Archive for March, 2010




Membicarakan kebebasan berarti juga akan merujuk pada tema tanggung jawab, sekalipun dalam relasi tatanan yang berbeda – beda, karena berbeda dengan binatang, manusia menghayati hidupnya dalam rumusan adab yang selalu diperbaharui melalaui refleksi akal budi manusia. Setiap kita menyerukan kebebasan berarti secara otomatis kita juga harus memperhitungkan aspek-aspek tanggung jawab yang beredar di sekitarnya, entah sebagai konsekuensi ataupun terlibat dalam sinergi yang memberi pemaknaan, dan seperti pertanyaan dasar Emanuel Lebvinas dengan memiliih sikap bertanggung jawab atasnya ataupun tidak[1].  Dalam sejarah manusia dalam upaya reflektif sekaligus responsif atas munculnya permasalahan kebebasan dan tanggung jawab, muncul pulalah tema hukuman mati sekalipun tidak dimaksudkan penulis sebagai jawaban langsung, melainkan sesuatu yang sesuai pola pikir adab jaman. Namun begitu, permasalahan tentang ketegangan kebebasan dan dan tanggung jawab tidak lantas berakhir, sebaliknya kedua hal tersebut selalu berada dalam ketegangan. Berangkat dari situ pulalah tema hukuman mati sebagai jawaban kembali dipertanyakan, diuji kembali dalam peradaban sejauh mana ia mampu menjamin atau malah merusak tatanan adab sesungguhnya. Kiranya , pembahasan yang akan kita lalui mencoba mencari jawaban dengan refleksi dan analisis dalam dimensi etis.

Hukuman mati   didefinisikan sebagai hukuman kepada seseorang individu yang dinyatakan bersalah saat dihadapkan dengan hukum[2] ,  karena orang tersebut telah melakukan kesalahan yang dianggap mengancam atau bahkan sudah menghilangkan kebebasan manusia lain, dalam prakteknya di Indonesia hukuman mati juga diaktifkan apabila menyinggung UU narkotika, UU anti korupsi, UU terorisme,  dan pada akhirnya dengan berbagai alasan yang nanti akan kita bahas pada bab selanjutnya menjadikan kematian orang tersebut sebagai subtitusi tanggung jawab individu tersebut atas kesalahan yang telah ia lakukan. Namun refleksi adab selalu berjalan dan mengevaluasi, hukuman mati tidak lepas dari refleksi ini. Hukuman mati dengan kekompleksitasan tujuannya dikritik dengan menalarkan kelemahan-kelemahannya yang dinilai gagal menjamin kebebasan[3] namun membebankan tanggung jawab yang terlalu besar pada sang terdakwa hukuman mati, bahkan secara ekstrim dianggap membunuh kebebasan orang yang dihukum demi suatu tujuan yang belum dibuktikan pencapaiannya. Memang apabila membahas hukuman mati kita akan berhadapan dengan berbagai paradigma, namun pembahasan akan kita batasi pada kaitannya dengan konsep dan tanggung jawab, yang juga berarti akan menjadikan etika sebagai atap pemikiran dari analisis pembahasan dan sesuai judul analisis ini kita akan menyimpulkan dan memberi kesimpulan dengan sudut pandang etika. Dimana pada akhir analisis ini kita akan tiba kepada pertanyaan yang menjadi cirri khas etika sebagai ranting filsafat dalam cabang aksiologi yaitu penilaian tentang baik atau tidakah keberadaan hukuman mati atau eitiskah keberadaan hukuman mati dan etiskah penerapannya (dalam kaitannya dengan kebebasan dan tanggung jawab) ?

Hukuman Mati ; Jawaban atas Tuntutan Peradaban

Seperti yang telah diutarakan pada pendahuluan bahwa hukuman mati bukanlah suatu tata niscaya terberi melainkan hasil dari gerakan adab rasional yang mencoba menjawab pertanyaan menyangkut sejauh mana mengeksplorasi kebebasannya dan bagaimana ia harus bertanggung jawab atasnya,  menjadi kompleks karena kebebasan dan tanggung jawab yang menjadi masalah tidak hanya menyangkut relasi dua individu melainkan kepada individu-indidu lain, kepada masa yang akan datang, dan kalau boleh dikatakan kepada seluruh umat manusia yang tidak terbatas pada masa dan ruang saat kini tetapi juga pada masa yang akan dating. Jadi, apa yang kita sebut kebebasan itu kurang lebih juga mnyatakan diri dalam kebebasan fisik, kebebasan yuridis, kebebasan psikiologis, kebebasan moral, kebebasan eksistensial[4] yang pada akhirnya akan bersinergi dengan tanggung jawab.

