Diawali dengan pengenalan Plato sekitar abad ke 3 sebelum masehi pada konsepsi dunia idealnya yang selama ini dapatlah kita pahami sebagai salah satu konsepsi paling dasar dari upaya eksplanasi sebuah unsur transenden adi kodrati yang kelak peradaban selanjutnya definisikan dalam terminologi Tuhan[1]. Pada rangkaian tradisi filsafat barat selanjutnya pun menaruh perhatian yang begitu besar dalam kaitannya dengan terminologi dalam filsafat ketuhanan, yang mana menemukan kejayaannya pada abad pertengahan. Bahkan akibat terpusatnya pada konsepsi ketuhanan yang terlampau marak dan juga karena otoritas gereja yang begitu kuat saat itu filsafat bukan saja “hanya” terlampau fokus dalam terminologi Tuhan bahkan filsaat seakan-akan telah menjadi hamba bagi teologi, “ancila theologia[2]. Sampai pada era itu terminologi Tuhan masih mengalun dalam harmonisasi pemikiran yang dalam tendensi mengafirmasi keberadannya.

Akan tetapi, rasa ingin tahu manusia yang begitu besar telah membawa perubahan yang begitu signifikan dalam ranah filsafat ketuhanan. Filsafat ketuhanan yang sampai awal abad pertengahan menjalankan fungsi sebagai uapaya rasional logis yang mencoba menjelaskan Tuhan kemudian mengalami transformasi seiring dengan gerak roda peradaban, hentakan tersebut diawali dengan menyeruaknya konsep heliosentris yang diperkenalkan di sekitar abad 16 oleh Copernicus yang menyatakan bahwa pusat dari tata surya bukanlah bumi sebagaimana dikatakan dalam alkitab[3] melainkan matahari. Hal tersebut telah memberikan suatu gebrakan besar yang tak terelakan dalam tradisi teologis theistik saat itu, tafsir ketat tekstual akan kitab studi terkhusus kitab perjanjian lama yang menyatakan bumi sebagai pusat  semessta seakan menemui ajalnya.

Kejayaan kerangka pikir positivistis logis yang menjadi sebuah narasi besar di sekitar penghujung era modern pun terus memberi tantangan bagi kaum teistik untuk kembali merekonstruksi posisinya, dalam artian filsafat ketuhanan pada akhirnya bukan hanya menjadi sebuah benteng pertahanan bagi teisme namun juga sekaligus senjata ampuh bagi atheisme untuk menyerang tradisi besar teologis ataupun theisme secara umum. Sebut saja Karl Marx yang sekalipun baru berbicara dalam tatanan anti agama yang dianggapnya sebagai candu masyarakat, Freud yang dengan pendekatan psikoanalisanya menyatakan Tuhan sebagai ilusi hasil represi alam bawah sadar ataupun Daniel C. Dennet yang cukup dikenal sebagai tokoh atheisme kontemporer. Akan tetapi dalam pembahasan ini penulis tidak akan memberikan uraian terhdap ketiga tokoh atheisme tersebut, dalam pembahasan ini akan kita batasi dengan manjadikan Richard Dawkins sebagai bahasan utama karena penulis menganggap Dawkins selain berangkat dari pendekatan yang lebih pop juga penulis anggap dapat mencerminkan runutan atheisme yang hendak diperkenalkan dalam pembahasan ini.

Sehingga pada akhirnya apa yang menjadi pembahasan kali ini akan dibatasi dalam ranah memahami apa yang dijadikan konsepsi ateisme dari seorang kelahiran Nairobi, Kenya yang bernama Richard Darwkins  dimana kritik sebagai tujuan akhirnya sehingga terlebih dahulu pembahasan akan menerangkan apa pandangan Dawkins terkait filsafat ketuhanan, apa yang menjadi pendasaran bagi pandangannya tersebut dan terakhir pembahasan akan diakhiri dengan kritik akan konstruksi akan pemikirannya.

Kerangka dasar

Menyelaraskan Atheisme dan seorang Richard Dawkins bukanlah suatu hal yang aneh, Dawkins sendiri melalui karya-karyanya memang dengan secara gamblang memperkenalkan konsepsi atheisme. Pada rangkaian awalnya atheisme diperkenalkan Dawkins merupakan respon dari serangkaian kejadian yang membuktikan bahwa agama kerap kali malah menjelma  sebagai fundamen absolutnya bagi kejadian yang merusak ataupun melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Ditambah lagi menurutnya agama terkhusus agama-agama besar semisal agama semitis telah memberikan perlakuan yang tidak adil dalam kehidupan bermasyarakat. Uraian pada bab ini merupakan suatu pembahasan yang mencoba memperkenalkan sekaligus menarik pembedaan antara atheisme yang selama ini kenal dan atheisme yang sesungguhnya dijunjung Dawkins.

