama yang mereke pilih, selama tidak bertentangan dengan civil religion.

Reproduksi Makna Kehendak Umum, Mayoritas, Minoritas; Kegagalan voting
Makna kehendak umum yang sejatinya kurang lebih berarti pengkristalan kehendak bersama atau dalam istilah Rouseau pribadi publik memang adalah kesempurnaan wujud dari kehendak umum. Namun kehendak umum tidak berhenti pada tahap tersebut, melainkan terus bergerak saat berupaya mewujud dan turun pada level praktis, artinya reproduksi makna telah berlangsung, yakni saat kehendak umum melahirkan beberapa implikasi dan pembentukan ulang maknanya yang tidak terelakan, hal inilah yang akan dibicarakan dalam pembahasan di bab ini.
Apa yang telah dilahirkan oleh kehendak umum saat bergerak mendekati ranah praksis mencoba melampaui batas utopisnya,sebuah perjalanan untuk merumuskan apa pribadi publik. Yang dimaksud disisni adalah Rouseau mencoba mengatasi permasalahan yang belu mmapu sigapai oleh keberadaan civil religion,terutama perihal bagaimana kehendak umum dimungkinkan didapat secara singkat dan relatif stabil perihal konflik yaitu dengan jalan voting . Voting, akhirnya dianggapnya mampu mencerminkan kehendak umum dalam masyarakat.
Mulai dari tahapan inilah kehendak umum telah direproduksi maknanya, suatu kelemahan dalam pemikiran Rouseau. Kehendak umum yang tadinya merupakan arah yang disepakati bersama dengan nada afirmatif, dengan voting nilainya tidak lagi dalam taraf afirmatif, melainkan menjadi sebuah pe-negasi-an akan adanya kehendak yang dimiliki oleh setiap orang tanpa terkecuali. Konsekuensi yang muncul mengikutnya lebih dashyat, yakni kemunculan dikotomistik majority (mayoritas) dan minor (minoritas). Efek luar biasa dari dikotomistik ini adalah apa yang telah disampaikan oleh majority seakan mencerminkan kehendak umum, sebaliknya minority diartikan sebagai yang tidak sejalan dengan kehendak umum sehingga tindakan menghancurkan bagian minoritas dapat dibenarkan dengan dalil yang mayoritas adalah kehendak umum, jadi sah- sah saja apa yang menghambat kehendak umum diberantas,dalam hal ini adalah minoritas.
Jelas impliksinya cukup mengejutkan, apa yang dapat disimpulkan dari penjabaran di atas adalah dengan voting mengimplikasikan dikotomisti minor dan major, minor dan major mengimplikasikan majority sebagai sesuai dengan kehendak umum, sedangkan minority bertentangan dengan kehendak umum. Implikasi akhirnya adalah ternyata Rouseou tidak dengan mekanisme voting yang ia tawarkan tidak lagi konsekuen dengan apa yang ia perjuangkan di awal, dimana ia “berjanji” bahwa “… tidak ada anggota yang tidak mendapatkan hak yang sama dengan yang telah diberikan kepada orang lain, maka ia mendapatkan hal yang setara dengan apa yang telah diberikannya, serta tambahan kekuatan untuk melindungi dirinya” . Voting yang telah menjadikan dikotomistik majority dan minority yang suka tidak suka telah memberikan strata, jadi tidak ada lagi kesetaraan. Jebakannya adalah begini; kalu tiap individu punya hak yang sama untuk menentukan arah negara, mengapa pada akhirnya apabila di voting sekelompok menjadi individu harus mengalah pada mayoritas, jadi minoritas sudah kehilangan haknya untuk merumuskan yang terbaik untuknya dan diharuskan menuruti apa yang dianggap kehendak bersama yang paling baik dengan men-subtitusi kata majority will dengan general will yang jelas-jelas berbeda, inilah kelemahan fatal voting. Yakni bagaimana kebenaran tidak ditentukan lagi lewat aspek aksioma kualitatif melain hanya ditentukan oleh jumlah atau kuantitas sedangkan bisa saja kebenaran yang kualitatif tidak menempel pada yang jumlahnya banyak.

