Nampaknya tidak berlebihan saat Martin Heidegger, salah seorang filsuf Jerman,  mengatakan bahwa tiap manusia terlempar ke dunia. Dikatakan terlempar karena tiap individu, setelah mereka dilahirkan pada akhirnya harus menghadapi dunia sekitarnya  tanpa kesiapan, inilah penjejakan awal manusia dalam menapaki realitas dunia. Akibat pengkondisian ketidaksiapan sang subjek dalam mengadapi dunia inilah yang membuat manusia ditempatkan pada posisi yang selalu harus diesesali sekaligus diterima suka tidak suka; yaitu ketika seorang individu harus menerima kehadiran individu lain. Ketidaksiapan itu membawa manusia pada suatu momen dimana ia merasakan suatu keterasingan.

Sekalipun alienasi seringkali dibicarakan dalam konteks eksitensialisme, termasuk Heidegger yang sebelumnya penulis singgung pada awalan pembahasan ini, pembahasan alienasi bukanlah eksklusif milik eksistensialisme semata. Bahwa memang eksistensialisme menaruh tema alienasi dalam pembahasan utamanya, bukanlah berarti menegaskan ekslusivitasnya mengingat berbagai disiplin ilmu juga menjadikannya sebagai salah satu pusat pemikirannya; psikologi modern; Sosiologi. Namun dalam pembahasan kali ini penulis akan mencoba membahas alienasi yang berangkat dari pemahaman Karl Marx yang penulis pahami menekankan alienasi dalam kaitannya dengan kehidupan sosial, menyinggung hubungan individu dengan relasi sosialnya, mengingat pembahasan ini adalah upaya dalam pemenuhan dalam menyelesaiakan studi mata kuliah filsafat sosial.

Marx seperti yang dibentangkan dalam karyanya Economic and philosophical manuscript (1844) mendeskripsikan alienasi sebagai proses konkretisasi hakihat batin manusia yang kemudian menjadi barang mati, dan menceraikan manusia yang satu dari yang lain[1].  Sekilas memang deskripsi alienasi yang Marx jabarkan memang mirip deskripsi umum yang memahami alienasi sebagai perasaan keterasingan seorang individu dari sesuatu. Namun yang membedakan Marx dengan pemahaman umum tersebut adalah Marx tidak berhenti memahami alienasi adalah keterasingan individu lainnnya, Marx juga mendefinisikan keterasingan dari dirinya sendiri. Untuk menemukan kediriannya seorang individu haruslah mengaktualisasi diri, yaitu dengan dengan jalan kerja (works). Asumsi dasar Marx berangkat dari materialisme yang ia junjung, bahwa dunia dan realitas sebenarnya berasal dari “matter”, tersusun atas kebendaan sehingga jalan untuk menemukan kedirian[2] adalah berkaitan dengan kebendaan pula, yaitu dengan meng-alamiahkan manusia dengan kerja. Dengan kata lain kerja disiini bukanlah suatu proses yang menghasilkan produksi belaka, namun juga merupakan penegasian dari alienasi. Bahwa memang pada akhirnya ternyata kerja tidak lagi menjadi aktualisasi melainkan hanya sebagai proses produksi belaka merupakan akibat dari kekangan kapitalisme, bagaimana kapitalisme dapat mengekang individu serta apa implkasi lanjutan dari asumsi Marx akan kita bahas pada bab selanjutnya.

Kapitalisme sebagai sumber Alienasi

Lebih jauh, apa yang menjadi “perhatian Marx yang mendasar ialah gaji para buruh dari hasil produksi mereka, alasan yang membuat Marx melihat bahwa ada bentuk alienasi dari aktivitas perburuhan mereka. Pada Marx, alienasi secara mendasar mengacu pada beberapa jenis aktivitas …”[3].  Berangkat dari pernyataan di atas, dapat dimengerti bahwa Marx secara gamblang menyatakan bahwa korban alienasi akibat kapitalisme adalah kaum buruh, sebaliknya kaum pemilik modal adalah pihak yang paling dianggap bertanggung jawab atas alienasi kaum buruh akibat kepentingan kelasnya. Impliksi lanjutannya adalah Marx menangkap alienasi dalam 4 bentuk utama yang diakibatkan keberadaan kapitalisme modern  yang berimbas bagi kaum buruh yang antara lain :

Alienasi pekerja dari barang – barang hasil produksi mereka,

Relasi antara buruh dan barang produksinya ialah ketika buruh tersebut menghasilkan barang tersebut untuk mereka sendiri, sedangkan para buruh yang teralienasi menghasilkan barang untuk diberikan pada sebuah kekuatan asing, yaitu kekuatan kapitalisme, yang bukan saja hanya mengambil barang barang produksi mereka tetapi juga mengubahnya menjadi suatu bentuk yang mengindikasikan kekuatan asing yang melampaui dirinya. Konsekuensinya, semakin banyak buruh menghasilkan, maka semakin besar pula kekuatan kapital yang berkembang diantara mereka. Semakin kaya menghasilkan semakin miskin para pekerja. Peningkatan jumlah produk yang dihasilkan secara langsung berimbas pada pengurangan nilai kemanusiaan itu sendiri. Secara terkhusus runutan dari proses alienasi yang dialami kaum buruh adalah pertama-tama buruh mencoba mengaktualisasi dirinya dengan bekerja, namun kaum pemilik modal (kaum kapitalis) tidak melihat melalui perspektif yang sama dengan kaum buruh sebaliknya mereka melihat proses kerja hanya sebatas proses produksi yang pada akhirnya akan mendatangkan keuntungan material. Dalam artian ini prinsip yang dijunjung adalah M-C-M (Money-Comodity-Money), artinya jelas bahwa buruh dipandang sebagai komoditas yang tenaga produksi dapat disubtitusikan dengan uang yang akan menghasilkan komoditi surplus value, masalah sesungguhnya muncul disini yakni di saat surplus value demi keuntungan ternyata didapat dari margin antara biaya produksi dan harga jual komoditas, konsekuensinya tenaga buruh sebagai salah satu variabel yang akan mempengaruhi margin nantinya ditekan habis-habisan atas nama keuntungan. Inilah eksploitasi kaum buruh, kaum buruh pada akhirnya tidak mampu melawan karena peralatan produksi dikuasai oleh pemilik modal.

