Sebagai agama maupun runut kebudayaan Islam memiliki sejarah serta tradisi  panjang yang begitu apik tersusun sebagai preseden kehadirannya dalam kekinian. Kekinian dan presedennya jelas berbeda soal ranah ataupun asupannya, namun apa yang menyatukan keduanya dalam Islam adalah kesakralan. Juga dengan kesakralan, Islam sebagai budaya ataupun sebagai agama menjadi inheren satu sama lain. Kesakralan memang tidak lebih dari sebuah terminologi yang menunjuk suatu yang tidak dapat diperjelas dengan verifikasi empirikal, akan tetapi bermakana besar gaung kehadirannya sehinga pada akhirnya kesakralan hanya soal posisi,posisi dan kehadiran makna bagi peradaban Islam.

Berangkat dari sinilah Arkoun mengagungkan Islam sekaligus mengkritiknya, bukan Islam yang hakiki yang hendak dikritik Arkoun tetapi peradaban Islam yang telah tertinggal jauh dari kejayaan peradaban akibat penempatan (positioning) kesakralan yang dinilainya sudah tidak tepat lagi dalam artian kebudayaan dan tradisi pemikiran Islam yang berjaya di sekitar abad pertengahan perlahan kehilangan tempat sebagai kebudayaan dan tradisi pemikiran yang bisa dibilang mempunyai andil besar dalam kehidupan dunia, terminologi sakral telah menjadi dalil paten yang menyebabkan ketertutupan dan penyelewengan terhadapnya. Hal tersebut merupakan alasan sekaligus tujuan dalam pembahasan ini, diharapkan dengan mengerti pemikiran arkoun secara mendalam dengan korelasi dengan kekinian   maka jelas mengapa pembahasan ini dianggap penting oleh penulis.

Untuk dapat mengembalikannya kepada jalan yang tepat perlu perumusan komprehensif, metodelogi Arkoun terkhusus metodologi penafsiran/hermeneutikanya menjadi pedoman utama dalam upaya tersebut. Sehingga runut dalam pembahasan ini akan dibagi dalam beberapa bab, dimana dalam bab-bab awal akan lebih menekankan dalam upaya mengerti pemikiran Arkoun, barukemudian pada bab-bab akhir akan diberikan analisis daripadanya.

Konsepsi Muhammed Arkoun Tentang Konotasi Nalar Islam

Pemikiran Muhammed Arkoun memang relatif terpusat permasalahan hermeneutika, dimana serangkaian usahanya adalah guna menunjukan bahwa Al-Quran bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja sebagai makna tekstualitas apa adanya. Tentu saja Arkoun sepakat bahwa Al-Quran adalah memiliki ke sakralan, namun ia jaga bahwa jangan sampai terminologi kesakralan tersebut mengharuskan pemaknaan akan Al-Quran menjadi tetutup pada satu narasi besar yang sarat relasi kuasa,ideologis,dll sehingga karena pemahaman yang menyeluruh hanya dapat dicapai apabila dilakukan penelusuran Historis-antropologis,linguistik-semiotika, dan tentunya teologis religius kritis. Jelaslah reposisi kesakralan harus diakukan dalam upaya mendapatkan pemahaman yang utuh sehingga problematika tentang apa yang menjadi bahasan ini akan tertuang dalam bab-bab berikut dan diawali dengan bab pertama yang berusaha memperkenalkan bagaimana kesakralan serta implikasinya.

 

Membicarakan Arkoun tanpa menyinggung tentang konsepsi kritiknya akan nalar Islam (Critique of Islamic Reason) penulis pikir adalah suatu ketidakmungkinan karena bisa dibilang kritik akan nalar Islam merupakan proyek dasar dari pemikirannya yang lain, begitupun dalam kaitannya dalam pembahasan ini tidak mungkin dapat mencapai pemahaman yang komprehensif tanpa terlebih dahulu menjadikan krik nalar Islam khas Arkoun sebagai premis yang menjadi fondasi bagi upayanya me-reposisi kesakralan. Mohammed Arkoun memang memiliki latar belakang yang cukup menarik, ia dilahirkan di Taorint-Mimoun yaitu sebuah kota Aljazair dan kemudian menempuh karirnya sebagai akademisi dengan belajar dan berkarya di Perancis terkhusus di salah satu Universitas ternama di Perancis, Universitas Sarbonne. Akan tetapi yang jauh lebih menarik adalah ia merupakan orang pertama yang mampu dan berani mendeskripsikan sekaligus mengkritik nalar Islam yang selama ini terkesan tak tersentuh. Dimana nalar Islam lebih merupakan “way of thingking” sehingga menekankan ketiadaan jarak dengan sang subjek sendirinya apabila pengamatan atau observasi yang dilakukan tidak terlebih dahulu menjaga jarak akannya.