Lebih jauh, Richard Dawkins melalui buku-buku karangannya yakni; The Selfish Gene (1976), The Extended Phenotype (1982), River Out of Eden (1995) , Climbing Mount Improbable(1996), Unweaving the Rainbow (1998), A Devil’s Chaplain (2003), The Ancestor’s Tale(2004) , The God Delusion (2006) , The Greatest Show on Earth (2009) sekalipun berbicara tentang berbagai varian berbeda namun secara umum keseluruhannya memperkenalkan atheisme sebagai sebuah kepercayaan, bukan lagi sebuah ketidak percayaan. Bahwa memang atheisme beranjak dengan pada awalnya menegasikan eksistensi Tuhan menurut Richard Dawkins cukup menjadi batu pijakan awal, tidak lebih. Dalam artian bahwa atheisme menurutnya juga merupakan perjuangan emansipatoris dimana atheisme tidaklah hanya bergerak dalam ranah religiusitas namun juga masuk ke dalam ranah sosio politik yang praktis tidak lagi hanya sekedar wacana dalam ranah perdebatan konseptual.

Ilustrasi 1

Ilustrasi di atas merupakan salah satu contoh yang menunjukan bagaimana atheisme dalam opini umum yang kurang lebih menjadi keluhan yang dilontarkan Dawkins dimana atheis sebagai terminologi telah dilekatakan oleh anekdot keseharian, antara lain kaum atheis yang dianggap memiliki kebebasan yang terlalu berlebih sehingga pada akhirnya melupakan tuhan; kaum atheis yang selama ini dianggap jatuh pada dekadensi moral, dll. Menanggapi anekdot yang beredar dalam masyarakat tersebut dawkins menjawabnya dengan menyatakan bahwa tidak ada bukti akan hal tersebut malah sebagaimana dijabarkan dalam data yang didapat Dawkins[4].

Sekalikpun Dawkins menolak beberapa aspek pada ilustrasi 1 di atas untuk dilekatkan pada atheisme , namun tidak berarti ilustrasi tersebut salah secara keseluruhan. Ada beberapa hal yang penulis pikir sesuai dengan pandangan yang diperkenalkan Richad Dawkins yakni bahwa penekanan atheisme yang dijunjung Dawkins memang sejatinya berasal dari konsekuensi logis dalam ilmu alam, dan terkhusus teori evolusi yang diperkenalkan Darwin di sekitar abad 19. Sehingga ungkapan yang menyatakan individu pada ilustrasi di atas merupakan keturunan dari monyet dengan segala cirinya (dalam ilustrasi di atas hanya disebutkan salah satu cirinya) sekalipun mungkin memang ditujukan sebagai ejekan namun bagi Dawkins hal tersebut merupakan tata keniscayaan yang tidak terelakan.

Tentu saja kepercayaan tersebut bukanlah aksi intuitif yang sifatnya spekulasi belaka, mengingat pendasaran Dawkins berangkat dari pribadinya yang seorang akademisi zoologi yang tentu saja akrab dengan biologi secara umum. Tentang bagaimana derivasi dari runut pemikiran Darwin terkait hal tersebut dan tentunya atheisme akan dibahas pada uraian di bab-bab selanjutnya.

Dalil Pengingkaran Eksistensi Tuhan

Sebelum berangkat lebih jauh untuk dapat menalar atheisme Dawkins secara utuh, bab ini akan mencoba memperkenalkan dalil-dalil dari seorang Richard Dawkins dalam bukunya yang berjudul “God Delusion” dimana ia mencoba mengungkapkan argumennya dalam dua jalan yang berbeda sekalipun memang pararel. Jalan pertama argumen Dawknis berangkat dengan menegasikan terlebih dahulu segala rangkaian argumen yang menuju pengafirmasian keberadaan eksistensi Tuhan , sedangkan jalan yang kedua langsung menyerang sebagai argumen yang menjelaskan mengapa hampir pasti eksistemsi Tuhan tidak ada.[5]

Bahwa memang terminologi naturalistik, evolusi, seleksi alam dan  lain-lain akan banyak disebutkan, akan tetapi memang belum akan dibahas secara mendalam di bab ini dengan alasan bab ini memang merupakan pengenalan dan pembahasan serta analisi baru akan kita bahas dalam bab”merunut derivasi nalar Dawkins.”

