Membicarakan kebebasan berarti juga akan merujuk pada tema tanggung jawab, sekalipun dalam relasi tatanan yang berbeda – beda, karena berbeda dengan binatang, manusia menghayati hidupnya dalam rumusan adab yang selalu diperbaharui melalaui refleksi akal budi manusia. Setiap kita menyerukan kebebasan berarti secara otomatis kita juga harus memperhitungkan aspek-aspek tanggung jawab yang beredar di sekitarnya, entah sebagai konsekuensi ataupun terlibat dalam sinergi yang memberi pemaknaan, dan seperti pertanyaan dasar Emanuel Lebvinas dengan memiliih sikap bertanggung jawab atasnya ataupun tidak[1].  Dalam sejarah manusia dalam upaya reflektif sekaligus responsif atas munculnya permasalahan kebebasan dan tanggung jawab, muncul pulalah tema hukuman mati sekalipun tidak dimaksudkan penulis sebagai jawaban langsung, melainkan sesuatu yang sesuai pola pikir adab jaman. Namun begitu, permasalahan tentang ketegangan kebebasan dan dan tanggung jawab tidak lantas berakhir, sebaliknya kedua hal tersebut selalu berada dalam ketegangan. Berangkat dari situ pulalah tema hukuman mati sebagai jawaban kembali dipertanyakan, diuji kembali dalam peradaban sejauh mana ia mampu menjamin atau malah merusak tatanan adab sesungguhnya. Kiranya , pembahasan yang akan kita lalui mencoba mencari jawaban dengan refleksi dan analisis dalam dimensi etis.

Hukuman mati   didefinisikan sebagai hukuman kepada seseorang individu yang dinyatakan bersalah saat dihadapkan dengan hukum[2] ,  karena orang tersebut telah melakukan kesalahan yang dianggap mengancam atau bahkan sudah menghilangkan kebebasan manusia lain, dalam prakteknya di Indonesia hukuman mati juga diaktifkan apabila menyinggung UU narkotika, UU anti korupsi, UU terorisme,  dan pada akhirnya dengan berbagai alasan yang nanti akan kita bahas pada bab selanjutnya menjadikan kematian orang tersebut sebagai subtitusi tanggung jawab individu tersebut atas kesalahan yang telah ia lakukan. Namun refleksi adab selalu berjalan dan mengevaluasi, hukuman mati tidak lepas dari refleksi ini. Hukuman mati dengan kekompleksitasan tujuannya dikritik dengan menalarkan kelemahan-kelemahannya yang dinilai gagal menjamin kebebasan[3] namun membebankan tanggung jawab yang terlalu besar pada sang terdakwa hukuman mati, bahkan secara ekstrim dianggap membunuh kebebasan orang yang dihukum demi suatu tujuan yang belum dibuktikan pencapaiannya. Memang apabila membahas hukuman mati kita akan berhadapan dengan berbagai paradigma, namun pembahasan akan kita batasi pada kaitannya dengan konsep dan tanggung jawab, yang juga berarti akan menjadikan etika sebagai atap pemikiran dari analisis pembahasan dan sesuai judul analisis ini kita akan menyimpulkan dan memberi kesimpulan dengan sudut pandang etika. Dimana pada akhir analisis ini kita akan tiba kepada pertanyaan yang menjadi cirri khas etika sebagai ranting filsafat dalam cabang aksiologi yaitu penilaian tentang baik atau tidakah keberadaan hukuman mati atau eitiskah keberadaan hukuman mati dan etiskah penerapannya (dalam kaitannya dengan kebebasan dan tanggung jawab) ?

Hukuman Mati ; Jawaban atas Tuntutan Peradaban

Seperti yang telah diutarakan pada pendahuluan bahwa hukuman mati bukanlah suatu tata niscaya terberi melainkan hasil dari gerakan adab rasional yang mencoba menjawab pertanyaan menyangkut sejauh mana mengeksplorasi kebebasannya dan bagaimana ia harus bertanggung jawab atasnya,  menjadi kompleks karena kebebasan dan tanggung jawab yang menjadi masalah tidak hanya menyangkut relasi dua individu melainkan kepada individu-indidu lain, kepada masa yang akan datang, dan kalau boleh dikatakan kepada seluruh umat manusia yang tidak terbatas pada masa dan ruang saat kini tetapi juga pada masa yang akan dating. Jadi, apa yang kita sebut kebebasan itu kurang lebih juga mnyatakan diri dalam kebebasan fisik, kebebasan yuridis, kebebasan psikiologis, kebebasan moral, kebebasan eksistensial[4] yang pada akhirnya akan bersinergi dengan tanggung jawab.