Kesimpulan
Melalui pembahasan singkat yang lalui sebelumnya ada beberapa hal yang dapat kita tarik dari penalaran kerangka filsafat sosial. Yang terutama adalah konsepsi kontrak sosial yang ditawarkan oleh Rouseou tidak dapat dipungkiri memang benar telah memberikan pedoman sekaligus harapan kepada individu bahwa dalam menghadapi kehidupan sosialnya , ia telah dijamin tidak akan kehilangan kedirinannya apalagi menjadi budak, karena idealnya konsep Rouseau mancoba membentukankedaulatan dalam ranah sosial yang berangkat daru kedaulatan dan kehendak individu. Namun konsepsi kontrak sosial Rouseau ternyata masih memiliki beberapa kekurangan apabila masuk ke dalam ranah praksis, cara yang digunakannya ternyata malah bertentangan dengan apa yang mendasari keberadaan kontrak sosial yang ia usung. Kehendak umum bukan lagi menjadi benang merah yang ditarik dari tiap individu, melainkan malah menjadi sarat dominasi, artinya apabila kehendak umum yang diartikan sebagai kepentingan seluruh masyarakat terancam maka apa yang mengancamnya dibenarkan dapat dihancurkan. Implikasinya jelas dominasi yang Rouseau coba hindari sejak awal agar individu dalam masyarakat tidak akan kehilangan kediriannya apabila masuk ke kontrak sosial kembali menjadi momok yang menakutkan bagi individu. Namun bukan berarti konsepsi kontrak sosisal yang ditawarkan Rouseau tidak dapat diterima sama sekali, sebaliknya Rouseau penulis pikir telah memberikan sumnagsih besar bagi apa yang ditujunya. Jadi, apa yang dapat penulis simpulkan dari pembahasan ini adalah untuk menunda penilaian mutlak bagi konsepsi kontrak sosial Rouseau, sejauh konsepsinya masih dapat diajadikan acuan bagi pertanyaan-pertanyaan filsafat sosial dan membiarkannya menjadi dimensi yang transaksional.

kolonisasi


Pada tahun 1947 seorang mantan insinyur AL USA bernama William Levitt mulai membangun kawasan suburban yang pada kemudian hari menjadi kawasan paling terkenal di USA. Ia menciptakan sebuah fenomena yang dampaknya tak terlupakan bagi warga Amerika utara : rumah petak suburban. Rumah petak Levitttown ini dibangun secara massal dan seragam dengan maksud keuntungan produksi yang maksimal dan dapat diproduksi dengan kecepatan yang luar biasa. Pada masa itu, pembangun hanya mampu membangun lima rumah per tahun, namun Levitt mampu membangun tiga puluh rumah per hari dengan harga yang tak terkalahkan. Metode Levitt ini kemudian langsung ditiru oleh para developer seantero Amerika Utara.

Lewis Mumford, seorang kritikus masyarakat menggambarkan daerah suburban ala Levittown sebagai rumah seragam yang tanpa bisa dibedakan, berbaris kaku pada jarak yang seragam, di jalan yang seragam, ditinggali oleh orang – orang dari kelas yang sama dengan penghasilan yang sama, serta kelompok usia yang sama. Mumford tentu saja naik pitam. Tidak hanya rumah, bahkan ketika model bisnis waralaba menjadi sangat populer, satu demi satu area kehidupan tampaknya menjadi korban kecenderungan homogenisasi kapitalisme. Hingga lima puluh tahun kemudianpun kecemasan ini menjadi semakin akut. Dengan berkembangnya globalisasi, banyak orang takut bahwa keseragaman budaya yang telah mengharu biru di AS akan menyebar ke seluruh dunia dan menghapus budaya non barat karena menyerap semua orang ke dalam jaringan tak pandang bulu dari kapitalisme konsumen yang menggila. Lalu, akan timbul pertanyaan. Benarkah kapitalisme mengandung kecenderungan homogenisasi?