Terkait dengan dunia barat sebagai tradisi pemikiran ataupun kehadirannya secara fisik Arkoun berpendapat kalau hal tersebut dapat dijadikan nilai positif. Dalam artian bahwa bangunan nalar Islam serta tradisi kebudayaan dan pemikiran Islam bukanlah oposisi biner dari tradisi pemikiran dunia barat yang harus berada dalam permusuhan dan rasa kecurigaan satu sama lain. Sebaliknya terkhusus dari sudut pandang

Adapun apa yang disebut oleh Muhammed Arkoun sebagai nalar Islam adalah semacam kerangka pikir yang secara gamblang terlihat relatif sama dimiliki oleh narasi besar dalam kehidupan Islam,baik itu dalam kebudayaan ataupun terkhusus dalam tradisi pemikiran Islam.Dimana menurutnya,” Nalar keagaman bertindak berdasarkan perasaan langsung yang memaksakan bahwa Tuhan, Yang Esa,Yang Hidup lagi Baik,berbicara,menghadirkan diri dan membuat diri-Nya hidup dalam ayat-ayat itu.[1]” Mohammed Arkoun mampu merumuskan hal tersebut setelah mengamati kehidupan Islam kontemporer yang sekiranya ia anggap tidak lagi mampu berjalan sesuai dengan tuntutan peradaban, dimana menurutnya “Salah satu sifat yang tetap dari nalar keagaman adalah bahwa nalar itu berusaha untuk membangn koherensi-koherensi praktis di dalam suatu kungkungan-kungkungan teologis tanpa mempertanyakan praduga-praduga …” [2] dan Arkoun menganggap bahwa hal tersebut bukan merupakan problematika yang menyeruak dari luar akan tetapi sesungguhnya berasal dari dalam tubuh lingkungan Islam sendiri. Sehingga jelaslah nalar Islam merupakan tantangan terbesar bagi peradaban Islam kontemporer ini karena menyebabkan kebekuan berpikir serta pemahaman yang sempit, hal tersebutlah yang dituding Arkoun sehingga menciptakan paradoks gerakan perdaban yang tidak beradab lagi; kehadiran terorisme misalnya juga hal-hal lain yang dinilai tidak sesuai nilai-nilai universal manusia modern seakan-akan mendapatkan legitimasi dari kesakralan Al-Quran sebagai landasan utamanya.

 

Pada ranah inilah Mohammed Arkoun menekankan pentingnya runutan penalaran ulang akannya sehingga nalar yang tadinya tertutup dan rawan diselewengkan mendapat pemahaman kesakralannya kembali yang sesuai secara tekstual sekaligus tekstualitasnya dengan menggunakan metodologis yang disediakan hermeneutika. Akan tetapi hal tersebut bukan sama sekali mengarahkan pada perntentangan antara nalar keagamaan dengan nalar ilmiah karena menurutnya tujuan dari pembedahan dan kritiknya semestinya tidak dilakukan dengan “objektifitas semu yang memberikan pada masing-masing nalar itu wilayah wewenang,peran-peran, dan jalan spesifik[3]”, Jelas  bahwa kerangka pikir ini cukup terpengaruh pada pemikiran Derrida dengan konsepsi dekonstruksi, namun pembahasan tentang sejauh mana pengaruh Derrida dalam pemikiran Mohammed Arkoun akan disampaikan pada bab-bab selanjutnya.

 

Runutan Perkembangan Posisi Kesakaralan

Jelas bahwa terminologi keaakralan selalu dan hanya mengacu pada Tuhan sebagai refrensial mutlaknya, kesakralan seperti halnya kuasa menurut Muhammed Arkoun juga melalui proses distibutif sebelum sampai pada kekinian. Namun, berbeda dengan wacana kuasa[4] distribusi kesakralan tidak bersandar pada sistemasi yang muncul dari legitimasi secara politis dalam relasi transsaksional, sebaliknya kesakralan didapat dari Tuhan dan dalam hal ini adalah wahyu Tuhan sebagai satu-satunya sumber mengingat Nabi Mohammad adalah nabi terakhir yang punya relasional khusus diwarnai dengan hubungan relasional satu arah,yakni dari Tuhan ke umatnya yang memungkinkan menangkap distribusi kesakralan langsung dari Tuhan,oleh sebab  itu kini umat Islam haruslah bertumpu pada Al-Quran serta Hadis untuk menemukannya dan tidak ada jalan lain   selain memaknainya dengan baik.