Ancaman bagi kebebasan dan pentingnya tanggung jawab sudah disadari jauh bahkan sebelum tahun masehi dimulai, karena harus disadari bahwa konsekuensi dari keberadaan kebebasan sang individu mampu tidak sebatas tentang ketegangan  pilihan-pilihan bebas (free choice) yang bisa terkontradiksi antar individu, lebih daripada itu kebebasan mampu menghilangkan sang “empunya” kebebasan atau dengan kata lain bisa saja individu membunuh individu lain dengan memanfaatkan kebebasannya. Gerak peradaban pada zaman itu menuntun penjaminan kebebasan sekaligus tanggung jawab akannya dengan memunculkan hukum tentangnya, hukum yang juga memunculkan posibilitas hukuman mati sebagai turunannya seperti yang tergambarkan dengan cukup baik :”mata ganti mata, tangan ganti tangan”, inilah sinthesis hasil rumusan adab masa itu.

Tentu saja peradaban tidak pernah berhenti dalam usaha menciptakan tatanan yang “baik”, penjelasan lebih rinci tentang pemaknaan serta pergeserannya akan diotelusuri lebih lanjut dalam sub-bab berikut;

Evolusi pemaknaan

Sejatinya kebebasan dan tanggung jawab adalah nilai terbesar dalam hidup manusia, sebagai modus keutamaan dari tiap individu yang membuatnya menyandang eksistensi/keberadaan manusia seutuhnya. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa perdaban perlahan menuju kesadaran akan kebutuhan penjaminan kebebasan.

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, peradaban sebelum masehi sudah mulai merefleksikan tentang kebebasan dan tanggung jawab, dimana kebebasan dipandang perlu dibatasi dan penekanan terhadap tanggung jawab sebagai konstruksi yang kongruen dengannya, pemaknaan tentangnya pun dimulai sebagai akibatnya. Sekalipun begitu, perumusan makna kebebasan tidaklah mudah. Pemunculan humuman mati juga tidak lain merupakan sebuah usaha dalam proses ini, dengan adanya hukuman mati ditujukan guna menjamin kebebasan dan tanggung jawab. Pemaknaan akan hukuman mati pun terus bergulir dan berubah, hukuman mati tidak lagi dimaknaui dalam penekanannya pada pembalasan dendam, agar si pelaku merasakan apa yang dirasakan sang korban dan melainkan oranglain yang mengetahuinya akan terberikan efek “penakutan” dimana ia tidak ingin menghilangkan kebebasan orang lain karena takut akan kehilangan kebebasannya (dihukum mati) sebagai tanggung jawab dirinya dan masyarakat. Inilah sintesa di awal kemunculan hukuman mati, sebuah rumusan yang memuat harapan agar dengannya (hukuman mati) individu akan paham akan kebebasannya lalu menghargai tanggung jawabnya secara mendalam . Pemaknaan nilai yang terkandung dalam pelaksanaan hukuman mati telah bergerak maju, berevolusi mulai sebagai kebebasan untuk memaksakan tanggung jawab kepada orang lain dengan kecendrungan pembalasan dendam menjadi suatu upaya yang menilai bahwa hukuman mati haruslah dimaknai sebagai simbolisasi keinginan individu-individu untuk selalu menghormati kebebasan serta tanggung jawabnya, inilah konsep hukuman mati yang kita hayati selama ini, sebuah sitesa yang telah terafirmasi oleh peradaban yang merindukan kebebasan sambil juga mengusung tanggung jawab.

Transformasi Hukuman Mati Kembali Menjadi Thesa

Sebuah sintesa tidaklah mutlak keberadaannya, dengan kritik komprehensif ia dapat kembali mewujud menjadi sebuah sintesa , kembali menjadi sebuah keraguan yang menjadikan jawaban sebagai tata keniscayaan serta pengharapannya. Begitu pula dalam pencarian kita dalam bahasa kebebasan, tanggung jawab yang dikaitkan dengan tema hukuman mati. Ternyata dalam penelusaran dunia kontemporer ini banyak yang memperdebatkan tentang keberadaan hukuman mati, bahkan dengan lantang menolaknya.

Penolakan hukuman mati biasanya berkutat seputar ketidak mampuan hukuman mati mencapai target keberadaannya, hukuman mati dianggap gagal menjalankan peranannya secara efektif untuk mewujud sebagai simbol tanggung jawab ekstrem yang menjamin sekaligus membatasi kebebasan. Kegagalan ini dicerminkan  dengan cukup sederhana namun menyakup tanpa mereduksi terlalu jauh melalui angka pembunuhan yang terus meningkat sedangkan hukuman mati telah dicanangkan[5] termasuk di Indonesia. Selain itu, tantangan bagi yang mengakibatkan keberadaannya harus kembali menjadi thesa adalah pandangan kritis yang menyatakan bahwa hukuman mati ternyata malah melanggar hakikat keberadaannya, penjaminan kebebasan dan penekanan tanggung jawab. Hukuman mati malah menimbul prasangka telah mereduksi definisi kebebasan dan tanggung jawab secara sangat sempit, sehingga pada akhirnya hukuman mati dinyatakan telah gagal dalam peradaban kontemporer ini.