Ancaman bagi kebebasan dan pentingnya tanggung jawab sudah disadari jauh bahkan sebelum tahun masehi dimulai, karena harus disadari bahwa konsekuensi dari keberadaan kebebasan sang individu mampu tidak sebatas tentang ketegangan  pilihan-pilihan bebas (free choice) yang bisa terkontradiksi antar individu, lebih daripada itu kebebasan mampu menghilangkan sang “empunya” kebebasan atau dengan kata lain bisa saja individu membunuh individu lain dengan memanfaatkan kebebasannya. Gerak peradaban pada zaman itu menuntun penjaminan kebebasan sekaligus tanggung jawab akannya dengan memunculkan hukum tentangnya, hukum yang juga memunculkan posibilitas hukuman mati sebagai turunannya seperti yang tergambarkan dengan cukup baik :”mata ganti mata, tangan ganti tangan”, inilah sinthesis hasil rumusan adab masa itu.

Tentu saja peradaban tidak pernah berhenti dalam usaha menciptakan tatanan yang “baik”, penjelasan lebih rinci tentang pemaknaan serta pergeserannya akan diotelusuri lebih lanjut dalam sub-bab berikut;

Evolusi pemaknaan

Sejatinya kebebasan dan tanggung jawab adalah nilai terbesar dalam hidup manusia, sebagai modus keutamaan dari tiap individu yang membuatnya menyandang eksistensi/keberadaan manusia seutuhnya. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa perdaban perlahan menuju kesadaran akan kebutuhan penjaminan kebebasan.

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, peradaban sebelum masehi sudah mulai merefleksikan tentang kebebasan dan tanggung jawab, dimana kebebasan dipandang perlu dibatasi dan penekanan terhadap tanggung jawab sebagai konstruksi yang kongruen dengannya, pemaknaan tentangnya pun dimulai sebagai akibatnya. Sekalipun begitu, perumusan makna kebebasan tidaklah mudah. Pemunculan humuman mati juga tidak lain merupakan sebuah usaha dalam proses ini, dengan adanya hukuman mati ditujukan guna menjamin kebebasan dan tanggung jawab. Pemaknaan akan hukuman mati pun terus bergulir dan berubah, hukuman mati tidak lagi dimaknaui dalam penekanannya pada pembalasan dendam, agar si pelaku merasakan apa yang dirasakan sang korban dan melainkan oranglain yang mengetahuinya akan terberikan efek “penakutan” dimana ia tidak ingin menghilangkan kebebasan orang lain karena takut akan kehilangan kebebasannya (dihukum mati) sebagai tanggung jawab dirinya dan masyarakat. Inilah sintesa di awal kemunculan hukuman mati, sebuah rumusan yang memuat harapan agar dengannya (hukuman mati) individu akan paham akan kebebasannya lalu menghargai tanggung jawabnya secara mendalam . Pemaknaan nilai yang terkandung dalam pelaksanaan hukuman mati telah bergerak maju, berevolusi mulai sebagai kebebasan untuk memaksakan tanggung jawab kepada orang lain dengan kecendrungan pembalasan dendam menjadi suatu upaya yang menilai bahwa hukuman mati haruslah dimaknai sebagai simbolisasi keinginan individu-individu untuk selalu menghormati kebebasan serta tanggung jawabnya, inilah konsep hukuman mati yang kita hayati selama ini, sebuah sitesa yang telah terafirmasi oleh peradaban yang merindukan kebebasan sambil juga mengusung tanggung jawab.

Transformasi Hukuman Mati Kembali Menjadi Thesa

Sebuah sintesa tidaklah mutlak keberadaannya, dengan kritik komprehensif ia dapat kembali mewujud menjadi sebuah sintesa , kembali menjadi sebuah keraguan yang menjadikan jawaban sebagai tata keniscayaan serta pengharapannya. Begitu pula dalam pencarian kita dalam bahasa kebebasan, tanggung jawab yang dikaitkan dengan tema hukuman mati. Ternyata dalam penelusaran dunia kontemporer ini banyak yang memperdebatkan tentang keberadaan hukuman mati, bahkan dengan lantang menolaknya.