Perumahan suburban model Levittown ini tentunya ini berdampak besar pada imajinasi populer sampai sampai banyak diskusi kritis mengenai masalah urban yang sama sekali terputus dari realitas suburban modern. Bahkan ketika perumahan Levittown ini berganti strategi dalam penjualan, masyarakat urban tidak langsung tahu. Perubahan strategi penjualan rumah Levittown ini berupa “opsi – opsi” yang pada akhirnya dapat dikatakan sebagai pemesanan rumah berdasarkan keinginan konsumen itu sendiri namun tetap dengan sistem produksi yang massal. Dampak teknik konstruksi yang fleksibel ini berkembang sedemikian rupa sampai orang tak lagi membutuhkan keseragaman untuk mencapai penghematan dana yang didapat dari teknik produksi massal. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa homogenitas yang dikait kaitkan dengan sistem produksi massal bukanlah ciri intristik “masyarakat massa” melainkan hanyalah tahap dalam perkembangan daya produksi. Jika teori ini benar, kapitalisme yang membutuhkan keseragaman konsumen demi penciptaan hasrat homogen guna mengatur surplus barang yang identik seerta diproduksi secara massal, namun pada kasus ini produksi massal tidak lagi mensyaratkan produksi barang yang identik, maka sudah tidak ada lagi alasan untuk menganggap bahwa kapitalisme membutuhkan keseragaman.


Entah Karl Marx  menyadarinya atau tidak, sampai tulisan ini dibuat, jauh hari setelah kematiannya di tahun 1883,  lebih dari satu abad yang lalu. Pemikirannya masih terus mempengaruhi seluruh penjuru dunia. Tanpa seorang Karl Marx tidak mungkin ada serangkaian revolusi yang akhirnya menyebabkan perpecahan antar utara dan selatan[1], tidak mungkin ada revolusi Lenin di Uni Soviet pada tahun 1917 yang menggulingkan sang Tsar yang agung menurut narasi feodalistis  tidak mungkin ada  ;  singkatnya kapitalisme yang dianggap Karl Marx sebagai musuh bagi peradaban secara umum belum dapat dikalahkan,classless society sebagai cita-cita sekaligus tujuan akhir pemikiran Marx sampai hari ini belum dapat terwujud. Sebaliknya Kapitalisme yang jadi musuh malah langgeng  bahkan malah semakin besar karena kapitalis jadilah classless society yang diidamkan Marx sebagai utopia.

Sekalipun pemikiran Karl Marx pada akhirnya dianggap masih belum dapat mampu lepas dari ranah utopia ke ranah praksis, pemikiran Marx masih terus diperbincangkan dalam upaya pembaharuan artinya jelas, konsepsi kapitalime sebagai musuh besar penderitaan kaum buruh maupun tentang ramalan kehancurannya, class society sebagai jalan keluar  masih diminati masih relevan dengan tuntutan adab yang selalu bergerak, seperti materialisme dialektis dalam kesejarahan yang dijunjungnya. Dalam pembahasan kali ini penulis membatasi analisis pada teori Karl Marx serta tawaran Antanio Gramscy dalam upaya pencarian kegagalan setelah serangkaian kegagalan Marxisme awal dan tentu berbagai kekurangan di dalamnya.