Antithesa Sebagai Respon Kegagalan

Telah banyak diungkapkan pada bab sebelumya, bahwa ternyata hukuman mati yang tadinya adalah jawaban atas tuntutan jaman telah dianggap gagal. Dalam artian bahwa hukuman mati diragukan bahkan disanggah bahwa keberadaannya sebagai sebuah jawaban yang tepat. Berbagai argument dapat dilontarkan mengenainya, namun dalam pembahsan kali ini cukuplah analisis mengambil sudut pandang etis dalam kaitannya dengan kebebasan dan tanggung jawab. Bagaimana hukuman mati bisa dianggap sebagai sebuah kegagalan juga akan kita rumuskan dalam dimensi etis.

Jebakan Reduktivisme dan Arti Sebenarnya

Melaju lebih kritis tentang keberadaan hukuman mati maka kita akan menemukan suatu kegagalan, kegagalan yang selama ini tertutupi dengan anggapan bahwa seakan-akan efek dari pelaksanaan hukuman mati adalah “baik”, yang oleh Moore dikatakan sebagai kesalahan naturalism etis karena “baik” yang dibicarakan seakan-akan sudah jelas apa yang dimaksud dengannya[6] , kegagalan yang diidentifikasikan pada hukuman mati adalah adanya anggapan bahwa sebenarnya ada ketidaktepatan dalam mengartikan kebebasan dan tanggung jawab yang selama ini diusung sebagai tujuan akhir keberadaan hukuman mati, peradaban telah mereduksinya terlalu jauh dengan utopia sebagai pembenaran.

Apa yang penulis sebut sebagai hasil reduksi yang terlampau jauh adalah mengenai pendefinisian dari  tanggung jawab dan kebebasan itu sendiri, yang mana seakan-akan hanya memperhitungkan dan “membela” sang korban dan bahkan calon-calon korban tanpa melihat lebih jauh dalam tema kebebasan sang terhukum mati dan pada akhirnya  sebagai konsekuensi menimbulkan tangggung jawab yang terlampau berat pada sang terpidana mati. Pertanyaan akhirnya adalah sampai sejauh mana kebebasan asumsi terhadap masa yang akan datang dapat dipertanggung jawabkan karena bukankah biar bagaimanpun asumsi tetaplah asumsi belaka yang rancu akan pemasukan penilaian subjektifitas dan jangan-jangan kita bisa diidentifikasi sebagai peradaban yang menyatakan balas dendam dan bila sudah sampai pada tahap ini bagaimanakah tanggung jawab dapat dipertahankan?

Apa yang telah direduksi oleh pembenaran keberadaan hukuman mati tidak berhenti samppai disini, hukuman mati juga dianggap telah menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang tadinya mau dibela mealaluinya, hukuman  mati mampu menghilangkan kebebasan secara absolute dengan jalan mengirimkan individu yang dianggap bersalah menuju kematian. Konsekuensi logisnya adalah individu itu tidak akan punya kesempatan untuk memperbaiki diri beserta kesalahan yang Ia perbuat, sang terdakwa hukuman mati dengan kata lain dianggap tidak mampu memperbaiki kesalahannya dan kesalahannya sudah terlampau berat. kebebasan dirinya akan dihilangkan sebagai tanggung jawab.

Kesimpulan :

Kompromi Etis Sebagai Jawaban

Menilik lebih jauh apa yang telah kita bahas sebelumnya menampilkan suatu permasalahan dan persebatan atas hukuman mati dan pada akhirnya tentu saja analisi ini akan sia-sia tanpa memberikan jawaban dari runut logis yang telah kita susun sejalan dengan bab per bab tulisan ini tentu saja dengan tetap menetapkan susut pandang etika dalam kaitannya dengan kebebasan dan tanggung jawab dalam menilainya, kini setelah melewati beberapa bab dan sub-bab dalam analisis ini tibalah kita pada klesempatan itu.