Adapun argumen yang berangkat dengan menegasikan terlebih dahulu segala rangkaian argumen yang menuju pengafirmasian keberadaan eksistensi Tuhan, yang saya sebut sebagai jalan pertama adalah sebgai berikut[6] :

  • Argumen “The Ultimate Boeing 747”

Argumen ini sesungguhnya berangkat dari rangkaian teminologi yang diperkenalkan oleh seorang astronom berkebangsaan Inggris bernama Fred Hoyle. Dimana Daekins melengkapai pernyataan Hoyle yang sering dipinjam kaum kresionisme yakni bahwa probabilitas kehidupan di bumi lebih kecil daripada kemungkinan badai menyapu potongan-potongan besi dan merangkai sebuah boeing 747 yang ditanggapi Dawkins dengan menyatakan bahwa hal tersebut (argumen Hoyle) justru haruslah dipandang sebagai argume yang menegaskan ketiadaan eksistensi Tuhan. Hal tersebut disebabkan oleh karena menerima keberadaan Tuhansama sulitnya dengan menerima keberadaan badai yang mampu merangkai Boeing 747.

  • § Natural Selection as a Consciousness-Raiser

Dalam argumen ini Dawkins mencoba menjelaskan mengapa eksistensi Tuhan tidak dimungkinkan dengan berangkat dari keberadaan alam semesta beserta isinya yang sebenarnya dapat dijelaskan dengan sangat baik oleh teori evolusi yang diperkenalkan oleh Charles Darwin yang menekankan kosepsi seleksi alam. Menurut Dawkins Seleksi alam juga merupakan variabel kompleks namun tunggal juga mengangkat/membangkitkan kesadaran individu manusia.

  • § irreducible complexity atau “kompleksitas takterkurangi”

Seperti halnya argumen “boeing 747”, argumen ini juga dipinjam Dawkins dari pemikir lain, kali ini Dawkins meminjamnya dari pengarang “Darwin’s Black Box” yang terbit di tahun 1996 yaitu Michael Behe. Dimana argumen ini menyatakan bahwa ada beberapa bagian dari sistem organisme biologis yang terlalu sederhana untuk dapat berevolusi namun juga terlalu kompleks untuk dapat bermutasi. Akan tetapi dengan mudah Dawkins menyanggahnya dengan mengatakan bahwa tidak ada hal yang lolos dari konsepsi evolusi, sehingga pengegrtian yang ditawarkan oleh Michael Behe juga tidak valid menurut Dawkins. Sebagai contoh adalag permasalahan organ mata pada manusia.

  • § The Worship of Gaps

Atau dalam terjemahan bebas berarti penyembahan akan kekosongan. Sesuai namnya argumen ini amenyatakan bahwa apabila ada sebuauh kekosongan yang  dianggap belum mampu dijelaskan oleh a\ilmu pengetahuan terkhusus ilmu alam. Sebenarnya argumen ini lebih ditujukan kepada kaum creationism yang  dituding Dawkins terlalu berspekulasi dan  menyembah kekosongan perihal proses penciptaan alam  dengan menyatakan Tuhan sebagai penciptanya. Kekosongan ini, menurut Dawkins telah dibuktikan sifatnya hanya sementara dan penyembahan akan kekosongan ini malah akan semakin membuktikan bahwa penyembahan yang dilakukan mengada-ada.

  • § The Anthropic Principle : Planetary Version dan Cosmological Version

Dalam Argumen ini Dawkins menekankan bahwa sejatinya prinsip antropi (Anthropic Principle) yang menyatakan bahwa  awal kehidupan dari semesta terjadi dengan dukungan konstanta fisika serta kimia dalam kaloborasi bukan  karena diciptakan Tuhan namun karena mekanisme alam. Jadi sebenarya argumen ini juga tidak jauh berbeda  dengan  argumen sebelumnya (The Worship of Gaps) yang menyerang ranah yang sama yakni perihal hal-hal yang  belum dapat dijelaskan science namun dijadikan wilayah dalam rangka  menyembah Tuhan.

