Percaya berarti mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata.

Yakin berati tahu atau mengerti dengan sungguh – sungguh.

Percaya merupakan pondasi dari iman. Percaya memiliki fatalisme, karena berpijak semata – mata kepada sedikit nalar dan didominasi oleh latar emosionil, hubungan, ikatan tertentu, dll. Sering disebut juga sebagai “blind faith”. Contoh kasus profokasi beberapa tahun lalu sempat marak: menggerakkan massa & kemudian bertindak anarkis. Dasarnya cuma percaya; bisa karena yang memprovokasi adalah pemimpin yang dikagumi, sanak famili yang mengajak, atau akatan organisasi keagamaan yang dianut. Artinya, percaya ataupun tidak percaya, bisa timbul tanpa didahului pembuktian. Abang ruang lingkup makna “percaya”.

Yakin, memiliki nilai kukuh, jauh lebih mantap daripada percaya. Ada fase analisa dan pembuktian yang mendahului hingga bisa timbul suatu derajat keyakinan. Pembuktian itu sendiri memiliki beberapa metode: analisa logis, perenungan/kontemplasi pd diri sendiri, penghubungan pengalaman, & “test-drive” langsung.

Ehipassiko – datang, lihat, dan buktikan, Ven.Dr. W. Rahula, “What the Buddhis Taught” Buddhadhamma adalah selalu merupakan pertanyaan tentang pengetahuan dan pembuktian; bukan tentang kepercayaan. Ajaran Buddha memenuhi syarat sebagai Ehipassiko, mengundang Anda untuk datang, dan membuktikan, bukannya datang dan percaya. Berkaitan dengan ini berarti prinsip Buddhis bukan ‘Datang dan Percayalah’ akan tetapi ‘Datang dan Buktikanlah atau mari buktikan’. Dari pernyataan di atas jelaslah bahwa ajaran Buddha berkecenderungan beranjak dari pengetahuan atau ilmiah dan bukan berdasarkan kepercayaan yang membuta. Sesungguhnya keyakinan seseorang menjadi kuat apabila sesuatu yang menjadi dasar pengetahuan mereka karena telah membuktikan kebenaran tersebut secara akurat ketimbang hanya percaya pada apa yang tertulis kendatipun itu berasal dari kitab suci yang diyakini.

Maka kita harus yakin dan bukan percaya. Karena yakin berarti sudah berada pada level yang lebih berpondasi kuat dibanding jika kita hanya percaya. Ajaran Budha harus diyakini bukan dipercaya karena dengan meyakini sesuatu berarti kita juga telah percaya dan juga telah menelaah sesuatu tersebut dengan baik tidak sekedar menerima sesuatu tersebut secara apa adanya.

Advertisements