Apa yang dapat kita simpulkan adalah bahwa hukuman mati memang dipercaya dapat menekankan kebebasan dan tanggung jawab dalam kaitannya dengan individu yang lain bahkan juga individu yang akan akan mengada di masa depan.  Jadi relasi antara hukuman mati dengan kebebasan dan tanggung jawab adalah saling menegaskan bahwa  individu tak dapat lepas dari keterbatasan kebebasannya akan batasan tanggung jawab yang ditekankan dengan kebebasan orang lain, meminjam pemikiran Sartre kiranya tepat rumusan ini ini dipersingkat dengan menyatakan bahwa  “in the look, we momentary lose our subjectivity and experienced ourselves as the object of another judgement”[7]. Hukuman mati merupakan bentuk dalam ekstrem dalam implikasi  praktis dalam pandangan Sartre tersebut, seorang individu memang memiliki kebebasan namun sekalipun begitu dengan keberadaan orang lain (yang menjadikan kita objeknya) kita dipaksa untuk menerima kehadirannya, lebih dari itu juga merelakan diri bertanggung jawab akan diri kita sebagai objeknya dan juga terhadapnya sebagai objek kita, serupa dengan hukuman mati yang hanya dapat tercipta saat kita dipaksa menerima orang lain beserta tanggung jawab dan kebebasan turunannya akan penilaian/pengadilan diri kita.

Memang seperti yang telah diutarakan sebelumnya bahwa fenomena hukuman mati memang adalah tuntutan akan suatu tata keniscayaan, namun begitu seiring perkembangan adab, diemukanlah beberapa hal yang dianggap mereduksi apa yang seharusnya, dan pada akhirnya memaksa kita merenung kembali tentang kebebasan dan tanggung jawab yang tersirat di dalamnya.

Pada akhirnya semua perenungan dan analis yang dijabarkan dalam pembahasan kali ini mengantar kita menuju sebuah kompromi, kompromi  yang dimaksud disini bukanlah kopromi tawar menawar seperti yang biasa yang kita lakukan di pasar tradisional ataupun “pasar” politik melainkan pemgharusan kembali hukuman mati yang dinilai gagal (hal 6) karena mereduksi terlalu jauh kepada dialog terbuka peradaban, yang tadinya telah mempostulatkannya sebagai sinthesa gerakan peradaban menjadi thesa kembali dan siap berkompromi dengan anti thesa sehingga memunculkan perumusan sinthesa baru seperti yang terwujud dalam pembahasan dan analisis ini, maka sinthesa yang dapat ditarik dari turunan logis pembahasan adalah hukuman mati bukanlah sebuah kelayakan etis kontemporer ini, hukuman mati membebankan tanggung jawab terlampau berat atas nama kebebasan yang belum berwujud dan sebaliknya malah menghilangkan kebebasan yang telah terwujud (dengan mengeksekusi individu terpidana mati). Jadi, hukuman mati tidaklah etis diterapkan pada peradaban kontemporer ini, tidak etis karena dalam level praktis tidak mampu menjamin keberhasilan tujuannya yaitu angka kriminalitas tidak menurun , tidak dapat lepas dari prasangka tendensi balas dendam, dan yang paling fatal adalah menghilangkan kebebasan sang indivdu untuk mempertanggungjawabkan kebebasannya dengan memaksa memberi kematian sebagai pilihan tunggal pertanggung-jawabannya.


[1] Franz Magnis Suseno, 12 tokoh Etika Abad ke-20, Kanisius, 2000,  hlm 87

[2] Hukum yang kita bicarakan tidak selalu dikaitkan dengan hukum positif di zaman kontemporer bisa juga hukum adat, dll, lebih lanjut akan diuraikan pada pembahasan.

[3] Kebebasan dalam artian luas

[4] K. Bertens, Etika, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1993, hlm 98

[5] Tercatat di tahun 2006 sebvanyak 68 negara masih menjalankan hukuman mati

[6] Franz Magnis Suseno, 12 tokoh Etika Abad ke-20, Kanisius, 2000,  hlm 14

[7] Jack Raynolds, Understanding Existensialism, UK,  Acumen Publishing Ltd, hlm 94

Advertisements

Manusia dan Budaya


Kebudayaan adalah system makna yang terkandung dalam berbagai hasil karya manusia.“ Manusia adalah hewan yang belum terbentuk ” (Nietzsche). Manusia harus mempunyai kemampuan untuk membangun sendiri dunianya karena manusia ialah mahkluk cultural, bukan mahkluk natural yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan (alam) secara naluriah.

Alam tidak dapat memenuhi kebutuhan manusia yang kompleks. Maka, manusia perlu bekerja untuk menghumanisasikan alam. Maksudnya, membuat alam menjadi bagian dari kehidupan manusia dengan mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna. “ kerja memungkinkan manusia mendapatkan kepemilikan ” (Thomas Aquinas). “ kerja menunjukkan adanya distansi antara subjek spiritual dan objek material “ (Hegel). “ kerja dapat menjadi destruktif terhadap kebebasan manusia “ (Marx). Walaupun kerja dapat mebebaskan manusia, kerja juga dapat mengalienasi manusia dengan berbagai cara : aspek perasaan beban yang mendominasi, system pekerjaan itu sendiri, depersonalisasi dalam system kerja kolektif. Manusia bekerja untuk menguniversalkan manusia dan membantu manusia menemukan kesosialannya.