Penolakan hukuman mati biasanya berkutat seputar ketidak mampuan hukuman mati mencapai target keberadaannya, hukuman mati dianggap gagal menjalankan peranannya secara efektif untuk mewujud sebagai simbol tanggung jawab ekstrem yang menjamin sekaligus membatasi kebebasan. Kegagalan ini dicerminkan  dengan cukup sederhana namun menyakup tanpa mereduksi terlalu jauh melalui angka pembunuhan yang terus meningkat sedangkan hukuman mati telah dicanangkan[5] termasuk di Indonesia. Selain itu, tantangan bagi yang mengakibatkan keberadaannya harus kembali menjadi thesa adalah pandangan kritis yang menyatakan bahwa hukuman mati ternyata malah melanggar hakikat keberadaannya, penjaminan kebebasan dan penekanan tanggung jawab. Hukuman mati malah menimbul prasangka telah mereduksi definisi kebebasan dan tanggung jawab secara sangat sempit, sehingga pada akhirnya hukuman mati dinyatakan telah gagal dalam peradaban kontemporer ini.

Antithesa Sebagai Respon Kegagalan

Telah banyak diungkapkan pada bab sebelumya, bahwa ternyata hukuman mati yang tadinya adalah jawaban atas tuntutan jaman telah dianggap gagal. Dalam artian bahwa hukuman mati diragukan bahkan disanggah bahwa keberadaannya sebagai sebuah jawaban yang tepat. Berbagai argument dapat dilontarkan mengenainya, namun dalam pembahsan kali ini cukuplah analisis mengambil sudut pandang etis dalam kaitannya dengan kebebasan dan tanggung jawab. Bagaimana hukuman mati bisa dianggap sebagai sebuah kegagalan juga akan kita rumuskan dalam dimensi etis.

Jebakan Reduktivisme dan Arti Sebenarnya

Melaju lebih kritis tentang keberadaan hukuman mati maka kita akan menemukan suatu kegagalan, kegagalan yang selama ini tertutupi dengan anggapan bahwa seakan-akan efek dari pelaksanaan hukuman mati adalah “baik”, yang oleh Moore dikatakan sebagai kesalahan naturalism etis karena “baik” yang dibicarakan seakan-akan sudah jelas apa yang dimaksud dengannya[6] , kegagalan yang diidentifikasikan pada hukuman mati adalah adanya anggapan bahwa sebenarnya ada ketidaktepatan dalam mengartikan kebebasan dan tanggung jawab yang selama ini diusung sebagai tujuan akhir keberadaan hukuman mati, peradaban telah mereduksinya terlalu jauh dengan utopia sebagai pembenaran.

Apa yang penulis sebut sebagai hasil reduksi yang terlampau jauh adalah mengenai pendefinisian dari  tanggung jawab dan kebebasan itu sendiri, yang mana seakan-akan hanya memperhitungkan dan “membela” sang korban dan bahkan calon-calon korban tanpa melihat lebih jauh dalam tema kebebasan sang terhukum mati dan pada akhirnya  sebagai konsekuensi menimbulkan tangggung jawab yang terlampau berat pada sang terpidana mati. Pertanyaan akhirnya adalah sampai sejauh mana kebebasan asumsi terhadap masa yang akan datang dapat dipertanggung jawabkan karena bukankah biar bagaimanpun asumsi tetaplah asumsi belaka yang rancu akan pemasukan penilaian subjektifitas dan jangan-jangan kita bisa diidentifikasi sebagai peradaban yang menyatakan balas dendam dan bila sudah sampai pada tahap ini bagaimanakah tanggung jawab dapat dipertahankan?

Apa yang telah direduksi oleh pembenaran keberadaan hukuman mati tidak berhenti samppai disini, hukuman mati juga dianggap telah menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang tadinya mau dibela mealaluinya, hukuman  mati mampu menghilangkan kebebasan secara absolute dengan jalan mengirimkan individu yang dianggap bersalah menuju kematian. Konsekuensi logisnya adalah individu itu tidak akan punya kesempatan untuk memperbaiki diri beserta kesalahan yang Ia perbuat, sang terdakwa hukuman mati dengan kata lain dianggap tidak mampu memperbaiki kesalahannya dan kesalahannya sudah terlampau berat. kebebasan dirinya akan dihilangkan sebagai tanggung jawab.

Kesimpulan :

Kompromi Etis Sebagai Jawaban

Menilik lebih jauh apa yang telah kita bahas sebelumnya menampilkan suatu permasalahan dan persebatan atas hukuman mati dan pada akhirnya tentu saja analisi ini akan sia-sia tanpa memberikan jawaban dari runut logis yang telah kita susun sejalan dengan bab per bab tulisan ini tentu saja dengan tetap menetapkan susut pandang etika dalam kaitannya dengan kebebasan dan tanggung jawab dalam menilainya, kini setelah melewati beberapa bab dan sub-bab dalam analisis ini tibalah kita pada klesempatan itu.