Akan tetapi dalam konsepsi wahyupun Arkoun membaginya secara hirarkis yakni yang pertama diisi Al-Quran sebagai induk kitab atau Umm al-Kitab yang merupakan kitab dari langit(langsung dari Tuhan) sehingga bersifat abadi yang sama artinya tidak terikat konsepsi ruang dan waktu serta memiliki kebenaran yang tertinggi di dalamnya. Jadi apabila kirta mencari posisi mutlak kesakralan sebelum terdistribusi disinilah tempatnya, terharuskan adanya distribusi karena pada tingkat ini wahyu menurut Mohammed Arkoun karena kesempurnaannya tidak mampu digapai manusia dan tetap melekat pada Tuhan. Sedangkan yang kedua adalah penampakan wahyu yang dalam kesejarahan, dan yang terakhir adalah wahyu yang sudah tertulis dalam mushaf dengan huruf sebagai simbolisasi yang berada di dalamnya.

Apa yang dapat dipahami dalam susunan hirarkis tersebut adalah bahwa kesakralan yang utuh sejatinya bersemayam dalam wahyu yang pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Akan tetapi dalam perkembangannya kesakralan seakan tidak mampu melawan ruang dan waktu, sepeninggal nabi Muhammad saw naskah yang ditingaalkannya menempatkan para sahabatnya pada tangku kesakralan berikutnya namun begitu seiring berjalannya waktu hadis telah “mengalami perubahan dari karakter  lokal dan tradisionalnya menjadi kumpulan doktrin yang baku dan logosentris.”[5].

Hadits yang tadinya berangkat dari rumusan dialogis dengan hanya memandang kesakralan dalam relasional Allah dan nabi telah bergeser, inilah awal dari pergeseran-pergeseran yang terus berlanjut seterusnya. Kesakralan bergeser dari yang konseptual menjadi terlalu praksis, dalma artian bahwa sebelumnya kesakralan mutlak hanya terletak pada wilayah relasional Allah dan nabi saat wahyu diturunkan, kemudiaan pada ranah wacana yang bersifat dialogis anatara nabi juga sahabatya dan pada akhirnya kesakralan jatuh pada tatanan hukum positivistik dimana yang dilihat bukan lagi korelasi dengan wahyu namun sebatas koresponden tekstual yang sebenarnya hanya mempostulatkan keberadaan kesakralan yang membuat hukum menjadi tidak terbantahkan tanpa memberi ruang bagi  telaah akan korelasi antarnya.

Lebih jauh dalam upaya melihat posisi runutan kesakralan sepeti yang telah diuraikan secara singkat sebelumnya, Arkoun dengan jelas membagi secara hirarkis dalam relasinya dengan periodisasi  sejarah Al- quran yang terbagi dalam tiga tatanan dalam penekanannya masing-masing. Yang pertama adalah saat wahyu pertama kali diturunkan oleh Allah kepada nabi muhammad saw, yang menarik adalah pewahyuan ini disampaikan tanpa bahasa manusia melainkan secara apriori transendental.

Kedua, merupakan tahapan yang telah terjadi kodifikasi terhadap wahyu Tuhan, dari yang tersimpan secara apriori trasnsendental dalam bahasa sakral terberengus agar manusia dapat mengertinya dengan diubah menjadi ungkapan dalam bahasa arab. Selanjutnya yang ketiga adalah saat tradisi ortodoksi mulai merasuki dengan tatanan ideologis yang berlaku demi kepentingan penguasa.