Serangkaian pemikiran Karl Marx dimulai dengan materialisme dialektisnya yang juga memperhatikan penyejarahan, di sini titik berangkat Marx dapat dipahami secara singkat bahwa sebenarnya society tidak lepas dari tahapan-tahapan penyejarahan yang terus berkembang dan berdialektis khas Hegelian; dimulai barbar society sebagai thesa, capitalism society[2] (anti-thesa), dan pada akhirnya cllassless society sebagai sintesis antar keduanya. Melalui pemahaman ini, arah pemikiran Marx jelas, yaitu bahwa setelah melewati tahap barbarian, society akan berjibaku di tahap capitalism society dimana kaum buruh/proletariat dibuat dengan sukarela menerima dan melanggengkan keinginan para pemilik modal, yang dapat muncul menurut Marx karena adanya kepemilikan pribadi celakanya kaum buruh tidak menyadarinya karena ada kesadaran palsu yang melekat padanya. Kesadaran palsu dilanggengkan kaum pemilik modal melalui ideologi yang bergema di ranah superstucture dalam masyarakat, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada basis struktur masyarakat yaitu ekonomi. Adapun yang dimaksud sebagai suprasructure adalah institusi agama,pendidikan,media massa dan sebagainya[3]. Classless society akan dapat tercapai disaat kapitalisme menemui kehancurannya sendiri dan pada akhirnya kaum buruh akan menyadari bahwa selama ini mereka berada pada tatanan kesadaran yang palsu, false conciousness. Disini dapat disimpulkan bahwa ternyata ideologi menurut Marx telah salah membaca realitas akibatnya, hal ini dimungkinkan karena ideologi merupakan badian dari superstructure dan pada akhirnya ideologi membuat kesadaran tereduksi.Jelas juga “kejahatan” kapitalisme yang dimaksud oleh Marx, yaitu di saat kaum buruh yang menerima dengan sukacita segala realitas yang ada dan akhirnya terasing dengan kerja yang seharusnya menjadi wujud aktualisasi diri manusia[4] karena ia terasing dengan komoditas yang ia ciptakan.

Sekilas memang pemikiran sekaligus ramalan Karl Marx soal munculnya classless society beriringan dengan kehancuran kapitalisme seakan cukup rigit, bahkan sempurna. Namun perihal kegagalan revolusi yang mendasarkan pada konsepsi Marx terkait  tidak lagi dapat dipungkiri. Bahwa mungkin ada kesalahan akan prakteknya ataupun bahkan penafsirannya pada pembahasan kali ini terpaksa penulis singkirkan, hal tersebut tidak lain karena tanpa kesalahan di level praktispun banyak pemikir yang merasa ada kekurangan mendasar pada konsepsi Marx dan dalam peembahsan kali ini penulis mencoba memaparkan apa saja kekurangan dari konsepsi Marx atas dasar kerangka pikir Antonio Gramscy.

Antonio Gramscy, dalam kritiknya akan konsepsi Marx yang telah dibahas di atas, memulainya dengan menjabarkan bahwa Marx telah salah menganalisa  letak sebenarnya dari ideologi. Ideologi menurut Marx sesungguhnya merupakan false conciousness (kesadaran palsu) yang sesungguhnya serat kepentingan, dalam hal ini adalah kepentingan kaum pemilik modal. Lebih jauh menurut Karl Marx, ideologi terletak di suprastructure walaupun ideologi sebenarnya merunut deteminasi dari basic structure. Menurut Gramscy letak sesungguhnya dari ideologi yang telah menyebabkan kesadaran palsu bukanlah merupakan gagasan apalagi determinasi dari basis ekonomi melainkan menyangkut tuturan kata,sikap dalam ranah keseharian, Gramscy membawa ideology pada practical things bukan lagi pada tatanan konseptual. Inilah kritik pertama Gramscy terhadap Marx, namun kritik pertama ini punya implikasi lanjutan, sebagai konsekuensi logisnya dan akan mendasari kritik-kritik selanjutnya. Yang selanjutnya dikritik oleh Antonio Gramscy adalah tidak ada lagi kesadaran partikular, kesadaran kelas. Alasan Gramscy adalah ideologi yang katakanlah membentuk kesadaran (palsu) berada pada practical things, yang kemudian menunjuk popular conciousness .Popular conciousness mengindikasikan bahwa kesadaran yang ada di sini adalah kesadaran populer, artinya milik semua orang tanpa memandang kelas. Jadi jelaslah mengapa Gramscy dapat mengatakan bahwa tidak ada kesadaran kelas.Pertanyaan selanjutnya adalah, kalau ruang ideologi hanyalah pada ruang popular conciousness lalu bagaimana ideologi mampu menjerat ruang-ruang lainnya sehingga kapitalisme bisa berjalan sebagai totalitalitas kemasyarakatan (society). Menjawab pertanyaan itu, Antonio Gramscy menawarkan konsepsi hegemoni sebagai jawabannya. Menurutnya ideologi dapat melanggengkan cengkramannya dengan bantuan hegemoni yang menurutnya bisa berupa hegemoni sebagai coercive apparatus (polisi, tentara, dll)[5] namun tujuan tetap sama yaitu dengan jalan memenangkan sekaligus menguasai konsepsi (ideas) melalui persetujuan. Menurutnya letak hegemoni berada dalam ranah civil society, bukan pada political ataupun economics. Keberadaan hegemoni[6] mengindikasikan keberadaan otoritas yang mneciptakannya sekaligus menggunakanya. Menurut Gramscy, hegemoni yang bekerja di semua aspek ini mempostulatkan penciptanya sekaligus pengaturnya.hegemoni terinternalisasikan dalam diri individu sehingga keberadaan The ruling authority[7] dapatlah dilacak. Namun harus dipahami bahwa sekalipun Gramscy memperkenalkan dua macam hegemoni, ia cenderung menitikberatkannya pada hegemoni yang bergerak pada dan sebagai bermacam-macam institusi dari civil society bukan sebagai coercive apparatus. Seperti apa yagn tercermin dalam kutipan ini : “What we can do, for the moment, is to fix two major superstructural ‘levels’: the one that can be called ‘civil society’, that is the ensemble of organisms commonly called ‘private’, and that of ‘political society’, or ‘the state’. These two levels correspond on the one hand to the function of ‘hegemony’ which the dominant group exercises throughout society and on the other hand to that of ‘directed domination’ or command exercised through the state and ‘juridical government’.”[8]