Relasi manusia dan alam merupakan relasi yang diperantarakan sejak teknologi ditemukan. Maka, terjadilah peralihan system kerja.

MANUSIA-PRODUKSI
MANUSIA-MESIN
MANUSIA-PRODUKSI

Hubungan antara manusia memberi makna dalam realitas ekonomis dilihat dalam berbagai aspek :

  • Pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Juga mengandung nilai etis karena tidak hanya dibatasi dalam hitungan fisik.
  • Esensi perwujudan manusia sebagai subyek. System ekonomi itu menentukan tersedia atau tidaknya lapangan kerja.
  • Persaudaraan dalam komunitas manusia. System ekonomi dapat menghambat ataupun menumbuhkan.
  • Kekuasaan. Penguasaan system-sistem ekonomi dapat menjadi kunci kekuasaan aspek lain.

Aspek – aspek kebudayaan :

  • Hubungan kebudayaan dan manusia à manusia mengikuti pola budaya yang ada dalam konteks sosiokultural, bukan oleh aspek biologis.
  • Kebudayaan itu sendiri dihasilkan, didukung, dan di teruskan oleh manusia
  • Kebudayaan merupakan kesepakatan bersama untuk digunakan sebagai norma dalam hidup, jadi kebudayaan digunakan sebagai kerangka pembentuk yang mengorganisir kehidupan.
  • Pengaruh kebudayaan dapat atau tidak disadari.
  • Kebudayaan memberikan unsur penting dalam realitas : pandangan hidup, alam pikiranà mempolakan pikiran dan mempengaruhi tindakan.

Pandangan hidup ialah sebagai penata konseptualisasi dalam berbagai struktur. Serta aplikasinya.

  • Struktur social, ekonomi, politik, pendidikan à pola sosila, organisasi.
  • Struktur linguistic à tutur bahasa
  • Struktur kepercayaan à penerapan nilai – nila religi
  • Struktur teknologi à penerapan kemahiran teknologi

Fungsi pandangan hidup :

  • Penjelasan mengenai suatu realitas
  • Evaluasional
  • Penguatan psikologis
  • Integrasi

Kebudayaan sebagai objek dari subjek tentu menghasilkan anekaragam budaya lain.Terdapat pula dominasi serta konfrontasi. Dapat dibedakan lapis budaya yang saling berinteraksi :

  • Teknologi
  • Etos
  • Inti

UNSUR – UNSUR KEBUDAYAAN

Kebudayaan sebagai penciptaan dan perkembangan nilai yang meliputi segala yang ada dalam fisik, personal dan social, disempurnakan untuk realiasasi tenaga manusia dalam masyarakat. Sehingga, kebudayaan bersifat dinamis, bukan statis. Karena dalam aplikasinya, manusia melanjutkan usaha membudaya dengan lebih sempurna.

  • Kebudayaan subjektif. Terdapat dalam perkembangan kebenaran, kebajikan dan keindahan. Diaplikasikan dalam : kesehatan jasmani, keceerdasan budi, ketrampilan.
  • Kebudayaan objektif. Disebut juga hasil kebudayaan. Disistematiskan menurut beberapa prinsip pembagian :
    • Ilmu pengetahuan à perkembangan ilmu pengetahuan harus mengikuti dinamika moral dan kebijaksanaan.
    • Teknologi à penciptaannya harus dijiwai kasih sayang yang universal, aplikasinya digunakan untuk memanfaatkan alam guna memenuhi kebutuhan manusia.
    • Kesosialan à dibedakan secara konseptual : statis dan dinamis
    • Ekonomi à primer, sekunder, tersier.
    • Kesenian à nilai rasa keindahan.
    • Agama à merupakan jawab manusia kepada panggilan tuhan di dalam alam dan rahmat.

Meditasi

Meditasi mungkin didefinisikan sebagai memikirkan terus menerus atas sesuatu atau tentang sesuatu. Sedikit banyak, oleh karena itu siapapun yang memikirkan terus menerus atas sesuatu mungkin dapat dikatakan terlibat dengan suatu meditasi. Jika kita ingin menjadi sesuatu, kita harus meditasi terhadap keinginan tersebut dan tidak ada yang lainnya lagi. Oleh karena itu jika tujuan kita adalah mencapai kenyataan atau menginginkan hasil yang dicapai menjadi satu dengan yang Paling Besar, maka obyek dari meditasi haruslah yang Paling Besar tersebut dan tidak ada lainnya lagi.