 

 

 

 

Tingkat pertama

Sekitar tahun 610 – 632 masehi

 

Disebut juga prophetic discourse, dimana wahyu dalam konsepsi tanzil atau turun yakni pemberian wahyu yang turun langsung dari Tuhan kepada nabi tanpa kata, tanpa bahasa

Tingkat kedua

Sekitar tahun 632-936 masehi

Disebut juga tahapan (closed official corpus) karena ketertutupan akan hal-hal baru di luar otoritas yang ada. Pada tahapan inilah terjadi upaya koleksi dan penetapan mushaf sehingga kemudian jatuhlah apa yang terberi (wahyu) dalam bahasa manusia, kontekstualisasi dalam bahasa dan juga tulisan arab dan pada akhirnya menjadi suatu produk budaya. Segala kemungkinan dalam peradaban saat itu menjadi suatu nilai probabiltas yang tidak dapat terelakan akibatnya, munculah juga historisitas.

Sehingga begitupun kesakralan sebagai konsekuensinya sudah mulai tidak dalam bentuk absolut sebagaimana dalam tahapan yang pertama.

Tingkatan ketiga

Sekitar tahun 936 masehi

Tahapan ini berlangsung dalam masa ortodoksi dimana dalam perkemangannya Al-Quran serta turunan lain oleh wahyu dijadikan juga sebagai pelestari rezim tertentu.

Tabel 1.1

 

 

Konsekuensi Posisi Kesakralan:

“yang terpikirkan, yang tak dipikirkan, yang tidak terpikirkan”

Terminologi kesakaralan jelas bukan saja memberikan konsekuensi ataupaun peranan yang hanya nampak sebatas ranah konseptual teoritis, namun juga merasuk ke dalam kesehariaan yang praktis kontekstual setidaknya itulah yang ditekankan Arkoun. Hal tersebut dapat menurut Arkoun merupakan gerak kausalitas yang tidak dapat terhindari, yang juga menghubungkan terminologi kesakaralan sebagai peranannya di ranah konseptual ataupun dalam ranah praksis.

Nalar Islam selama ini menurut Arkoun telah menempatkan kesakaralan pada tempat yang tidak semestinya sehingga pada akhirnya sebagai penghubung antara kesakaralan dalam konteks teoritis dan kesakaralan sebagai terminologi dalam tatanan praksis menghasilkan apa yang disebut Muhammed Arkoun sebagai yang terpikirkan, yang tak dipikirkan, dan yang terakhir yang tidak terpikirkan. Penekanan dalam tiga kategorisasi Mohammed Arkoun tersebut jelas sangat terpengaruh penekanan penanda dan pertanda (signifier dan signified) yang diperkenalkan oleh tokoh linguistik Ferdinand De Sausure.

Hubungan antara konsepsi khas kaum strukturalis dan kesakralan sesungguhnya dapat terlihat dengan jelas dengan kehadiran nalar islam yang menjadi penekanan dalam kritik yang dilontarkan panjang lebar oleh Muhammad Arkoun, dimana bahasa telah menjadi sarana sekaligus bukti daro kodifikasi Al-Quran, wahyu yang tadinya lekat dengan kesakaralan mutlak mengalami dekadensi dengan kemenyatuannya pada bahasa manusia. Arkoun mencoba menjelaskan secara komprehensif permasalahan yang tersebut dengan memberikan gambaran di bawah ini.

 

 

 

Bagan relasi antar bahasa, kenyataan atau realitas, persepsi dan wacana menurut Arkoun.[6]hal 55

 

Apa yang dapat disimpulkan dari bagan di atas adalah bahwa keberadaan bahasa merupakan perekat sekaligus pemisah akan realitas, wacana, dan persepsi. Merekatkan karena dengan bahasa kita setidaknya bisa mendekati wacana dan realitas yang ada, dimana bahasa merupakan representasi dari persepsi akannya. Memisahkan karena dengn bahasa maka manusia akan terpetakan dalam suatu persepsi tertentu atau mungkin bisasa disebut sebagai sudut pandang dalam menanggapi realitas ataupun wacana yang beredar di sekitar subjek.

 

Begitupun terkait dengan posisi kesakralan dimana terlebih dahulu kesakralan apabila telah melebur ke dalam bahasa akan juga terjebak di dalam paradigma terentu sehingga nilai kesakralan tidaklah lagi dalam tatanan absolut. dan dalam kaitannya dengan pembahasan ini maka akan terikat pada bahasa arab, dimana seperi yan gkita ketahui tradisi agama Islam sangatlah kental dengan kebudayaan arab di dalamnya dan begitupun sebaliknya. Dimana konsekuensinya adalah memetakan relasi sekitar realitas,persepsi, bahasa, dan wacana ke dalam 3 kategori yaitu:

 