Adapun argumen yang masuk dalam kategorisasi jalan kedua adalah serangkaian penolakan akan konsepsi : 5 jalan pembuktian Tuhan menurut Thomas Aquinas . kedua, argumen dari  keindahan (The argument from beauty ) ; argumen dari pengalaman spiritual pribadi (Theargument from personal’experience’); Argumen dari kitab suci (The argument from scripture) ; argumen  Pascal’s Wager; argumen Bayesian. Yang menurut Dawkins terlalu spekulatif dan pada akhirnya mengada-ada[7]. Namun yang jelas bahwa pada akhirnya uraian ini menunjukan bahwa Dawkins dalam upayanya membuktikan ketiadaan eksistensi Tuhan  juga merunut dari konsepsi panjang yang membangunnya baru kemudian merubuhkannya.

Merunut Derivasi Nalar Dawkins

Melihat uraian dalam pembahasan pada bab sebelumnya soal rangkaian argumen Dawkins, ia mempunyai kerangka penalaran tersendiri yang menjadikan segenap argumen-argumen tersebut terkesan mempunyai satu runut. Menjadi pembahasan dalam bab ini adalah bagaimana dan darimana derivasi nalar Dawkins dalam mengeluarkan serangkaian argumen yang ada sehingga kaitan dengan perunutan yang mengacu pada pertanyaan validitas dalam penalaran pemikiran Dawkins juga tidak dapat dihindarkan.

Seperti yang sudah terlihat dan bahkan sudah di singgung dalam uraian awal, Dawkins memang mendasari segala rangkaian penalarannya dalam basis terminologi naturalistik mengingat Dawkins dalam nalarnya cukup menjunjung teori evolusi dari Darwin.Sekalipuin dalam banyak kesempatan banyak kita temui Dawkins memakai teori evolusi dalam penekanannya, namun hal tersebut belumlah mampu menerangkan apa itu sesungguhnya naturalisme dan darimana derivasi validitasnya? Naturalisme sebenarnya merupakan sebuah kerangka pikir yang hanya percaya bahwa apapu itu “bersifat nyata dan merupakan sesuatu yang terdapat dalam ruang dan waktu tertentu[8]” . Jadi jelaslah pula soal permasalahan validitas dari nalar Darwin yang hadir dalam nuansa deterministik khas naturalisme, dalam artian bahwa derministik atau kausalitas yang ditekankan Dawkins membatasi pada mekanisme ke-alam-an yang tentunya terikat konsepsi spasiotemporal.

Merunut lebih jauh ke belakang sesungguhnya naturalisme tidak lain merupakan hasil dari derivasi epistemogis materialisme dalam penekanan empiria juga keketatan berpikir khas positivisme logis. Sehingga realitas yang sebenarnya dalam kerangka nalar Darwin selalu berkutat dalam kerangka penangkapan indrawi juga haruslah dapat diuji kembali dalam pengulangan verivikasi dalam kemeruangan dan kewaktuan yang lain.

Berangkat dari pemahaman derivasi akan nalar Dawkins dapat dimengerti bahwa naturalisme yang dijunjungnya selama ini merupakan pengetahuan dalam upaya memahami kejadian-kejadian dalam relasional kausalitas. Realitas lain yang di luar prinsip-prinsip yang telah dijelaskan bagi Dawkins merupakan oposisi dari realitas sebenarnya, begitupun konsepsi perihal tentang Tuhan dimana Richard Dawkins menyebutnya sebagai delusi. Disebut sebagai delusi tidak lain karena menurutnya peradaban dalam nuansa keagamaan terkshusus afirmasi terhadap Tuhan telah membawa manusia pada kepercayaan yang irasional dalam artian tanpa pendasaran ilmiah[9] sehingga Tuhan tidaklah lebih dari delusi belaka yang sebenarnya malah menjauhkan peradaban manusia dari kenyataan/ realitas sebenarnya.

Menentang kreasionisme dengan konsepsi evolusionisme

Terkait dengan konsepsi awal semeta, sebagai konsekuensi logis dari derivasi penalarannya mencoba menjelaskan kemengadaan semesta melalui kerangka pikir evolusionisme. Mungkin secara singkat pembahasan tentang evolusionisme telah diperkenalkan sebelumnya dalam bab dalil pengingkaran eksistensi Tuhan, namun dalam bab ini penulis akan mencoba lebih mendalami problematika yang terkait di dalamnya yang tentu saja masih menggunakan perspektif Dawkins sebagai sudut pandang utamanya.