Meditasi adalah suatu proses. Ini adalah suatu proses dimana kita menjalankannya guna mencapai sebuah tujuan yang ingin dicapai, yaitu suatu tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya atau sudah dikodratkan. Meditasi adalah sebuah pelatihan yang menggunakan pikiran untuk tujuan mengatur pikiran dengan usaha kita. Meditasi adalah aktivitas yang paling penting, kalau kita intin membuat disiplin diri kita sendiri. Karena pada awalnya hal ini akan memungkinkan terjadinya disiplin mental, kemudian hal ini akan memungkinkan terjadinya disiplin fisik, mengatur kehidupan kita, memberi ketentraman di dalamnya, menghasilkan disiplin mental yang lebih besar dan lebih besar, menghasilkan dukungan terhadap dirimu sendiri, semacam perputaran yang menopang diri kita untuk membuat tujuan kita dapat dicapai. Oleh karena itu tanpa sedikit kedisiplinan tujuan tidak dapat dicapai. Jadi suatu tujuan memungkinkan untuk dicapai selama kita mempunyai kedisiplinan di dalam diri kita.

Jika tidak ada disiplin mental, disiplin fisik tidak dapat terjadi. Itulah mengapa kita meditasi. Untuk memperoleh pengaturan terhadap pikiran, membuatnya menjadi disiplin, membuatnya memungkinkan bagi kita untuk menggunakan pikiran kemanapun kita memilihnya, menggunakan pikiran, tidak menggunakan pikiran, menggunakan pikiran – dengan demikian mencapai 100 % kekuatan pikiran.

Membaca kemudian berpikir secara mendalam termasuk meditasi

Karena :

  • membaca kemudian memikirkan terus menerus atas sesuatu atau tentang sesuatu sama halnya dengan ketika melakukan meditasi.
  • Meditasi adalah suatu proses. Membaca kemudian berpikir secara mendalam juga termasuk sebuah proses.
  • Meditasi adalah sebuah pelatihan yang menggunakan pikiran untuk tujuan mengatur pikiran dengan usaha kita. Ketika kita membaca, kemudian kita berpikir secara mendalam mengenai hal tersebut, kita menggunakan pikiran kita dan berusaha mengatur pikiran kita untuk mengerti dan memahami serta terkadang mengkritik apa yang kita baca tersebut.
  • Membaca kemudian berpikir secara mendalam juga termasuk dalam kekuatan pikiran. Sama seperti ketika bermeditasi.

Maka, pantaslah jika dikatakan membaca kemudian berpikir secara mendalam termasuk dalam meditasi. Karena, meditasi bukan berarti hanya diam dan memerhatikan nafas, yoga, dll. Tapi, meditasi juga termasuk dalam kegiatan kegiatan positif lain yang menggunakan fokus pikiran dan hati.  Karena dalam bermeditasi, dapat digunakan berbagai objek untuk mendukung kegiatan  bermeditasi.


Tiga akar kejahatan

Akar kejahatan keserakahan (lobha), akar kejahatan kebencian (dosa), dan akar kejahatan kebodohan batin (moha).
Lobha adalah kemelekatan yang sangat terhadap sesuatu sehingga membuat pikiran selalu merasa lapar, serakah serta tidak puas dengan apa yang telah dimiliki.
Dosa adalah penolakan yang sangat terhadap sesuatu sehingga membuat pikiran selalu emosi, kesal dan penuh dengan kebencian.
Moha adalah kebodohan batin, yaitu tidak dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik.
Dari ketiga akar kejahatan inilah seseorang berbuat jahat.
Lobha
Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk sesuatu. Ini adalah hal yang wajar. Tetapi keinginan akan satu hal yang terus menerus dan ingin lebih dan lebih inilah Lobha.Sebagai contoh: karena kemelekatan yang sangat terhadap kehidupan mewah, seseorang menginginkan kehidupan yang lebih mewah lagi, maka timbullah keserakahan dan agar keinginannya untuk hidup lebih mewah lagi tercapai, ia melakukan berbagai cara termasuk melakukan tindakan kejahatan.