  • yang terpikirkan

Seperti namanya, dalam kategori ini terdiri dari hal-hal[7] yang senantiasa dapat dan yang diinginkan untuk dilihat dan dipikirkandalam kesehariaan. Dalam artian bahwa ada kemengarahan terhadap hal-hal ini. Kurang lebih hal yang terpikirkan ini merupakan konsekuensi dari nalr Islam yang kita bicarakan pada uaraian awal. Dimana hal tersebut dimungkinkan akibat

  • yang tak dipikirkan

Merupakan kategorisasi dari hal-hal yang sebenarnya dapat kita persepsikan, entah dalam artian secara empirik ataupun secara konseptual namun akibat keberadaan keangka pikir yang sedemikian rupa telah terbentuk sehingga pada akhirnya kesadaran indivisu menolak untuk memikirkannya.

  • yang tidak terpikirkan

hal yang tercakup dalam kategorisasi inilah yang sesungguhnya menjadi penekanan utama dalam bab ini dimana Arkoun menempatkan kritiknya dengan landasannya pada hal-hal yang menjadi bagian dari yang tidak terpikirkan. Singkatnya Arkoun menyatakan bahwa dengan adanya keberadaan hal yang tidak terpikirkan menjadi bukti bahwa kesakralan telah menempati posisi dalma ranah yang keliru, ditambah lagi dengan adanya hal-hal yang terlongkap dalam suatu runutan nalar maka akan mengakibatkan penyimpangan seperti yang terjadi dalam peradaban Islam juga dengan adanya hal yang tidak terpikirkan sama artinya dengan mereduksi kemungkinan lain dan pada akhirnya merupakan kerugian dalam peradaban Islam.

 

Pemecahan masalah; kebutuhan akan dekonstruksi lanjutan

Dari serangkaian pembahasan yang telah kita lalui sebelumnya dapat dipahami bahwa penempatan kesakralan yang salah menjadi suatu problematika tersendiri dalam pemikiran Mohammed Arkoun dalam memandang tradisi Islam. Dalam kaitannya dengan upaya pemecehan problem tersebut jelas mereposisi kesakralan merupakan satu hal yang mutlak mengingat problem kesakralan sebagaimana yang dijelaskan dalam bab sebelumnya berada dalam penekanan bahasa,realitas,persepsi,wacana sehingga reposisi dimungkinkan keberadannya.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut Muhammed Arkoun menyodorkan konsepsi dekonstruksi[8] khas Derrida yang tentunya memang merupakan bagian penting dalam tradisi pemikiran filsafat barat. Terkait dengan terminologi barat yang biasanya mempunyai muatan dalam konotasi yang negatif dalam tradisi Islam, Arkoun berpendapat bahwa dekonstruksi sekalipun memang berasal dari barat namun juga sesuai dengan permasalahan yang ada dalam likngkungan Islam sehingga demi kemajuan haruslah juga mengenal apa yang dapat ditawarkan peradaban barat sekaligus juga mempelajarinya. Selain dekonstruksi hal lain yang menurut Arkoun bisa didapat dari peradaban barat adalah perihal historisitas.

Upaya dekonstruksi dalam upaya mereposisi kesakralan dalam kekakuan nalar Islam menurut Arkoun bukan untuk menghilangkan kesakralan yang melekat dalam Tuhan secara mutlak melainkan lebih kepada turunan wahyu dan tekstualitas yang ada dalam tradisi nalar Islam yang seakan-akan memiliki muatan mutlak. Padahal haruslah dipahami seperti yang telah dijelaskan dalam bab-bab sebelumnya bahwa muatan kesakralan terus tereduksi ketika semakin menjauh dari nilai universal dengan memunculkan bangunan wacana qurani sendiri memantulkan konfigurasi kekuatan-kekuatan sosio-politis yang ada….[9] , kesakralan yang tidak dipahami pada tempatnya akan menjadikan kesakralan menjadi milik manusia bukan lagi milik Tuhan sebagaimana mestinya, sehingga jelaslah apa yang hendak disampaikan Arkoun dengan mengkritik nalar Islam ataupun telaah kritis pada Al-Quran dan lain-lain bukan upaya penghilangan kesakralan namun lebih kepada upaya mereposisi kesakralan.