Apa yang dapat kita simpulkan adalah bahwa hukuman mati memang dipercaya dapat menekankan kebebasan dan tanggung jawab dalam kaitannya dengan individu yang lain bahkan juga individu yang akan akan mengada di masa depan.  Jadi relasi antara hukuman mati dengan kebebasan dan tanggung jawab adalah saling menegaskan bahwa  individu tak dapat lepas dari keterbatasan kebebasannya akan batasan tanggung jawab yang ditekankan dengan kebebasan orang lain, meminjam pemikiran Sartre kiranya tepat rumusan ini ini dipersingkat dengan menyatakan bahwa  “in the look, we momentary lose our subjectivity and experienced ourselves as the object of another judgement”[7]. Hukuman mati merupakan bentuk dalam ekstrem dalam implikasi  praktis dalam pandangan Sartre tersebut, seorang individu memang memiliki kebebasan namun sekalipun begitu dengan keberadaan orang lain (yang menjadikan kita objeknya) kita dipaksa untuk menerima kehadirannya, lebih dari itu juga merelakan diri bertanggung jawab akan diri kita sebagai objeknya dan juga terhadapnya sebagai objek kita, serupa dengan hukuman mati yang hanya dapat tercipta saat kita dipaksa menerima orang lain beserta tanggung jawab dan kebebasan turunannya akan penilaian/pengadilan diri kita.

Memang seperti yang telah diutarakan sebelumnya bahwa fenomena hukuman mati memang adalah tuntutan akan suatu tata keniscayaan, namun begitu seiring perkembangan adab, diemukanlah beberapa hal yang dianggap mereduksi apa yang seharusnya, dan pada akhirnya memaksa kita merenung kembali tentang kebebasan dan tanggung jawab yang tersirat di dalamnya.

Pada akhirnya semua perenungan dan analis yang dijabarkan dalam pembahasan kali ini mengantar kita menuju sebuah kompromi, kompromi  yang dimaksud disini bukanlah kopromi tawar menawar seperti yang biasa yang kita lakukan di pasar tradisional ataupun “pasar” politik melainkan pemgharusan kembali hukuman mati yang dinilai gagal (hal 6) karena mereduksi terlalu jauh kepada dialog terbuka peradaban, yang tadinya telah mempostulatkannya sebagai sinthesa gerakan peradaban menjadi thesa kembali dan siap berkompromi dengan anti thesa sehingga memunculkan perumusan sinthesa baru seperti yang terwujud dalam pembahasan dan analisis ini, maka sinthesa yang dapat ditarik dari turunan logis pembahasan adalah hukuman mati bukanlah sebuah kelayakan etis kontemporer ini, hukuman mati membebankan tanggung jawab terlampau berat atas nama kebebasan yang belum berwujud dan sebaliknya malah menghilangkan kebebasan yang telah terwujud (dengan mengeksekusi individu terpidana mati). Jadi, hukuman mati tidaklah etis diterapkan pada peradaban kontemporer ini, tidak etis karena dalam level praktis tidak mampu menjamin keberhasilan tujuannya yaitu angka kriminalitas tidak menurun , tidak dapat lepas dari prasangka tendensi balas dendam, dan yang paling fatal adalah menghilangkan kebebasan sang indivdu untuk mempertanggungjawabkan kebebasannya dengan memaksa memberi kematian sebagai pilihan tunggal pertanggung-jawabannya.


[1] Franz Magnis Suseno, 12 tokoh Etika Abad ke-20, Kanisius, 2000,  hlm 87

[2] Hukum yang kita bicarakan tidak selalu dikaitkan dengan hukum positif di zaman kontemporer bisa juga hukum adat, dll, lebih lanjut akan diuraikan pada pembahasan.

[3] Kebebasan dalam artian luas

[4] K. Bertens, Etika, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1993, hlm 98

[5] Tercatat di tahun 2006 sebvanyak 68 negara masih menjalankan hukuman mati

[6] Franz Magnis Suseno, 12 tokoh Etika Abad ke-20, Kanisius, 2000,  hlm 14

[7] Jack Raynolds, Understanding Existensialism, UK,  Acumen Publishing Ltd, hlm 94

Advertisements