Untuk mencegah timbulnya Lobha dalam diri, maka perlu:
– Menggunakan Sati (perhatian,kewaspadaan, kesadaran).
– Berusaha untuk tidak selalu menuruti keinginan.
–           Merenungkan untung dan rugi dengan menggunakan Panna (kebijaksanaa).
–           Membangkitkan Hiri (malu berbuat jahat) dan Ottapa (takut berbuat jahat).
–           Mengembangkan Dhamma yang berlawanan dengan Lobha, seperti berdana.
(Ajitamanavasa, Solasa panha)

Dosa
Pikiran untuk menyakiti, merusak, menghilangkan, mengingkirkan, memusnahkan sesuatu karena adanya rasa tidak suka yang sangat atau benci terhadap sesuatu tersebut, inilah Dosa.
Dosa ini dapat diibaratkan dengan sebuah titik api yang menyala, dan bila tidak segera dipadamkan maka akan menjadi kobaran api yang lebih besar, sehingga dapat merusak segalanya, dalam hal ini merusak pemikiran, kesehatan fisik dan mental, bahkan dapat membuat seseorang menjadi pembunuh.
Sebagai contoh: karena tidak menyukai seekor lalat, terjadi penolakan yang sangat dan timbul kebencian terhadap lalat tersebut, seseorang menginginkan lalat tersebut tersebut musnah, hilang, menyingkir dari hadapannya, menyakiti, merusak, maka ia melakukan berbagai cara untuk memusnahkan, menghilangkan, menyingkirkannya termasuk dengan melakukan tindakan kejahatan berupa pembunuhan.
Untuk menghindari timbulnya Dosa dalam diri, maka diperlukan menjalankan Panca Sila (Lima Sila)

Moha
Kebodohan batin atau kegelapan batin, yaitu tidak dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik, tidak dapat menembus arti dari empat kebenaran Arya, Hukum Tilakkhana, Hukum Paticcasamuppada, Hukum Kamma.
Jika diibaratkan, Moha seperti kegelapan yang membuat seseorang tidak dapat berbuat-apa-apa bahkan hanya dapat berbuat kesalahan.
Sebagai contoh: karena tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk seseorang melakuan pencurian terhadap seorang hartawan untuk dibagian kepada kaum miskin. Ia menganggap mencuri hanya dari orang kaya adalah hal yang baik dan sah-sah saja sehingga ia melakukan pencurian tanpa merasa bersalah.
Untuk mencegah timbulnya Moha dalam diri, maka cara terbaik adalah mengembangkan Panna (kebijaksanaan). Panna (kebijaksanaan dapat dicapai dengan berbagai macam cara, seperti banyak membaca, belajar, dan mendengar.

Panca Khanda
Jika kita menganalisa, makhluk hidup khususnya manusia terdiri dari 2 bagian utama, yaitu:

1. Jasmani atau disebut Rupa.
2. Batin atau disebut Nama.

Jasmani dan batin ini terdiri dari Lima Kelompok Kehidupan atau Panca Khandha.
Panca Khandha (Pali) atau Panca Skandha (Sanskerta) berasal dari kata ”panca” dan ”khandha”. Panca berarti lima dan khandha berarti kelompok/kumpulan. Jadi panca khandha berarti lima kelompok pembentuk kehidupan.
Guru Buddha dalam Satta Sutta; Radha Samyutta; Samyutta Nikaya 23.2 {S 3.189} menjelaskan:
”Radha, napsu keinginan, kegemaran, atau kehausan apapun terhadap rupa, viññana, sañña, sankhära, vedanä. Ketika sesuatu terperangkap di sana, terikat di sana, maka sesuatu itu disebut sebagai makhluk hidup.”
Jadi, apa yang disebut sebagai makhluk hidup termasuk manusia, dalam pandangan Buddha Dhamma adalah hanya merupakan perpaduan dari Panca Khandha yang saling bekerja sama secara erat satu sama yang lain. Tidak ditemukan suatu atma/atta atau roh yang kekal dan abadi.

Panca Khandha terdiri dari:

1. Rupa = Bentuk, tubuh, badan jasmani.
2. Viññana = Kesadaran.
3. Sañña = Pencerapan.
4. Sankhära = Pikiran, bentuk-bentuk mental
5. Vedanä = Perasaan.

Rupa digolongkan sebagai Rupa (kaya) atau jasmani, sesuatu yang berbentuk dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki berikut hal-hal lainnya yang ada dalam tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal, pernapasan, suara, suhu tubuh, dan sebagainya. Rupa atau jasmani ini juga merupakan perpaduan dari 5 unsur, yaitu : unsur padat (pathavi dhatu), unsur cair (apo dhatu), unsur api/panas (tejo dhatu), unsur angin/gerak (vayo dhatu), dan unsur udara/oksigen (akasa dhatu).
Viññana, Sañña, Sankhära, Vedanä digolongkan sebagai Nama (citta) atau batin, sesuatu yang berada dalam jasmani dan tidak dapat dilihat. Di bawah ini merupakan penjelasan atas Viññana, Sañña, Sankhära, Vedanä sekaligus proses batin secara berurutan yang terjadi ketika jasmani kita melakuan kontak dengan sesuatu.
Viññana
Viññana berarti kesadaran atau juga disebut dengan citta. Keberadaannya dapat kita analisa ketika kita menyadari bahwa bathin kita telah menangka

suatu rangsangan ketika anggota tubuh kita berhubungan dengan sesuatu, misalnya:

– terjadi kontak antara mata dengan suatu bentuk.
– terjadi kontak antara jasmani dengan sentuhan.
– terjadi kontak antara telinga dengan suara.
– terjadi kontak antara hidung dengan bau-bauan.
– terjadi kontak antara pikiran dengan situasi.