Perbedaan antara Karl Marx dan Antonio Gramscy yang lain adalah mengenai jalan menuju tujuan mereka yang sama yakni runtuhnya kapitalisme dan kemunculan classless society sebagai gantinya. Menurut Marx, seperti yang telah diuraikan pada bagian awal pembahasan ini, revolusi dalam upaya mencapai tujuan akan menunngu runtuhnya kapitalisme akibat sitemasi kapitalisme itu sendiri[9] baru proletariat mampu menyadari kalau selama ini mereka terjebak dalam false consiousness yang sama sekali tidak berkorespondensi dengan realitas material kemudian melalui revolusi itu classless society barulah dapat terbentuk. Sebaliknya, Gramscy berpendapat bahwa revolusi yang diidamkan dapat tercapai  tidak hanya dengan satu jalan, karena sekalipun ideologi telah dilangggengkan dengan hegemoni dari kepentingan kaum pemilik modal sejatinya masih terdapat rongga. Rongga tersebut tidak lain adalah ruang dimana organic intelectual dapat mengisinya,yang kemudian dapat memimpin perlawanan. Disinilah pentingnya  peran partai politik[10] menurut Gramscy yakni mengisi celah sempit tersebut dan mempersiapkan organic intelectual yang diharapkan menjadi penyadar bagi proletariat dan memahami sekaligus menemukan kesadaraan kelas sesunggunya ataupun kepentingan ekonomi mereka. Sehingga pada akhirnya organic intelectual kaum buruh akibat telah memiliki kesadaran yang sesungguhnya dan mampu mengidentifikasi hegemoni yang menjerat mereka selama ini, berangkat dari situ kaum buruh sesuai dengan terminologi yang diperkenalkan Antonio Gramscy terlebih dulu dipersiapkan sebelum pada akhirnya bermanoevre pada perang sesungguhnya, revolusi. Jadi, menurut Gramscy upaya mewujudkan revolusi yang diidamkan tidak berhenti samapai menunggu kegagalan kapitalisme,melainkan haruslah ada tindakan aktif yang pada akhirnya secara tidak langsung akan menetapkan kapan revolusi berlangsung berdasar pada kesiapan kaum buruh bukan lagi ditentukan oleh blunder kaum kaiptalis. Ideologi jelas bukanlah satu-satunya cara.