Adapun runutan dekonstruksi secara metodologis dalam upaya reposisi kesakralan dibagi  Arkoun dalam dua tahapan besar yakni linguistik kritis dimana dilakukanlah pembacaan teks data-data linguistik termasuk di dalamnya tanda-tanda bahasa yang terkandung di dalamnya dengan cermat. Tahap kedua adalah dengan eksplorasi historisitasnya dengan tujuan dapat menemukan petanda terakhir di dalamnya dengan kode-kode linguistik, keagamaan, kultural, juga eksplorasi antropologis dengan pembongkaran akan simbol dan tanda yang ada di dalamnya.

 

Refleksi Kritis

Sekilas kerangka pikir yang disediakan oleh Mohammed Arkoun memang merupakan kerangka baru bagi tradisi pemikiran Islam, dimana titik tolaknya adalah kritik terhadap nalar Islam. Dalam pembahasan ini sebagaimana telah dijelaskan uraian di atas, dapat ditemukan bahwa Muhammed Arkoun memberikan runutan dalam membahas tradisi pemikiran Islam secara komprehensif. Dekonstruksi yang dipinjamnya pun telah mengisyaratkan bahwa Muhammed Arkoun sekalipun meminjam kerangka pikir barat tetap menyesuaikannya dengan kondisi kekinian Islam, dimana dekonstruksi yang telah dimidifikasi tetap mempertahankan kesakralan sekalipun memang mereposisi konsepsi kesakaralan tersebut sehingga pada akhirnya dekonstruksi tidak benar-benar menghancurkan tanpa memberikan pengantinya, sebaliknya dalam kerangka yang diajukan Arkoun memberikan ruang untuk merekonstruksi apa  yang dihancurkan.

Selain revolusioner apa yang diuraikan oleh Arkoun menjadi sungguh menarik karena dia mampu menjadikan lingkungan Islam yang ia uraikan dan kaji tidak hanya sebatas sebagai objek beradasar kerangka pemikiran barat, Melainkan juga sebagai subjek yang mampu memasukan dan memperkaya rangkaian variabel yang ada. Adapun hal yang mungkin menjadi kekurangan dalan pemikiran Arkoun adalah terminologi yang dipakai oleh Arkoun terkhusus dalam kajian praksis menggunakan ungkapan bahasa Arab cukup membuat penulis kesulitan karena latar belakang penulis yang kurang akrab dengan ungkapan maupun kebudayaan arab sehingga diperluka usaha lebih dalam pembahasan ini.

Selepas hal-hal tersebut, pemikiran Arkoun sesungguhnya merupakan sumbangan yang sangat berharga yang dapat menciptakan pembaharuan bagi nalar Islam yang selama ini dikritiknya, reposisi kesakralan yang ditawarkannya apabila dipahami secara utuh akan membawa kemajuan bagi tradisi pemikiran Islam.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Arkoun, Mohammed. 1997.Berbagai Pembacaan Al-Quran,penerjemah Machasin.Jakarta: Indonesian-Netherland Corporation in Islamic Studies (INIS)

Putro, Suardi. 1998. Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas. Jakarta: Paramadina
Santoso, dkk.2009. Epistemologi kiri.Yogyakarta:Ar-ruzz media.

Rohmah, Siti. Dekonstruksi: Suatu Telaah Mengenai Pemikiran Mohammed Arkoun. Tesis: Universitas Indonesia

Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy.New York:oxford University press,1995

 

 


[1] Muhammed Arkoun 1997.Berbagai Pembacaan Al-Quran, (Jakarta:INIS) hlm 17

[2] Ibid. Hlm 16

[3] Ibid. hlm 16

[4] Kuasa yang dimaksud disini adalah kuasa dalam artian kuasa duniawi dengan tujuan prmbahasan ini mendpat distingsi yang tegas bahwa, dengan tanpa bermaksud mereduksi kuasa Tuhan.

[5] Santoso, dkk.2009. Epistemologi kiri.(Yogyakarta:Ar-ruzz media). hlm 205

[6] Diambil dari Hlm55

[7] Kata hal disini mengacu pada korelasi antara realitas, wacana, dan persepsi dan bahasa sehingga akhirnya menghasilkan kompilasi kesadaran dalam suatu individu.

[8] Dekonstruksi yang diajukan oleh Muhammed Arkoun sedikit berbeda dengan dekonstruksi Derrida dimana Dekonstruksi yang dimaksudkan Arkoun masih meberi ruang bagi kehadiran penanda final dalam kesakralan teks, sedangkan Derrida menolak gagasan kehadiran metafisik.

[9]Muhammed Arkoun, ibid. hlm20