Sañña
Sañña berarti pencerapan. Keberadaannya dapat kita analisa ketika batin kita mencerap atau menerima ataupun mengenal rangsangan-rangsangan yang terjadi pada tubuh kita melalui suatu bagian dari otak kita.Sankhära
Sankhära berarti bentuk-bentuk pikiran. Keberadaannya dapat kita analisa ketika rangsangan pada tubuh yang telah disadari dan dicerap akan dibanding-bandingkan dengan pengalaman kita yang dulu-dulu melalui gambaran-gambaran pikiran yang tersimpan dalam batin kita, yang pernah kita lihat, dengar, sentuh dan lain-lain.

Vedanä
Vedanä berarti perasaan. Keberadaannya dapat kita analisa ketika kita telah membanding-bandingan rangsangan kemudian timbul perasaan senang (suka) atau tidak senang (tidak suka), bahagia maupun menderita, dan perasaan netral.

Secara singkat, proses batin yang terjadi ketika tubuh kita menerima rangsangan sebagai berikut:
Kesadaran => Pencerapan => Pikiran => Perasaan
(proses batin ini terjadi secara cepat)
Karena makhluk hidup khususnya manusia merupakan perpaduan dari berbagai unsur atau kelompok kehidupan (khandha), maka sesuai dengan hukum Tiga Corak Kehidupan (Tilakkhana), maka makhluk hidup apapun juga memiliki sifat tidak kekal (anicca), bukan diri sejati (anatta), dan dapat menimbulkan penderitaan (dukkha).


Percaya berarti mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata.

Yakin berati tahu atau mengerti dengan sungguh – sungguh.

Percaya merupakan pondasi dari iman. Percaya memiliki fatalisme, karena berpijak semata – mata kepada sedikit nalar dan didominasi oleh latar emosionil, hubungan, ikatan tertentu, dll. Sering disebut juga sebagai “blind faith”. Contoh kasus profokasi beberapa tahun lalu sempat marak: menggerakkan massa & kemudian bertindak anarkis. Dasarnya cuma percaya; bisa karena yang memprovokasi adalah pemimpin yang dikagumi, sanak famili yang mengajak, atau akatan organisasi keagamaan yang dianut. Artinya, percaya ataupun tidak percaya, bisa timbul tanpa didahului pembuktian. Abang ruang lingkup makna “percaya”.

Yakin, memiliki nilai kukuh, jauh lebih mantap daripada percaya. Ada fase analisa dan pembuktian yang mendahului hingga bisa timbul suatu derajat keyakinan. Pembuktian itu sendiri memiliki beberapa metode: analisa logis, perenungan/kontemplasi pd diri sendiri, penghubungan pengalaman, & “test-drive” langsung.

Ehipassiko – datang, lihat, dan buktikan, Ven.Dr. W. Rahula, “What the Buddhis Taught” Buddhadhamma adalah selalu merupakan pertanyaan tentang pengetahuan dan pembuktian; bukan tentang kepercayaan. Ajaran Buddha memenuhi syarat sebagai Ehipassiko, mengundang Anda untuk datang, dan membuktikan, bukannya datang dan percaya. Berkaitan dengan ini berarti prinsip Buddhis bukan ‘Datang dan Percayalah’ akan tetapi ‘Datang dan Buktikanlah atau mari buktikan’. Dari pernyataan di atas jelaslah bahwa ajaran Buddha berkecenderungan beranjak dari pengetahuan atau ilmiah dan bukan berdasarkan kepercayaan yang membuta. Sesungguhnya keyakinan seseorang menjadi kuat apabila sesuatu yang menjadi dasar pengetahuan mereka karena telah membuktikan kebenaran tersebut secara akurat ketimbang hanya percaya pada apa yang tertulis kendatipun itu berasal dari kitab suci yang diyakini.

Maka kita harus yakin dan bukan percaya. Karena yakin berarti sudah berada pada level yang lebih berpondasi kuat dibanding jika kita hanya percaya. Ajaran Budha harus diyakini bukan dipercaya karena dengan meyakini sesuatu berarti kita juga telah percaya dan juga telah menelaah sesuatu tersebut dengan baik tidak sekedar menerima sesuatu tersebut secara apa adanya.