Pada dasarnya argumen evolusionisme berpendirian bahwa alam semesra terjadi akibat mekanisme kausalitas yang melibatkan variabel unsur kimia juga fisika dalam mekanismenya. Alam bukan diciptakan melainkan terciptakan, tidak ada “grand design” sebagaimana yang dipercaya kaum kreasionisme sehingga tidak diperlukan Tuhan dalam terciptanya alam semesta karena semesta tidak lain adalah ketidaksengajaan yang mengaktualisasi posibilitas yang ada. Artinya alam dengan segala keteraturannya merupakan mekanisme yang ‘tidak disengaja’ yang mana hal tersebut dapat dijelaskan melalui science.

Dalam bukunya The God Delusion (2006) Dawkins dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang yang percaya pada kerangka kreasionisme tidak lebih dari sekumpulan orang yang tidak berani, malas dan juga tidak rasional karena tidak berusaha menjelaskan alam sebagaimana fenomena kausalitas yang dapat dijelaskan oleh science namun malah mempostulatkan kehadiran Tuhan sebagai pencipta yang dinilainya tanpa pendasaran yang cukup kuat. Dawkins menganggap bahwa hal tersebut adalah upaya mencari jalan keluar yang singkat dari hal-hal yang belum dapat dijelaskan oleh alam, lebih jauh menurutnya data-data serta pengetahuan yang ada sekarang sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menyimpulkan bahwa evolusionisme adalah benar dan telah berjalan dalam semesta.

Meme dan  gen

Bahwa memang kerangka atheisme Dawkins telah dengan susah payah menjabarkan bagaimana semesta terbentuk dalam upaya penolakan keberadaan Tuhan sebagai sang pencipta, namun hal tersebut belum sama sekali belum dapat sama sekali menegasikan keberadaan Tuhan sebagai sebuah konsepsi yang senantiasa beredar dalam peradaban manusia. Singkatnya Dawkins sekalipun mencerca Tuhan sebagai delusi belum dapat menjawab argumen yang menyatakan  bahwa ‘apabila memang Tuhan tidak ada, lalu kenapa konsepsinya bisa mengada di tengah-tengah manusia’.

Konsepsi evolusi yang selama ini memang menyediakan berbagai perangkat dalam kaitannya dengan hal ini, tidak dapat dipergunakannya apaila hanya dijawab dengan menggunakan konsepsi gen. Dimana dalam bukunya the selfish gene, gen dalam eksplanasi Dawkins menyatahan The genes too control the behaviour of their survival machines, not directly with their fingers on puppet strings, but indirectly like thecomputer programmer. All they can do is to set it up beforehand; thenthe survival machine is on its own, and the genes can only sit passively  inside[10].  sebagai unsur terkecil dalam mekanisme evolusi makhluk hidup. Gen menjalankan keegoisannya dengan mempertahankan dirinya, mempertahankan diri gen dalam bentuk mereplika dirinya konsekuensinya menarik bahwa replika tersebut juga menurunkan sifat-sifat bawaan yang hereditoris. Sehingga apabila menggunakan konsepsi gen untuk menjawab maka Dawkins akan terjebak pada kesimpulan bahwa Tuhan adalah memang ada dan diturunkan oleh gen sebagai bukti ilmiahnya.

Akan tetapi Dawkins tetap bersikukuh menolak eksistensi keberadaan Tuhan sehingga satu-satunya jalan untuk menolak hal tersebut dan tetap konsisten dengan teori evolusi yang selama ini dijunjungnya adalah dengan merumuskan konsepsi tentang meme. Dimana meme berbeda dengan gen, meme memang masih dalam fungsi replikator dalam runut evolusi akan tetapi meme terikat dalam fungsi kultural bukan lagi hanya biologis seperti halnya gen.

Apa yang hendak disampaikan oleh Dawkins dengan memunculkan konsepsi meme memang masih dalam kaitannya denga menjawab problematika konsepsi Tuhan yang bisa ada  dalam peradaban dan tidak mampu dijawab dengan konsepsi gen. Dengan keberadaan meme Dawkins mencoba menjawabnya, yakni konsepsi Tuhan memang mengada dalam peradaban akan tetapi hal tersebut bukanlah suatau kemungkinan mutlak realitas namun tidak lebih dari penyimpangan kultural yang bisa bertahan karena dijembatani oleh meme.