Apa yang membuat Antonio Gramscy begitu berbeda dengan konsepsi awal Marx adalah, Gramscy menwarkan terminologi dalam pemikirannya yang lebih dalam tendensi kedekatan akan aspek kultural yang juga menekankan aspek moral dan intellectual tidak melulu lagi layaknya Karl Marx yang terlalu menekankan aspek ekonomi sebagai keutamaan pemikirannya. Gramscy menolak determinisme ekonomi yang mekanistis. Namun sekalipun pemikiran Gramscy dalam upaya penyempurnaan terhadap apa yang dianggapnya “kurang” dari konsepsi Marx, apa yang ditawarkannya sebagai jalan keluar ternyata masih mengandung berbagai kelemahan terkusus permasalahan intelectual organic yang dipersiapkan lewat rongga dari heggemoni kaum pemiklik modal oleh partai komunis, di rongga itu diharapkan partai komunis mampu mempersiapkan, namun sejauh mana Partai Komunis memberikan didikan yang “benar-benar benar”. Karena bukankah dengan penggantungan harapan pada partai komunis seperti yang diutarakan Gramscy sama artinya mempercayai bahwa Partai komunis layaknya Dewa yang mampu memutus dengan kesempurnaan, paling tidak mana yang baik dan mana yang buruk bagi masyrakat. Tidak hanya sampai disitu, ada keraguan bagaimana partai komunis mampu lepas dari jebakan akan hegemoni yang dikritiknya,hegemoni yang sarat kepentingan satu pihak dan “memaksa” pihak lain.

Berangkat dari apa yang telah dijabarkan sepanjang pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ternyata Marx dan Gramscy sepakat soal menempatkan ideologi dan kapitalisme sebagai tantangan utama menuju revolusi, bahwa kemudian Gramscy mmenambahkan tema hegemoni tetap dalam kesamaan dengan pemikiran Marx. Namun, perbedaan antar keduanya layaknya dua kutub berbeda, yang harus digarisbawahi adalah ternyata perbedaan yang sebenarnya berangkat dari kesamaan keduanya bisa muncul karena penafsiran yang berbeda,  setidaknya ada satu kesamaan yang pada akhirnya tidak tercerna menjadi perbedaan, yakni menolak akan keberadaan sesuatu dalam nilai mutlak dan pada akhirnya mengesampingkan keberadaan sang lain, yang kemudian hari kita dapati menjadi cirikhas era posmodern.


[1] Memang acuan geografis, namun tidak sebatas itu melainkan juga karena perbedaan ideologi antarnya.

 

[2] Dalam artian society yang realitaasnya diisi kesadaran palsu , kesadaran yang dibentuk kapitalist

[3] Santoso, Listiyono. Dkk. 2007, Epistemologi kiri,Jogjakarta:Ar-Ruzz Media. Hlm26

[4] Hal ini sejalan dengan pandangan Marx terhadap realitas, bahwa realitas sesungguhnya hanya terdiri soal material belaka, Matterialisme sebagai junjungan ontologis pemikirannya.

[5] Routledge Ensclopedia of philosophy. Hlm 3227

[6] Hegemoni dalam penekannya mengidentikan kata ini sebagai kata kerja, sehingga penggunaan kata hegemoni disini tidak mungkin dalam tendensi pasif.

[7] Dalam hal ini adalah kaum pemilik modal.

[8]

[9] Yaitu di saat kapitalisme menggiring penggantian tenaga buruh dengan mesin sehingga buruh dirumahkan, tidak mendapat gaji akan kehilangan daya belinya. Sehingga pada akhirnya akan membuat surplus supply yang dasyhat namun demmand yang minimalis.

[10] Partai politik disini mengacu pada partai sosialis dan partai komunis Italia, Gramscy telah mencoba jalan ini dengan terlibat langsung, bergabung dengan partai sosialis di awal perjalanan politiknya maupun partai komunis Italia dimana ia akhirnya menjabat sebagai Sekjen partai tersebut sebelum dipenjara oleh rezim facis pimpinan Musolini.