Alienasi kaum buruh dari aktivitas keburuhan mereka

Marx melihat akar permasalahan pada aktivitas perburuhan itu sendiri. Bagaimana bisa para buruh terasing dari hasil produksinya jika mereka tidak mengalienasi dirinya sendiri dalam tiap – tiap aktivitas produksi mereka? Jika produk yang dihasilkan merupakan sebuah bentuk eksternalisasi, maka produksi itu sendiri harus juga merupakan tindakan yang eksternal, eksternalisasi aktivitas, aktivitas eksternal. Hal ini terlihat sebagai antisipasi pertama yang dilakukan oleh konsepsi materialisme sejarah Marx : hubungan antara sosial dan ekonomi selalu bergantung pada kekuatan produktif yang dihasilkan oleh pekerja, yang berarti tergantung pada performa para buruh. Tetapi bagi Marx, aktivitas alienasi juga mengacu pada kenyataan bahwa para buruh merupakan bukti dehumanisasi pekerja, bukan mengaktualisasikan kemanusiaan mereka tetapi malah menghalangi dan membelokkan aktualisasi tersebut. Kehidupan para buruh upah menjadi tanpa arti.

Alienasi dari individu akan esensi kemanusiaan mereka,

Kemungkinan objektif untuk sebuah kehidupan yang berarti bagi para pekerja, salah satunya ialah dengan menekankan kepada kemanusiaan mereka dengan cara mengkontribusikan kerja kepada kebutuhan manusia, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri tetapi juga untuk kepentingan manusia bersama. Buruh yang teralienasi menjadi tidak berarti karena kesadaran mereka merupakan wujud dari bentuk keegoisan atas dasar kepuasan individual. Pekerjaan yang dilakukan para buruh hanyalah untuk menopang lingkaran absurd dari eksistensi mereka.

Alienasi dari seseorang terhadap orang lainnya.

Pada akhirnya, buruh yang teralienasi mengalienasikan dirinya sendiri dengan manusia lain, yaitu ketika buruh sebagai penghasil produk mengafirmasi kepemilikan akan produk tersebut kepada pembeli karena mereka sadar atau tidak mengakui bahwa ada suatu pihak yang lebih kuat dibandingkan dengan yang lainnya.

Jadi alienasi, seperti yang telah kita lihat dalam pengelompokan di atas memperlihatkannya sebagai suatu wujud dari hubungan primer manusia dengan lingkungan kesehariannya yang jauh dari kata sportif . Konsekuensi lanjutan yang dapat kita tarik dari penalaran singkat akannya adalah ternyata relasi sosial dalam dominasi kapitalisme telah membuat timbulnya rasa kesepian dalam kedirian kaum buruh. Tidak berhenti sampai disitu, kerja sebagai wujud aktualisasi yang telah direduksi menjadi masalah keuntungan belaka telah membuat makna kerja itu tidak lagi bermakna. Tentunya bagi kaum buruh, gaji rendah yang diterima kaum buruh sebagai upah kerjanya juga menekankan kembali bahwa apresiasi terhadap kerja menjadi rendah dan pekerjaan tampak seolah tidak lagi menjadi makna ekspresi kedirian kaum buruh, singkatnya ekspresi diri menjadi minor.

Akan tetapi, relasi sosial tidak hanya menyebabkan rasa pengasingan, kesepian, alienasi yang muncul dalam kesadaran kaum buruh  melainkan dengan berangkat dari rasa teralienasi akan membawa wacana pembebasan sebagai tata keniscayaannya. Inilah yang penulis analogikan sebagai reinkarnasi. Wacana pembebasan membawa individu dalam pelahiran kembali dirinya, rasa ingin terbebas dan lepas dari keterasingan akan kehidupan diri sendiri.

Memang untuk mereinkarnasi perlu mengalami kematian dimana pada kasus ini kapitalisme menjadi sebuah wujud kematian dalam kehidupan sosial yang terpenjarakan oleh alienasi, dengan perandaian kematian tersebut merupakan salah satu proses menuju suatu cita- cita akhir, kehidupan baru ; dilahirkan kembali yang walaupun terlempar kedunia dan tidak siap namun tetap dapat mengaktualisasi dan memiliki kedirian sebagai manusia.


[1] Lorenz bagus, Kamus filsafat.2005.Gramedia pustaka. Hlm 37

[2] Kedirian disini juga dalam pengartian bahwa apa yang kita pandang sebagai kedirian juga terbentuk atas unsur-unsur material

[3] Routledge Encyclopedia hlm 225

Advertisements