Kesimpulan

Merunut pambahasan ini dari awal jelas dapat kita simpulkan bahwa Dawkins memang memberikan sumbangsih yang besar dalam tradisi pemikiran filsafat Islam dimana ia dengan gigih mempertahankan nalar atheismenya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jelas pula bahwa nalarnya akan memunculkan konsekuensi-implikasi yang berlaku dalam ranah teoritis juga praksis. Namun dalam pembahasan ini akan difokuskan pada implikasi konseptual belaka karena penulis menganggap belum punya sukup data yang dapat menyokong analisis implikasi prakstis.

Adapaun implikasi dalam nalar Atheisme Dawkins yang paling signifikan adalah Richard Dawkins dengan segala penekanan dalam upaya eksplanasinya memang banyak menggunakan science sebagai fondasi dasarnya, dan hal itu tidak lain kembali menempatkan science sebagai oposisi agama. Science versi Dawkins menganggap bahwa agama merupakan musuh uatamanya karena memiliki kebernaran yang saling bertentangan.

Agama dan science pun kembali masuk dalam tahapan konflik dalam konsepsi relasional akannya sebagaimana dijelaskan Ian Barbou dalam bukunya juru bicara Tuhan yang menyatakan bahawa teori evolusi bertentangan dengan keyakinan beragama[11] padahal tidak selamanya agama dan science selalu bertentangan dan berada dalam konflik. Melihat dalam perkembangannya  sebagaimana diterangkan Ian Barbour agama dan science sebenarnya dapat berintegrasi demi kebaikan peradaban manusia.

Kritik

Nalar  atheisme Dawkins sekalipun terlihat cukup menyakinkan namun jelas juga mempunyai berbagai kekurangan . Salah satu kekurangan yang paling menonjol adalah saat ia menyatakan bahwa percaya kepada Tuhan sebagai sesuatu yang spekulatif, padahal dalam pengingkaran akan Tuhan pun Dawkins masih terjebak dalam tuduhannya sendiri itu.Dalam artian bahwa pada akhirnya banyak hal yang belum mampu dijelaskan ilmu pengetahuan secara mutlak. Sehingga memilih tidak percaya sebagai atheisme pada akhirnya malah mereduksi posibilitas lain yang sebenarnya masih beredar.

Kritisi lain yang dapat kita lakukan terhadap pemikiran nalar atheisme Dawkins adalah soal derivasi epistemologisnya yang masih begitu terpaku pada positivisme yang tidak mampu menampakan dan menjembatani realitas-realitas yang tidak terukur. Kesadaran manusia pun direduksi dengan pendasaran yang seperti itu, dimana kesadaran manusia hanya dilihan paradigma evolusionistik sebagai sebuah jaringan kedirian yang dibuat dari gerak-gerak tidak sadar molekul juga semprotan elektrokimiawi dalam otak.

Daftar Pustaka

Dawkins, Richard. 2006. The God Delusion.New South Walws: Bantam Press.

Dawkins, Richard. 2002. The Selfish Genes. Oxford University Press

Honderich, Ted (ed.).1990. The Oxford Companion to Philosophy.New York:oxford University press.


[1] Dalam acuannya pada filsafat barat yang tanpa bermaksud mereduksi tradisi pemikiran filsafat timur namun dalam kaitannya dalam pembahasan ini memang lebih relevan dalam tendensi fildafat barat.

[2] Cambridge companion hlm 21

[3] Kitab suci kaum nasrani, karena pada saat itu agama kristen merupakan agama yang paling dominan.

[4] Lihat Richard Dawkins, God Delusion hlm 22

[5] Kedua jalan ini diuraikan Dawkins sebagai dua bab terpisah dalam bukunya The God Delusion. Dimana jalan pertama adalah ekstrak dari bab kedua yang berjudul “Arguments for God’s existence” dan jalan kedua tidak lain adalah bab ketiga yang berjudul”Why there almost certainly is no God”

[6]Lihat Richard Dawkins, God Delusion(Bantam Press:2006) hlm

[7] Akibat keterbatasan ruang pembahasan, maka proposisi “spekulatif dan pada akhirnya mengada-ada” dianggap penulis sebagai kesimpulan umum akan semua rangkaian argumen dalam kategorisasi jalan kedua. Untuk lebih jelas lihat Richard Dawkin, God Delusion (Bantam Press:2006) hlm 75-105

[8] Lois Katsoff,pengantar filsafat hlm 208

[9] Harus diingat terminologi ilmiah dalam pemahaman Dawkins dibatasi dalam kerangka positistik dalam penekanan empiris,verivikasi juga reliable dan sudah pasti mereduksi kemungkinan lain di luar itu.

[10] Richard Dawkins,Selfish gene.s hlm 52